Senin, 02 November 2015

How Much Bullshit on Internet? #3

Sorry lama ga posting nih. Habis Wisuda.. Wo hooo...

Sekarang tanpa harus menunggu lama, mari kita lihat lagi omong kosong di Internet...


Hana : Bukankah bulan purnama itu sangat indah.  Bagaimana kalau kita fokus pada purnama itu kita Back to Nature dan menikmati bulan purnama yang indah.



Minggu, 27 September 2015

How Much Bullshit on Internet? #2

Well, sudah saatnya untuk melihat lagi betapa luar biasanya internet kita.

Seberapa banyak Omong kosong di Internet...



Kamis, 17 September 2015

How Much Bullshit on Internet? (Seberapa banyak omong kosong di Internet?) #1

Berapa lama saya hiatus?  Well, skripsi bisa membuat semua orang jadi tidak produktif, bukan?

Kali ini, saya kembali dan saya tidak sendiri.  Saya akan bersama asisten saya Hana untuk memposting kali ini.

Saya membuat sebuah entry baru untuk blog ini, saya usahakan seminggu sekali akan posting hal-hal konyol di Internet terutama di Negara Tercinta Kita, Indonesia.  Segala hal bisa jadi bahan tertawaan bahkan membuat kita menepuk jidat sampe tembus.

Postingan ini berkonten sarkastik, jadi bacalah dengan mindset tersebut.

Mari kita langsung mulai saja...

Apa di sini ada yang suka monster musume?  Saya termasuk yang suka, walau full fanservice, saya tetap menikmatinya... becasuse... "reason"


Sabtu, 23 Mei 2015

What Zen Thinks about Fast and Furious 7, Naruto : The Last, Avenger : Age of Ultron?

For Paul...



James Wan mengambil film dan karena masalah meninggalnya Paul Walker membuat dia agak keteteran sebenarnya. Tapi, mari kita lihat film ini secara utuh.

FnF 7 menceritakan kelanjutan dari FnF 6 sepenuhnya, karena Statham di sini adalah saudara dari Villain di film sebelumnya yang membalas dendam.  Dia terkenal dengan sebutan sebagai hantu yang bisa menghilang-hilang dan sulit dilacak, karena itu tim Vin Diesel membutuhkan sebuah software bernama God Eye... kalau ga salah untuk melacak si Statham.

Bagi saya, Car Chase dari seri FnF harus dilihat sebagai Car Chase di anime, karena begitu banyak adegan dimana kejadian itu, tidak mungkin membuat si Diesel selamat, tapi dia tidak apa-apa... 

Saya sama sekali tidak bisa menerima dengan akal sehat, tapi dengan anime logic... well, saya perlu matikan logika di otak ini kayaknya.

Walau demikian, saya menikmati apa yang disajikan oleh FnF 7, salah satu alasan kuat saya menonton ini karena adanya Tony Jaa dan Ronda Rousey. Ronda berperan cukup baik di Expendable dan kita sudah tahu bagaimana Tony Jaa berperan di film-filmnya... aku cukup pump up melihat mereka di film ini.

Sayangnya, saya agak kecewa dengan kemunculan Ronda Rousey yang dibuat hanya seperti Cameo Villain, pertarungannya sejenak dan tidak menunjukkan bahwa Ronda adalah musuh yang tangguh.  Sementara Tony Jaa diperlakukan sama seperti Joe Taslim di film sebelumnya.

Pertarungan disyuting dengan cukup baik, adegan kejar-kejarannya terlalu berlebihan menurutku.

Humor khas FnF masih terasa di sini...

Namun, kekecewaan terbesar yang aku rasakan dari film ini adalah minimnya kemunculan Hobs alias The Rock.  Entah karena apa, tapi kemunculan The Rock di sini amat minim, hanya di awal dan di akhir.  Setidaknya The Rock memberikan Rock Bottom pada Statham.

Statham sebagai Villain di sini saya rasa hanya sebagai plot convenient. Dia hanya muncul saat plot membutuhkan dan menghilang setelahnya.  Kadang, aku bingung walau dia dideskripsikan sebagai 'hantu' tapi tidak dengan seperti ini juga.  Saya jadi tidak merasa feeling yang seharusnya saya rasakan dari villain ini.



Dia membalaskan dendam karena Diesel dkk menyakiti adiknya. Tapi... apa yang menyebabkan dirinya sampai segitunya? Aku mau merasakan alasannya secara penuh, Seberapa penting si adik bagi si Statham?  



Well, FnF emang seri Action yang sudah terlalu banyak sebenarnya sekarang bahkan sudah siap dibuat yang ke delapan.  Tapi, setiap kali menonton film ini aku tetap berharap bahwa mereka bisa membawanya lebih baik.  FnF 5 dan 6 masih favoritku.

Fast and Furious 7 You can enjoy if your brains OFF.


Naruto : The Last


Ketika Naruto menjadi film romance-action.  Naruto The Last mengambil setting waktu beberapa tahun setelah perang besar Shinobi.  Naruto menjadi seorang bintang, ratusan fangirl selalu datang padanya dan itu semakin membuat Hinata kian sulit mendekati Naruto. Satu-satunya harapan Hinata adalah memberikan scarf merah seperti yang ada di poster yang menjadi simbolik cinta Naruto dan Hinata.

Intinya ada orang yang mau tabrakkan bulan ke Bumi dan itu ada hubungannya dengan si Hinata harus kawin paksa dengan si penghuni bulan karena Byakugan miliknya. Well, ini menjelaskan secara unik asal usul Byakuggan.

Intinya dalam sekian waktu, bulan akan jatuh ke bumi dan di dalam misi itu terdeveloplah romansa antara Naruto dan Hinata.

Bagi saya Naruto The Last tidak ada spesialnya sama sekali selain ini adalah closure dari romansa antara Hinata dan Naruto. Karakter utama di film ini adalah Hinata bukan Naruto karena plot bergerak bersama Hinata...

Salah satu yang bikin kesal fans Sasuke di sini adalah si Sasuke muncul layaknya Cameo Stan Lee di film marvel.



