Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Januari 2014

What Zen Thinks about New Story Magazine Issue? (Rant)

Belakangan ini saya melihat banyak sekali komentar negatif tentang story yang baru. Wajah baru Story benar-benar kontroversi dikalangan fans, tapi tidak untuk kalangan pembaca majalah remaja pada umumnya.  Mari kita bicarakan itu sekarang...

Story adalah sebuah majalah cerpen terbesar di Indonesia. You have to admit that's true.  Mungkin banyak yang akan menyebut Story adalah majalah yang memang diperuntukkan para penulis seperti saya.  Saya pribadi punya tiga karya yang pernah diterbitkan di Story dan saya adalah langganan setia story, saya memilikinya dari yang pertama sampai edisi... entahlah saya tidak ingat. Soalnya saya berhenti beli story sekitar setengah tahun lalu.

Bukan karena saya tidak suka story lagi, cuma lapak majalah langganan saya yang satu-satunya menjual story, tidak kebagian story lagi dan itulah yang jadi masalah.

Jika kalian tidak tahu Story, kalian bisa membaca review penuh saya soal Story yang saya sukai di sini.

Story yang lama selalu pakai model artis-artis Indonesia yang di close up.  If you read my review, you should already know that.  Tapi, story yang terbaru berwajah baru dan benar-benar mengubah Story menjadi majalah mainstream yang kau bisa temukan dimana-mana.  there's nothing Special about new story anymore.

Sumber dari Wergu Wergiasih

Story tidak lagi memakai model-model dari artis Indonesia tapi sekarang mulai ke Korea.  Ini benar-benar menghilangkan ciri Story yang Menghanyutkan.  Wait!  ini bahkan menggantinya menjadi Cheer Up. Story complety Change right now.  Ini jelas benar-benar mengundang kesedihan, amarah, juga kekesalan para storylovers.  Walau terjadi pro dan kontra. As I see, most of em is Kontra.

Contoh paling sederhananya kalian bisa baca di sini.

Saya di sini bukan ikut-ikutan artikel itu yang uneg-uneg soal kekecewaannya saja.  Saya tahu Mbak Erin. Saya pernah bertemu dengan beliau langsung, aku tahu Mbak Erin melihat Story yang dia bina sekarang berubah begini, I know she cry out there.

So, here... Saya mau sampaikan uneg-uneg beberapa alternatif untuk Story agar tidak kehilangan penggemarnya seorang penulis-penulis yang masih berharap karyanya mejeng di Majalah tersebut. So Here we go.

Saat membaca artikel uneg-uneg kekesalan Storylovers di atas.  Saya berpikir kalau menejemen baru story lagi banyak memakai iklan-iklan K-pop culture.  Jika dipikir-pikir maka seharusnya income story sekarang lagi lumayan tinggi.  Mengesampingkan kekecewaan yang terjadi dari para penggemar.

Maka alternatif yang saya mau utarakan dan sarankan adalah adanya dua sesi untuk Story. Story yang versi cetak di sana fokus pada fashion-fashion, K-pop culture dan beberapa cerpen.  Kemudian Story juga menerbitkan versi Online yang fokus ke cerpen-cerpen.  Aku tahu ini mungkin ini bisa jadi sesuatu yang berat di jalankan. Tapi inilah saran yang terpikirkan di kepala saya.

Ada majalah lain yang melakukan demikian.  Menerbitkan majalah yang isinya konten-konten yang lagi banyak disukai oleh masyarakat. Sementara di Online mereka menyediakan konten yang lebih khusus, biasanya yang konten berbau dewasa.

Story, bisa ambil jalan ini untuk tetap menjadi Majalah Teenlit yang dicintai oleh penulis-penulis yang berusaha mendapatkan kepercayaan diri di luar sana.  Jadi Majalah-majalah yang terbit secara cetak fokus ke hal-hal yang sudah menjadi mainstream sekarang. Jika membeli itu, tersedia kupon khusus. Jika menulis nomor kupon itu ke sebuah website khusus. Maka mereka bisa melihat majalah Story versi online yang penuh konten dunia penulisan yang mereka sayangi.

Mungkin sebaiknya yang di versi Online, tidak untuk didownload untung menghindari pengopian massal. Jadi saat membacanya harus Online.  Terkesan sangat menyebalkan, tapi sebagai seorang yang masih mencintai Story, kita juga mesti berkorban.

Tapi bagaimana baiknya, Nanti Pihak redaktur Story bisa pikirkan dan mempertimbangkan saran saya ini.  Jujur saja, saya lakukan ini karena saya masih sayang sama Majalah ini.  Saya masih ingat saat pertama kali iklan menayangkan Majalah Story yang memang menghanyutkan. Satu-satunya Majalah yang saya koleksi sekian banyak dan jadi aktivitas bulananku untuk menggarapnya hingga habis.