Saya tidak punya begitu masalah dengan romance-nya, tapi bagi saya Masashi Kishimoto atau siapapun yang menulis untuk film ini masih belum bisa membentuk romance dengan baik.  Saya sudah meraskan besarnya cinta Hinata pada Naruto sejak awal dia muncul.  Tapi, ketiba-tibaan rasa cinta Naruto ke Hinatalah yang agak merusak feeling.

Gimana Naruto membalas cintanya ke Hinata rada Deus Ex Machina dan tidak dilakukan dengan baik.  Villain-nya sendiri yang bernama Toneri terasa develop, walau dia tetap terasa berbahaya. Dia juga berusaha memberi yang terbaik.

Beberapa plot pun dibuka, seperti alasan kenapa Naruto mengejar-ngejar Sakura dari awal, alasan kemunculan Byakugan sisanya tidak ada yang begitu spesial.  Pertarungan-pertarungannya lumayan bagus dan Kakashi sebagai Hokage juga lumayan menurut saya. 

Naruto : The Last is Good for Time Wasting.  Tapi untuk naruto fans, Worth Watching.



Avenger : Age of Ultron.


Avenger kembali dan musuhnya kali ini Robot Tony Stark bernama Ultron.  Ultron adalah AI yang diciptakan oleh Tony Stark dan Bruce Banner... intinya jika Tony Stark menjadi Villain maka seperti itulah Ultron.

Cerita Avenger kali ini tidak membawa sesuatu yang begitu berbeda, arah ceritanya sama seperti di Avenger pertama, dengan lebih banyak superhero tapi akhir pertarungannya bisa dibilang tidak jauh beda dengan di Avenger pertama.

Saya ga bisa memberikan terlalu banyak kritik sama film Avenger ini, namun saya harus kasihkan jempol dengan hint-hint kecil yang terjadi di dalam film ini untuk set-up sekuel-sekuelnya.  

Adik saya memberitahu atas kemunculan Ultraman di film ini. (bagi yang sudah nonton mungkin tahu siapa yang kami sebutkan) membuat saya merasa lucu tapi paham sih siapa yang dia maksud.  Action di film ini memang memukau, tapi masih mayoritas CGI-gasm.

Karakternya lebih baik dan lebih banyak.  Beberapa hal yang agak mengejutkan bagi saya adalah Quicksilver di film ini ternyata cukup menarik, walau awalnya saya agak ragu karena si aktor Aaron Taylor mengecewakan di Godzilla, tapi di sini dia cukup menarik.  (baru sadar dia itu Kickass).

Saya juga senang dengan selipan Romance yang terjadi di film ini walau ada hint kecil di film-film sebelumnya soal romance ini.  Kejutan dari Hawkeye.

Tapi, Marvel tetaplah Marvel.  Dia berikan film yang menghibur, tapi arah ceritanya dan polanya masih tidak jauh-jauh berbeda satu dengan yang lain.  

Walau begitu masih pantas untuk ditonton.

Avenger : Age of Ultron is Worth Watch.

Selasa, 14 April 2015

What Zen Thinks about Suikoden I (Games)

Kalian tahu berapa lama saya mau review game ini?  Well, saya harus bilang sangat-sangat lama. tapi baru kemarin saya bisa tamatkan dalam waktu tiga hari.

Inilah dia, my very first RPG, Genso Suikoden.


Suikoden adalah RPG pertama yang saya mainkan dengan tidak sengaja.  Saya dulu meminjamnya dari sepupu dan ternyata saya mulai ketagihan memainkannya.  Bermodal Bahasa Inggris yang pas-pasan, Suikoden membuat saya belajar bahasa Inggris lebih giat.  Terutama saat tidak tahu harus kemana.

Suikoden adalah RPG Classic yang sampai sekarang tetap tidak pernah bisa tergantikan.

Game ini bercerita tentang Tir McDohl (Hero) seorang anak jendral Imperial Army terkenal Teo McDohl yang memulai pekerjaannya di Gregminster.  Dia bersama sahabat lamanya, Ted, pengasuhnya Gremio, Cleo dan Pahn menjalankan misi-misi sederhana.  Namun, pelan-pelan Tir melihat bahwa Imperial Army tidak bersikap baik.  Dimulai dari saat melihat anak-anak yang dipukuli oleh tentara hanya karena alasan sepele.

Kejadian ini membawa Tir dan teman-temannya dalam masalah hingga membuat Tir harus menentukan Takdirnya sendiri.

Seperti tagline dari game-nya, "Is fate unchangeable?"

Suikoden menggambil sistem turn based combat system seperti layaknya mayoritas JRPG. Kita bisa membawa enam orang termasuk hero (Tir).


Kita bisa memilih Attack dan Defense.  Item untuk memakai Item, Rune sebagai skill attack/magic attack. Tapi, yang paling saya suka dari game ini adalah Unite Attack.  Seperti layaknya Chrono Trigger,  Dimana 2 karakter atau lebih bisa menggabungkan serangan mereka untuk mengalahkan lawan.  Kadang harus dibayar dengan dimana karakter akan mengalami unbalance state dalam beberapa waktu.

Rune sendiri di game ini lebih bebas karena kita bisa menentukan mayoritas karakter rune apa yang harus mereka miliki, kecuali untuk beberapa karakter yang sudah lengket rune-nya.

Grafik Suikoden I memang tidak begitu impresif tapi setidaknya tampak unik dan penuh warna untuk sprite karakternya.  Tapi, untuk background dan tileset masih tidak terlalu bagus dan masih terkesan kasar.

Beberapa masalah yang saya harus sebut adalah tidak bisanya karakter kita untuk lari.  Entah Konami tidak membuat animasi sprite untuk lari (at least untuk karakter utama) dan menggantinya dengan harus ada Holy Rune di party.  Jujur saja, ini benar-benar kendala hingga akhirnya saya harus memasang Stallion kemanapun pergi.  Setidaknya syukur kita punya Fast Travel nanti.


Sesuatu yang paling spesial dari Suikoden series (dimulai dari sini) adalah recruitment system dimana kita bisa mempunyai 108 rekrutmen di kastil.  Jika kalian baru pertama kali tahu Suikoden pasti terkejut karena sekian banyak karakter yang bisa dimainkan.  Yups, emang sangat mengagumkan.

Di Suikoden I mayoritas karakter adalah playable, namun ada beberapa karakter yang aku rasa juga tidak perlu jadi Playable, seperti Sansuke, Sergei, juga Antonio.  Mereka sebaiknya hanya jadi NPC saja.  Problem ini diperbaiki di Suikoden II.

Sesuatu yang paling spesial dari Suikoden I adalah karakter-karakter dan ceritanya.  Cerita Suikoden I bukanlah tentang menyelamatkan dunia, tapi tentang menghentikan perang.  Dimana Hero membentuk sebuah Army demi mengalahkan Imperial dan membuka satu per satu tabir rahasia.


Game ini penuh dengan karisma dan juga emosional karakter, walau ada 100 lebih karakter, mereka semuanya punya kepribadian bahkan back story, walau tidak dijelaskan secara penuh, namun bisa kita rasakan dalam dialog karakter.  Saya berharap di game ini ada semacam Private Action seperti Star Ocean dimana ada kejadian-kejadian unik di dalam kastil yang membuat karakter kita lebih paham background story karakter lain dan lagi-lagi ini diperbaiki di Suikoden II.

Waktu menamatkan game ini tidak terlalu lama dan mayoritas rekrutmen sederhena untuk diajak bergabung. Mayoritas cukup dengan bicara dengannya saja, dan beberapa yang lain membutuhkan sedikit usaha.

Tidak lupa musik-musik karya Miki Higashino AMAZING music.  Musik-musik dari Suikoden sangatlah memorable.  Favoritku masih Tiny Character in Huge World dan original Suikoden Theme Into a World of Illusion sangat saya favoritkan dan menjadi salah satu musik paling saya sering dengar di HP.


Dengan mechanic flaws yang saya sebut di atas.

That's Why Suikoden I is Worth Your Time terutama jika kalian fokus pada story-nya.


Sekarang untuk SPOILER REVIEW!

Jadi jika kalian belum pernah main sebaiknya segera tinggalkan review ini atau kalian tidak peduli kena spoiler.

Suikoden membawa cerita dimana Tir dan teman-temannya pelan-pelan melihat kalau Imperial mulai bertindak jahat, korupsi dimana-mana, dan menindas kaum lemah.  Tir dan teman-temannya pun sadar mereka sudah jadi buronan setelah kejadian Ted yang diincar-incar oleh Windy seorang penyihir jahat.

Bagi saya, saat saat dimana Tir menentukan takdirnya sebagai pemimpin Liberation Army adalah hal yang tidak mudah, apa lagi harus melawan Ayahnya sendiri kelak.  Apa lagi Rune yang dimiliki Tir adalah Rune of Life and Death atau Soul Eater adalah Rune yang diincar Windy untuk membuat kekacauan.

Untuk memperkuat Soul Eater, Rune ini akan memakan jiwa-jiwa orang terdekat si karakter utama.  Itu termasuk Odessa, Gremio si pengasuh Tir, Teo ayahnya sendiri dan Ted sahabat terdekatnya.  Aku masih sangat ingat bagaimana kematian Gremio sangat membuatku syok dan benar-benar tidak tahan untuk membunuh Milich.

Walau akhirnya aku tidak dapat 108 karakter, tapi saat itu aku puas sekali.  Kematian Gremio adalah yang paling bikin aku sedih dan bahkan... sampai menangis saat itu.  Apa lagi dia karakter paling penyayang sejak awal game, Gremio biasa aku panggil Kenshin Himura btw.

Well, terima kasih sudah membaca review ini, karena skripsi saya jadi kurang produktif...

Sampai jumpa sampai saya memikirkan sesuatu yang lain...

Minggu, 18 Januari 2015

What Zen Thinks about Touhou Koumajou Densetsu, Touhou Mother and Wandering Souls ? (Fan Games)

Touhou sebuah franchise yang sudah sangat terkenal terutama di Jepang. Sebuah game Bullet Hell dengan karakter-karakter yang mayoritas cewek baku tembak dengan sihir-sihir dan di akhir cerita semuanya berpesta dan minum teh bersama.

Tapi, saya tidak akan review the official game dari ZUN, tapi saya review adalah fan games yang menurut saya lebih menarik, dan game Bullet Hell is not my cup of tea.

1. Koumajou Densetsu atau lebih terkenal dengan sebutan Touhouvania.


Koumajou Densetsu punya dua seri, seri pertama kita memakai Reimu dan Seri kedua memakai Sakuya.  Saya tidak akan terlalu menjelaskan sistem gameplay-nya karena benar-benar seperti castlevania Dracula X Chronicle. Di game kamu bisa pilih map, power up, dan juga assist yang merupakan karakter-karakter dari Touhou.

Minggu, 11 Januari 2015

What Zen Thinks about Kitaria Heroes : FB, Redhead Redemption and INheritage : BoE

Seperti yang saya bilang kalau saya akan review game Android kali ini dan tidak cuma satu tapi tiga games sekaligus.  Tiga game ini semuanya buatan Indonesia dan semua Free to Play. So, mari kita liat tiga game ini dimulai dari Kitaria Heroes : Force Bender.


1. Kitaria Heroes : Force Bender

Game kolaborasi dari Enthrean Guardian dan Hinocyber. Sebuah game beat'em up dengan RPG.  Game ini mengisahkan tentang Elena Minwell, seorang gadis swordwoman dan seorang magician yang melakukan sebuah perjalanan untuk mencari penyihir. Sepanjang jalan, dia melawan monster-monster.

Game ini sangat simpel, sebab hanya fokus pada membunuh musuh yang ada dan kalah kan boss di setiap lokasi.  Gamenya sederhana hanya side scroller beat'em up seperti Double Dragon. Musuh yang mati akan meninggalkan koin untuk membeli upgrade dan juga memberikan EXP points untuk level up.

Level Up di sini adalah untuk meningkat HP dan MP serta Requirement untuk membeli jurus-jurus.  Jurus-jurus, Item, equipment bisa dibeli di shop dan dipasang di antarmuka shortcut.

Untuk grafis, game ini standar anime style, dengan monster-monster imut yang sebenarnya bikin saya tidak tega juga bunuh-bunuhin, magic efek tampak lumayan, dan gerakan gerakan Elena fokus dalam kombo yang sudah ditetapkan. Sayangnya saja kombo ini kadang-kadang membingungkan, kadang bisa saya eksekusi sampai selesai, kadang Elena berhenti tiba-tiba dan tidak melanjutkan kombo tersebut.