Jadi, aku tahu kalian kecewa, aku tahu kalian kesal dengan New Story Magazine.  Maka dari itu, mari kita dinginkan kepala, jangan sampai tragedi Anita Cemerlang terulang kembali. Percayalah pihak Story tidak mau ini juga terjadi.  Jika kalian mendengar yang terjadi sama acara Hitam Putih, maka kejadian yang terjadi sama Story yang baru ini dan semoga ga berakhir sama dengan acara tersebut.

Mari kita dukung sama-sama agar Story bisa menemukan jalan terbaik untuk tetap eksis dan tetap dicintai oleh Storylovers...

Salam Kreatif, salam sastra dari Penggemarmu.


Zen Horakti.

Senin, 25 Maret 2013

What Zen Thinks about Story Teenlit Magazine?

Dulu Anita Cemerlang adalah salah satu majalah yang terkenal sebagai majalah cerpen Indonesia.  Begitu banyak penulis.  Namun, secara mengejutkan Anita Cemerlang menghilang.  Begitu lama orang mendambakan sebuah majalah yang seperti Anita Cemerlang.  Dan tahun 2009 doa itu terkabulkan dengan kemunculan Story Teenlit Magazine.


Story punya style dimana covernya selalu cewek yang difoto close up dan menampilkan Judul Cerita Utama, dan beberapa judul lain, juga wawancara dengan sang penulis terkenal seperti Zara Zettira di covernya.  Hal tersebut wajar karena untuk menarik minat pembaca.

Pertama kali saya tahu Story juga dari iklan yang ditayangkan di Indosiar.  Saya langsung begitu bahagia.  Saya selalu berharap adanya majalah yang bisa menampilkan cerpen-cerpen yang bisa membuatku belajar dari para penulis lain.  Lebih dari itu, Story juga membuka kesempatan bagi siapa saja untuk masuk ke dalamnya. 

Story sendiri terdiri dari beberapa Cerpen, Novelet, Cerbung, Sains fiksi, Horor, Fantasi, Fiksi Mini, Puisi, Liputan sekolah, komik, wawancara dengan penulis dan ilustrator, banyak sekali fitur yang ada.  Bahkan Story pun yang bisa membuat artis menulis cerpen.  Sudah banyak artis, penyanyi, dan bintang iklan mengisi story dengan cerpennya. 

Story sendiri punya ketentuan bahwa semua cerita yang masuk ke majalah tersebut haruslah teenlit. Bahkan sudah ditegaskan di cover bahwa Story adalah Teenlit Magazine.  Namun, Story mengajarkan bahwa Teenlit not just about romance.  No! Teenlit penuh variasi.  Dari genre, konflik, persahabatan, kekeluargaan.  Banyak sekali, bahkan teror dan misteri.  So, jangan persempit pikiranmu soal teenlit. Oke :3

Story pun tidak cuma menggaet penulis.  Story juga terbuka untuk para ilustrator.  Mereka menerima ilustrasi-ilustrasi selain menerima karya sastra.  Bahkan di grup story, mereka adakan hari khusus dimana ilustrator menunjukkan karyanya.  That's so great.



Ditambah lagi ada bagian cerita dari negeri seberang yang diperuntukkan oleh orang-orang yang suka menulis cerita dalam Bahasa Inggris.  Lebih dari itu, bahkan menyediakan untuk orang yang suka menerjemahkan untuk menerjemah cerpen tersebut dan tampil di dua edisi berikutnya.  That's so awesome.

Komik pun juga bisa diisi siapa saja. Yang mencoba untuk memberikan komik pendek.  Awalnya memang story punya langganan komikus untuk membuat komik untuk mereka.  Tapi, sekarang sudah begitu variatif komikus yang mengisi lembar akhir story.

Story pun tetap tidak ketinggalan.  Walau majalah ini penuh cerpen, beberapa bagian diselipkan untuk mode, juga beberapa tips-tips untuk perawatan kulit. Macam-macam, juga ada isi tentang curhat-curhat penulis tentang masalah kesulitan mereka semasa menulis, begitu banyak fitur dalam satu majalah ini.

Edisi pertama Story, tidak punya N-Label.  Label yang biasanya ditaruh di bagian samping buku yang membuat kita tahu walau hanya melihatnya saat tersusun di lemari.  Namun, edisi-edisi berikutnya sudah punay N-Label.  Itu keputusan yang amat benar.

Mengingat betapa banyaknya isi dari Story ini, rasanya 18 ribu itu adalah harga yang amat terjangkau.  Bahkan tergolong murah.  Saya mengoleksi dari edisi pertama sampai edisi sekarang. Terhitung 43 edisi.  Yah, walau saya sempat ketinggalan dua edisi, namun saya akan pesan lagi nanti. Hehe.