Monster memiliki variasi, namun gamenya cukup repetitif.

Skill-skill cukup bagus dianimasikan, namun yang bikin agak mengganggu adalah hit detection. Kadang-kadang ini hit dan miss. Saya jadi sering kerepotan menentukan pukulan ke lawan, dan kadang lawan lebih mudah mengenai Elena tapi tidak sebaliknya. Ini agak sulit dijelaskan.


Beberapa saran untuk developer adalah membuat progressing story. Saya suka game simpel seperti ini, namun setiap berpindah tempat atau berpindah segmen saya tidak merasakan sebuah progresi. Sedikit cutscene kecil setiap selesai melawan boss di tiap segmen akan amat membantu, setidaknya membuat gamer relate sama karakter, dan juga membentuk karakter itu sendiri. Alasan mereka dari satu tempat ke tempat lain tersebut. Itu membuat gamer merasa ada progresi dari perjalanannya.

Game ini gratis dan bisa ditamatkan tanpa bayaran apapun, tapi ada tiga skill yang hanya bisa terbuka jika kalian belanja setidaknya sekali saja membeli koin. :D

This game is Worth Your Time.
 2. Redhead Redemption (Bukan Red Dead Redemption)



Game ini adalah kolaborasi dari 9gag dan Touchten. Simple game with simple lore but with bizarre heroes.  Game ini adalah sebuah game Wacky dengan tema Zombie Apocalypse/  Ceritanya adalah seorang gadis berambut merah May dan adiknya George yang menghadapi Zombie Apocalypse dan harus berlari mencari kedua orang tua mereka. Sepanjang jalan mereka harus menghadapi Zombie yang berusaha untuk melumat habis mereka.  Untuk mempertahankan diri, May harus berlari sementara adiknya menembaki Zombie yang ada di belakang mereka.

Apa lagi yang kau butuhkan, ada bayi yang tembakin Zombie... dengan SHOTGUN!

Mekaniknya simpel, kau hanya perlu memilih memakai tap atau efek miring dari androidmu untuk menggerakan May sementara si George menembaki Zombie secara otomatis di punggung May. Kau bisa memakai item, dan mendapat bantuan dari Gaggy the cat.

That's another Thing, Cat with Gun!

Saya harus kasih applause untuk Touchten yang bisa bekerja sama dengan 9gag. Siapa yang tidak kenal 9gag, jika kalian di FB seharusnya kenal dengan 9gag. Apapun yang diposting oleh 9gag akan jadi viral dan tentu saja game ini langsung jadi populer.

Ah, sampe mana tadi. Ah Cat with GUN!

Zombie di game ini pun bervariasi, ada tipe menembak, ada tipe runner, ada charger, ada projectile, juga ada yang speed.

Setiap segmen punya musik masing-masing dan juga zombie masing-masing. Tidak terlalu berbeda, mereka punya tipe, tapi mereka tidak recycling asset yang terdahulu.


Boss-nya pun asik.

Saya suka dengan feeling progression dari game ini, setiap selesai segmen, gamer merasakan bahwa perjalanan May dan George semakin maju.  Bagaimana mereka bertemu boss dan alasan mereka sampai ke tempat-tempat yang harus mereka hadapi.

Ini salah satu game free to play favoritku.  Setiap item bisa kau dapatkan asal kau bersabar dan terus memainkan game ini setiap hari, maka bonus akan memberikanmu diamond hingga bisa beli semua item premium,

Uang di game ini, awalnya memang agak berguna, tapi pelan-pelan menjadi hal yang ga perlu.  Saya jadinya menghimpun ratusan ribu uang dan tidak ada gunanya karena semua item biasa sudah saya beli semua.

Game ini punya banyak potensi, sebab walau cerita berakhir, Zombie Apocalypse belum selesai. masih banyak yang bisa dijelajahi. Saya tunggu update atau sequelnya :D

Saya main game ini berkali-kali, because You Want Through This Again! 

3. INheritage : Boundary of Existence



Game ini sudah saya nanti-nantikan masuk ke Android. Sudah lama berseliweran di iOS akhirnya INheritage, karya Tinker Games akhirnya masuk ke Android dan Free to Play! WHAATT?


Game dengan 230-an MB lebih, dengan grafik halus dan HD, full voice acting, creative design character and monster, menantang dan kuat. Bagaimana bisa game INheritage diberi free oleh Tinker Games?

Satu ketika saat memainkan game ini, saya sangat tertarik dan langsung memainkannya. Well, aku mati... saya dapat satu continue. Saya main lanjutkan sampai di segmen kedua saya mati dan.. game over... and... saya ulang dari awal.

Whaw! That's torture! Bagaimana bisa saya mainkan 5 segmen dengan 2 stages di setiap segmen bullet hell hanya dengan 1 continue. How?

Tentu saja dengan membeli salah satu item. 10 Continue atau unlimited continue. Ahhh, I see... if you not hardcore expert then you can see this game just a demo! Jika kau game kasual kayak saya, yang lebih mentingin story daripada tantangan, maka game ini tidak bisa saya mainin kecuali saya beli Unlimited continue.

Premis dari cerita ini adalah seorang gadis bernama Nala yang tewas akibat dibunuh oleh monster bernama Genderuwo. Namun, dia kembali dihidupkan sebagai seseorang yang baru, yaitu sebagai seorang Arca. Pelindung akar Kalpataru yang bertugas untuk menutup retakan dimana monster-monster keluar... BANDUNG RIM!

ah... maaf. Suatu ketika, terjadi sesuatu dimana akar dari kalpataru mulai menghilang dan inilah tugas Nala untuk menghentikan the evil plan from someone.

Gameplay dari INheritage adalah bullet hell. Jika kalian tahu Touhou, maka tidak perlu saya jelaskan lebih banyak tentang gameplay-nya. Nala punya asisten yang disebut Rakyans, kamu harus menavigasi Nala agar tidak terkena tembakan dari musuh.


Menavigasi Nala dengan sliding jarimu di layar. Ini bisa jadi masalah, sebab pastinya jarimu itu menutup bagian dari layar dan bisa saja di balik jarimu ada peluru datang dan menyakiti Nala. Saya pun menggunakan taktik dengan menaruh jariku di belakang Nala agar saya bisa melihat jika ada peluru yang mendekat. Tiap kali terkena peluru, Nala akan berteriak semacam, "Aku tidak akan menyerah!" dan tebasan-tebasan di layar muncul menghabisi musuh di layar, jika dia hanya musuh lemah.  Setiap musuh kecil yang dibunuh akan mengeluarkan energi yang bisa dikumpulkan, dalam jumlah tertentu akan mengisi HP Nala.

Boss Fight di game ini amat epik, seperti Touhou, setiap boss punya segmennya masing-masing/ Setiap segmen dipresentasikan satu life bar. Setiap satu life bar dari boss habis, dia akan mengubah tipe serangan dan dihadapi dengan strategi baru.

Nala bisa menggunakan special skill untuk melambatkan waktu dan melakukan serangan special tergantung pilihannya yang bisa kalian custom sesuai kehendak. walau tidak begitu banyak pilihan, setidaknya menambak variasi.


Special Attack pun dianimasikan dengan keren dan ditambah dengan teriakan dari Nala saat mengeksekusinya membuat pemain merasa powerful.


Animasi dan desain game ini memang sudah tidak perlu diragukan lagi. Sangat memuaskan dan enak dipandang.  Desain karakter, monster-monster yang diambil dari monster dan hantu Indonesia seperti Pocong, Sundel Bolong dan semacamnya.

Voice acting di game ini kadang hit dan miss. Bagi saya pengisi suara dari si Macan Putih kurang pas saya dengar. Rasanya juga kurang emosional, suara Nala sendiri sudah lumayan walau kadang-kadang masih ada yang miss terutama saat dia berteriak dalam marah. Bedanya teriak dalam marah dan teriak dalam mengeluarkan kekuatan itu berbeda.

Namun, sebenarnya bagi saya yang paling menarik dari game ini adalah story-nya. Setiap stage punya story yang membawa Nala ke dalam cerita yang seru.  Mengenalkan sistem dunia dari INheritage itu sendiri, tentang budaya dan juga legenda-legenda yang dibentuk oleh imajinasi developer. Saya suka ceritanya walau twist-nya saya sudah liat dari jauh sebelumnya, formula yang digunakan tidaklah baru, kalian pun saya yakin tahu formula cerita yang mereka gunakan.  Gamenya ada 5 segmen saja, tidak terlalu lama dan bisa ditamatkan dalam waktu singkat jika kalian punya Unlimited Continue.

Setiap mati, score akan berkurang, so ini adalah yang jadi efek dari kematian karakter kalian walau punya unlimited continue.

Musik dari game ini sangat keren dan terdengar epik. Cocok dengan theme yang diambil dan juga feeling di dalam gameplay.

Satu masalah dari game ini, saya mencoba mendapatkan senjata terakhir yang katanya disuruh untuk mengalahkan Asri menggunakan Rawaja sebagai Rakyan dan dikalahkan dalam kesulitan normal ke atas tanpa menggunakan Special Attack. Saya lakukan ini tiga kali dan saya tidak kunjung bisa unlock senjata ini.

Tolong, Tinker segera perbaiki atau kasih tahu apa yang salah dari yang saya lakukan.

INheritage bukanlah game yang benar-benar untuk saya, tapi saya masih enjoy memainkannya terutama story-nya. Saya sangat besar melihat kemungkinan sekuelnya kelak. This game is Worth Your Time!

Terima kasih sudah membaca review ini pastikan kalian coba tiga game di atas jika kalian punya Android. Dukung game Indonesia :D Sampai jumpa hingga saya memikirkan sesuatu yang lain lagi.

Selasa, 30 Desember 2014

What Zen Thinks about Winterflame? (Novel)

Saya sudah lama tahu novel ini akan terbit... Bahkan sejak dua tahun lalu. Saya sudah menunggu agar novel ini terbit dan akhirnya terbit saatnya untuk review Winterflame...

WinTerFlame... WTF :D



Winterflame adalah novel ketiga dari Fachrul Razi satu-satunya novelis Vandaria yang saya follow dan saya rasa penulis vandaria paling produktif dari yang lain.

Zen Best Movie 2014 The Raid 2 : Berandal

Well, saya rasa kalian sudah tahu kalau saya memilih ini.  So, saya tidak review ini saat keluar kemarin, karena saya rasa sudah banyak yang review.

Tapi, karena saya tidak menemukan film yang lebih enjoyable to revisit then this. Maka saya buat sebuah pengecualian untuk The Raid 2.





The Raid 2film ketiga dari Gareth Evans juga film ketiga yang dibintangi oleh Iko Uwais dan Yayan Ruhian.

Film ini adalah 2 tahun kelanjutan dari The Raid.  Kolaborasi Indonesia, Jepang dan sutradara dari Wales menyatu dalam satu film ini menjadi laga epik tahun ini dan membuat Hollywood mulai mempelajari kembali untuk membuat film laga lebih baik.  Capt. America 2 Winter Soldier belajar dari The Raid untuk membuat adegan laganya.

Cerita ini berlanjut dimana Rama diperintahkan untuk melakukan undercover mafia di bawah Bangun.  Di sinilah cerita dimana drama, aksi, crime thriller dimulai.

Banyak hal spesial di film ini, chemistry antara Ucok dan Rama sendiri membuat para Fujo screamin dan going apeshit...

Iko Uwais sebagai Rama menunjukkan peningkatan kemampuan akting di film ini dari dua film sebelumnya,  Ucok di sini adalah yang paling mencuri perhatian penonton karena karakter dirinya sebagai seorang yang melewati Ambisi dan Batasan.

Jujur saja, daripada Berandal, saya lebih memilih film ini berjudul Ambition and Limitation atau Ambisi dan batasan. Sebab itulah fokusnya, cerita dimana menunjukkan semua orang punya ambisi, tapi sadar diri bahwa ada batasan dimana kita tidak bisa lewati atau kita kena akibatnya.


Film ini amat komikal, bloody dan penuh dengan kekerasan yang seharusnya kita sudah duga sejak awal.  Selain menjadi tonggak membangun dunia crime Indonesia-Jepang, film ini juga menyajikan sebuah cerita yang menarik, terasa seperti God Father tapi lebih fokus ke dalam aksinya.