Sekarang beberapa yang saya agak keluhkan di Majalah kesayangan saya ini.  Well, walau majalah ini adalah majalah nasional yang sudah punya fanbase yang begitu besar.  Story juga punya beberapa hal yang mungkin perlu ditanggulangi.

Kadang di majalah ini terdapat Typo di cerpen, di judulnya, bahkan di nama sang penulis.  Saya pernah dituliskan tinggal di Banjarmasin sementara saya tinggalnya di Balikpapan.  Typo is okay, saya pernah dengar bahwa Story bisa menerima lebih dari 10 ribu naskah perminggunya.  Whaw, itu sangat banyak dan... itulah sebabnya jika ingin mengirim karya ke Story, bersabarlah.  No, jangan bersabar. Nulis lagi karyamu yang lain dan kirim lagi. Kalau bisa jangan cuma Story kirim banyak-banyak ke semua majalah yang ada.  :v

Karena beitu banyaknya naskah yang masuk ke Story, mari kita maklumi betapa lamanya konfirmasi yang akan diberikan story untuk naskah yang diterima.  Dalam satu edisi ada sekitar 20 karya yang diterbitkan di Story, sementara naskah begitu banyak.  Rata-rata konfirmasi naskah akan diberikan sekitar 12-15 bulan.  Whaw, lama sekali.  Ya, jadi jangan pernah berharap mendapat waktu terbit cepat di majalah ini jika tidak direkues langsung dari majalah tersebut atau membaca even yang akan terjadi kedepannya dan membuat cerpen yang berhubungan dengan event tersebut.  Contoh, jika nanti ada event Lebaran, maka tiga bulan sebelum hari itu. Kirimlah cerpen terbaik ke Story.  Maka ada kemungkinan lebih cepat untuk terbit.

Selain itu, saya berharap setiap ilustrator yang muncul di Story ditulis kreditnya.  Karena, beberapa tanda tangan yang ada di ilustrasi tidak terbaca.  Membuat saya bingung siapa ilustratornya.  Jadi saya harap ada credit yang menunjukkan nama Ilustrator.

Story pun beberapa kali kecolongan dengan cerpen plagiat dan cerpen yang pernah terbit di majalah lain.  Mengingat Story cukup ketat pengawasannya.  Jadi setiap cerpen yang ada di Story haruslah cerpen yang tidak pernah dipublikasikan di mana pun.  Baik secara cetak maupun online.  Tidak boleh pernah masuk di Blog, tidak boleh pernah diterbitkan di majalah lain. No!  Namun, para pembaca Story tidaklah buta.  Setiap menemukan hal seperti ini, pasti Story dapat pemberitahuan dari pembacanya lewat inbox.

Untuk Feedback. Story punya Inbox dan komen cerpen.  Di mana para pembaca memberikan masukan, saran dan unek-unek lain.  Juga komen terhadap cerpen di edisi sebelumnya dan tentunya mendapatkan hadiah. 

Sang Chief Editor adalah Reni Erina.  Seorang penulis yang cerpennya sudah dimana-mana. Walau saya jujur saja, kalau saya baru tahu nama beliau karena dia adalah Chief editor di majalah ini.  Beliau adalah seorang editor yang terkenal ramah. Dia bagaikan sahabat, senior, dan juga sabar menghadapi para pembacanya dan juga orang-orang yang bertanya padanya soal tulis menulis.  Saya baru saja mereview novelnya yang berjudul Maurin.

Sebagai seorang Chief Editor yang menentukan mana cerpen yang terbaik untuk masuk ke majalah yang diasuhnya.  Reni Erina memang seorang yang tepat. Dia seorang yang punya sense of teenlit yang tinggi dan tahu yang manakah yang teenlit dan mana yang tidak.

Saya sempat mengeluh tentang perubahan style dari cover story.  Bahkan tampak seperti Majalah lain.  Biasanya seperti ini.


Menjadi...

Syukurnya Story kembali ke gaya aslinya di edisi terbaru di edisi 43.  Lebih kerennya di sana ada cerpenku... :3


Well, that Story Teenlit Magazine for you.  Jika kalian tertarik dan berharap ada terus bacaan baru tiap bulan.  Story bisa jadi pilihan.  Selalu ada konten yang baru. Bisa menggambar? Kirim karyamu! bisa nulis? kirim karyamu! Bisa Berpuisi? Kirim karyamu. 

I hope you enjoy.

Sampai ketemu saat saya memikirkan sesuatu yang lain lagi.

Sorry, no Final Verdict for this one.  I just want to tell you what is Story Magazine about.