Laga di film ini sangat menarik untuk ditonton berulang-ulang kali, saya saja menontonnya 3 kali di bioskop dan berniat mencari DVD originalnya, bersama Edge of Tomorrow dan Guardian of The Galaxy.

Setiap karakter di film ini mengisi role-nya dengan baik. Walau banyak sekali karakter sampingan, agak membuat film ini jadi terlalu banyak karakter, tapi saya tidak masalah dengan itu.

Film ini sangat bersinar dengan menghadirkan tiga kickass villain yaitu Hammer Girl, The Assassin dan Baseball Bat Boy.  Tiga villain ini menunjukkan koreografi yang luar biasa dan semua adegan laga yang mereka tampilkan amat hebat.

The Assassin sebenarnya yang menurut saya paling menarik, dia tidak mengeluarkan satupun dialog di dalam cerita, oke... si Hammer Girl juga begitu tapi karena dia bisu.  The Assassin sama sekali tidak ada interaksi, dia hanya jadi total kickass villain.

Adegan kejar-kejaran di film ini bisa dibilang salah satu adegan yang terbaik.  Dimana mereka bisa menyajikan laga di luar dan di dalam mobil.


Walau begitu banyak yang membuat saya menikmati film ini, saya tetap sadar bahwa film ini banyak flaw-nya.

Beberapa adegan di film ini tidak masuk akal... uhuk... *salju* uhuk...

Ada saat karakter membuat sebuah mayat dengan batu, tapi tidak tenggelam. Ada pacing yang sangat lambat di bagian tengah tapi bagi saya tetap enjoyable. Ada polisi yang bertindak anarkis tiba-tiba... dan lain-lainnya. *masih nunggu Cinemasins buat sins untuk The Raid 2.

Saya sangat suka dimana film ini membuat para penonton sampai bertepuk tangan.  Yah, kita semua tepuk tangan di bioskop terutama di final fight antara Rama dan Assassin.


Ketika lihat ini di trailer saya yakin kalian semua sudah berharap aksi laga yang luar biasa dan itu tidak mengecewakan. Adegan pertarungan di final fight ini menjadi sangat sering dipilih sebagai best action scene.

Walau dengan flaw-nya, The Raid 2 tetap menjadi film favorit saya tahun ini. Semoga tahun depan film lebih keren dan saya tidak sabar untuk The Raid 3 yang sudah di setup sangat sangat baik di sini.

Tentu saja The Raid 2 is.. Amazepic.


Terima kasih sudah membaca top 10 movie tahun ini.

Saya masih menunggu Whiplash, Nightcrawler dan Birdman keluar di Indonesia. Semoga segera keluar.

Sampai jumpa untuk review selanjutnya untuk...

Winterflame.

Sabtu, 27 Desember 2014

End Year Special Top 10 (Zen) Best Movie 2014 (Part 3)

Akhirnya ujian laporan selesai... Huuuuaaahhhhhhh

Sekarang kita lanjutkan ke top 10 list-nya.

Nomor 4


"Aurelio."
"Yes, Sir."
"I heard you strike my son."
"Yes, Sir. I did."
"Can I ask you why?"
"He... steal John Wick's Car... and Killed his dog."
"...Oh..."

Jumat, 26 Desember 2014

End Year Special Top 10 (Zen) Best Movie 2014 (Part 2)

Well, mungkin saya emang pemalas. Karena hal begini saja saya split jadi 4 part?

Whew, peduli amat.

Let's get started.

Kamis, 25 Desember 2014

End Year Special Top 10 (Zen) Best Movie 2014 (part 1)

Halo semuanya, maaf atas lamanya saya tidak ada posting apapun belakangan ini. (PLP benar-benar minta perhatian super berlebihan Desember ini.

So, tahun ini jelas banyak sekali film-film keren. Karena itu ini tahun pertama saya membuat top 10 list untuk Zen Best Movie.  Ingat satu hal, ini adalah film-film yang saya tonton di tahun ini.  Jika kalian tanya dimana Interstellar, How To Train Your Dragon 2 atau 22 Jump Street tidak ada di sini, karena saya tidak menontonnya.

Saya akan bagi ini jadi 4 part. Setiap part akan mereview tiga movie dan Part terakhir akan saya sisihkan sendiri untuk best movie of the year yang saya bakal review lebih dalam lagi.  So, Here is my top 10 list best movie 2014 part 1.

Sabtu, 20 Desember 2014

What Khi-Khi Kiara Thinks about Revolt of Gumiho?

Setelah lama tidak posting, maaf karena laporan ini benar-benar menyita seluruh perhatianku.  Iyank alias Khi-khi Kiara mengisi kekosongan ini dengan review-nya yaitu Revolt of Gumiho. Enjoy...



Di review kali ini, saya akan membahas drama Korea, atau lebih populer dengan sebutan K-drama.
Umumnya dari segi cerita, K-drama tidak jauh berbeda dengan sinetron Indonesia. Setting rumah mewah, pasangan Si Kaya dan Si Miskin, cinta segitiga, bullying, dan sebagainya. Namun K-drama punya kelebihan, yaitu pendalaman psikologis yang mendalam di tiap karakternya.

Dari sekian banyak judul K-drama yang saya tonton, saya ingin mengulas salah satu yang sukses membuat saya kagum.
Grudge : The Revolt of Gumiho (Gumiho, Yeo-woo Nuidyeon / Tale of the Nine-Tailed Fox Child) adalah sebuah serial drama Korea dengan 16 episode, ditulis oleh Oh Sun-hyeong dan Jung Do-yeon serta disutradarai oleh Lee Gun-joon dan Lee Jae-sang, lalu disiarkan perdana di KBS pada tanggal 5 Juli 2010. Serial TV yang mengambil tema Horror, Thriller/Suspense, Angst/Tragedy, Supernatural, Gore, Romance dan Family ini dibintangi oleh sejumlah aktor dan aktris bertalenta, seperti Han Eun-jung, ditambah dua aktris cilik yaitu Kim Yoo-jeong dan Seo Shin-ae.

Sinopsis

            Pada dinasti Joseon, seorang wanita bernama Gu San-daek tinggal bersama suami dan putrinya, Yeon-yi, di sebuah pemukiman terpencil. Tapi setelah sang suami bunuh diri, karena penyesalannya setelah melanggar janji istrinya, Gu San dan Yeon-yi harus merantau, berkelana di hutan belantara untuk bertahan hidup. Sudah berkali-kali mereka terluka parah karena serangan hewan liar, sampai akhirnya mereka dibawa ke sebuah pondok perumahan milik Tuan Yoon Doo-soo karena tuduhan pencurian. Tuan Yoon terpikat dengan Gu San. Itu menimbulkan reaksi pada seluruh penghuni perumahan, terutama istri Tuan Yoon, Nyonya Yang.
            Gu San dan Yeon-yi diizinkan untuk tinggal di rumah keluarga Yoon, setelah mereka terbukti mampu menyembuhkan putri Tuan Yoon, Cho-ok, yang menderita penyakit parah dan misterius. Yeon-yi senang tinggal di sana, disayangi oleh Tuan Yoon yang sudah seperti ayahnya sendiri, dan menjalin hubungan dengan Tuan muda Jo Jung-kyu, putra hakim Jo. Tapi lambat laun, dia dan Ibunya merasa tidak tenang dan terancam. Mereka mengalami tekanan, seperti Nona Cho-ok yang menindas Yeon-yi karena cemburu asmara, Nyonya Yang dan selir Kye-hyang yang menyudutkan Gu San, dan yang paling berbahaya : Rencana rahasia Tuan Yoon.
            Menurut seorang Shaman (dukun) bernama Man-shin, penyakit Cho-ok hanya akan benar-benar pulih bila disembuhkan dengan hati (liver) anak manusia yang seumuran dengannya. Berdasarkan syarat-syarat yang ditentukan, Yeon-yi lah gadis yang tepat untuk dijadikan pengorbanan sebagai obat Cho-ok. Mau tidak mau, Tuan Yoon menyiapkan ritual demi lancarnya upacara pengorbanan itu. Nyonya Yang juga setuju, apalagi saat itu Cho-ok kembali sekarat.
            Sementara itu, Yeon-yi mulai menyadari bahwa dirinya adalah Gumiho, siluman rubah ekor sembilan. Meski begitu, dia belum tahu tentang jati diri Ibunya yang juga seekor Gumiho.
            Rencana Tuan Yoon mulai terkuak. Hakim Jo, Gu San, dan seorang pria misterius yang menyukai Gu San, berusaha menggagalkannya, namun terlambat. Yeon-yi berhasil dibunuh.
            Apakah pembalasan dendam Gu San atas kematian putrinya akan terwujud? Apa identitasnya sebagai Gumiho akan terbongkar? Siapa Man-shin sebenarnya? Apa Yeon-yi akan bangkit kembali? Lalu bagaimana akhir riwayat keluarga Yoon?

Ulasan

            Hampir semua tema dalam serial ini adalah favorit saya, khususnya Mother-child Relationship dan Dark-Supernatural. Inilah yang membuat saya tertarik untuk mengikutinya meski tidak dari awal (saya mulai ikuti dari episode 13, kalau tidak salah). Tema moralnya juga berkesan. Bukan hanya tentang kiat seseorang menjaga keutuhan keluarganya, tapi juga mengingatkan bahwa bisa jadi, manusia lebih buruk daripada sosok monster-monster yang dikenal selama ini. Hal itu dijelaskan dari kewaspadaan Gu San. Dia sempat berpesan pada Yeon-yi, “Jangan pernah percaya pada manusia”. Dan kenyataannya, banyak yang mengkhianati dirinya dan putrinya demi berbagai kepentingan, padahal mereka tidak bersalah.
            Alur ceritanya runtut, mudah dimengerti. Bahkan penonton yang tidak menyaksikan dari awal masih bisa memahami keseluruhan ceritanya. Karena di tiap episodenya, biasanya terdapat flashback acak yang mengacu pada adegan-adegan sebelumnya, dan terhubung dengan adegan yang sedang berlangsung. Flashback itu bisa berupa cuplikan adegan atau penjelasan lewat dialog.
            Detail-detail adegannya terasa sangat nyata, meski ada beberapa yang terasa berlebihan, tapi sayang untuk dilewatkan sedetik saja. Mulai dari bagaimana Gu San bertransformasi menjadi Gumiho, cara dia menyembuhkan Yeon-yi dengan batu giok rubah, penderitaan delusional Cho-ok yang tengah sekarat, sampai proses pengorbanan Yeon-yi. Aksi pertarungan duel pun cukup sering disuguhkan, tapi gerakannya masih terasa kaku.


Di serial ini juga ditampilkan banyak intrik-intrik magis ala Korea kuno. Seperti pemanggilan roh dengan makanan yang dilumuri darah, serbuk pembuka kedok siluman, lengkap dengan pernak-pernik misterius. Adegan berdarah juga bertebaran di sepanjang cerita. Semua detail itu mampu menciptakan suasana penasaran, tegang, dan mencekam, namun juga mengharukan.
            Hanya saja saya kurang suka dengan episode-episode awal. Di situ intrik ala sinetron banyak bermunculan, terutama bullying yang menimpa Yeon-yi oleh anak-anak Tuan Yoon.
            Penempatan setting pada drama ini dirasa tepat. Pemandangan pegunungan rindang yang berbatu, beserta rumah-rumah adat Korea, busana tradisional dan adat istiadat orang-orang di sekitarnya, cukup membuat saya sering lupa bahwa itu hanya film. Pengambilan tiap scene pada kamera pun bervariasi dan sesuai dengan situasi pada adegan. Berguncang di saat-saat tegang, dan ada pula scene dari sudut celah ruangan sehingga wajah tokohnya terpantul di banyak sisi (ini biasanya saat konversasi rahasia di dalam ruangan).


Karena serial ini berkisah tentang siluman rubah, make-up khusus pasti dibutuhkan untuk membangun sosok jejadian tersebut, sementara efek animasi tidak banyak diandalkan di sini. Make-up Gu San dan Yeon-yi (dalam Gumiho mode) cukup mengerikan dengan lensa mata kekuningan dan bulu-bulu, walau masih terlihat palsu.

Salah satu hal yang paling menarik untuk diperhatikan pada serial drama ini, adalah penokohan dan akting para pemerannya.


Sang protagonis, Gu San-daek, adalah wanita yang sangat keibuan, penyayang, dan sigap dalam segala situasi. Pengalaman di alam liar membuatnya selalu waspada terhadap apapun dan siapapun. Meski dia kerap merasa tidak nyaman di mana saja, dia masih bisa ramah dengan orang yang nampak baik dan perhatian padanya, dan tidak ada kesombongan dalam dirinya. Namun bila sekali saja diserang, Gu San tidak akan segan untuk membalas berkali-kali lipat. Dia membenci setiap bentuk penindasan, apalagi menyadari bahwa dirinya yang seekor siluman bisa dianggap sebagai musuh bagi manusia lain.
            Gu San punya naluri keibuan yang kuat. Dia akan melakukan apapun demi melindungi Yeon-yi. Bahkan saat Tuan muda Jung-kyu mulai tahu identitas Yeon-yi, Gu San sempat berniat untuk melenyapkannya. Sebagai seekor Gumiho, indera pendengar dan penciumannya sangat sensitif, sehingga mudah baginya untuk mendeteksi ancaman di sekitarnya.

Han Eun-jung benar-benar menjiwai karakter Gu San dalam aktingnya. Sorot matanya yang mencolok ketika terancam, panik atau marah, kecemasan, teriakan dan tangisan yang menyayat hati saat kehilangan Yeon-yi, seringai senyumnya saat berencana balas dendam, semuanya bisa membawa jiwa penonton masuk padanya. Bentuk wajahnya yang panjang pun tampak sangat cocok dengan imej wanita siluman rubah. Cantik, tapi ada aura mistis di dalamnya. Tapi terkadang saya kurang sreg melihat dia menoleh ke belakang di situasi tertentu. Kesannya seperti dibuat-buat.


             Yeon-yi adalah gadis kecil yang polos, ceria, ramah dan murah hati. Dia senang bermain di alam liar, dengan bunga dan kunang-kunang. Dia juga pandai melukis. Dia ingin bermain dengan siapa saja, walau banyak yang menolaknya karena dirinya dianggap sebagai orang rendahan. Karena kepolosannya, Yeon-yi sulit untuk mencurigai orang-orang di dekatnya. Itu yang membuatnya sering berdebat dengan Ibunya yang menyuruhnya untuk berhati-hati. Sampai akhirnya dia dibunuh oleh Tuan Yoon, yang sudah dilihatnya sebagai pelindung. Bisa dibilang, dia adalah tokoh yang paling naas nasibnya di drama ini.
            Seperti Ibunya, Yeon-yi tidak akan mengampuni siapapun lagi bila sudah dikhianati. Dia pun akan menghukum orang yang menyakit Ibunya. Selain itu, Yeon-yi juga mewarisi sifat-sifat Gumiho dari Gu San, seperti indera pendengar dan pencium yang tajam. Tapi transformasinya tidak sedrastis Gu San.
             Pemeran Yeon-yi, Kim Yoo-jeong, sudah sering saya lihat performanya di beberapa serial TV seperti Dong-yi, maka wajahnya tidak terasa asing. Akting serta raut mukanya yang manis dan kalem, sangat mewakili kepolosan si anak rubah. Ketika marah dan sedih pun dia masih terlihat lugu, anggun dan menawan.


            Karakter Tuan Yoon Doo-soo adalah yang paling kompleks menurut saya. Sejatinya dia adalah seorang aristokrat yang bijaksana dan terbuka, sekaligus seorang Ayah yang baik. Dia usahakan banyak hal demi kesembuhan Cho-ok, dan dia sering menemani Yeon-yi. Bahkan dia pernah memberikan perangkat melukis untuk Yeon-yi. Tapi sifat naifnya bisa menjerumuskannya pada kejahatan besar.
            Dia terus disudutkan oleh istrinya yang juga cemburu pada Gu San. Tuan Yoon disiksa oleh dilema, antara Cho-ok dan Yeon-yi. Setelah membunuh Yeon-yi pun dia terus dihantui rasa bersalah dan tidak pernah tenang. Keterpaksaan itu, dorongan untuk tetap menyembunyikan perbuatan kriminalnya, serta tekanan dari banyak orang di dekatnya, membuat tindakannya semakin tak terkendali.
            Jang Hyun-sung mampu menampilkan sosok Tuan Yoon yang penuh kebimbangan dan tekanan. Wajahnya memaparkan aura hangat dan bijaksana, namun di saat-saat terdesak, dia bisa berteriak seperti orang gila dan mengayunkan pedangnya pada leher siapa saja.



              Nyonya Yang, istri Tuan Yoon, saya anggap sebagai tokoh yang paling menyebalkan di sini. Angkuh, diskriminatif, licik, dan ingin menang sendiri. Selalu merasa tinggi dan meremehkan orang lain, khususnya Gu San. Dialah yang terus mendesak suaminya untuk terus melakukan kejahatan, dengan dalih menjaga keutuhan keluarganya. Sisi baiknya, dia Ibu yang over-protektif pada Cho-ok. Dia pun rela dibunuh demi putrinya.
            Wajah Kim Jung-nan terlihat pas sebagai wanita bangsawan yang berusaha selalu menjaga martabatnya. Lembut, tapi juga punya tatapan mata tajam untuk mengintimidasi lawannya. Karisma keangkuhan Nyonya Yang juga dapat dia tampilkan.
             Yoon Cho-ok agak-agaknya mewarisi tabiat Ibunya. Diskriminatif, sombong, egois, dan manja. Dia nyaris selalu bicara kasar dan membentak pada semua orang, hanya akan berlemah-lembut pada kedua orang tuanya. Penyakit yang dideritanya pun tidak membuatnya sadar diri.
            Awalnya saya lihat dia sebagai bocah yang menjengkelkan. Namun di akhir cerita, saya malah kasihan padanya. Dia harus jadi korban atas kejahatan orang tuanya.
            Akting si cantik mungil Seo Shin-ae adalah salah satu yang paling membuat saya terpukau. Dia terlihat tegas saat marah, tapi juga memelas saat kesakitan atau sedih, dan menggemaskan di saat gembira. Yang paling mengagumkan adalah ketika dia harus memerankan dua karakter yang berbeda, yaitu Cho-ok dan Yeon-yi (di dalam cerita, Cho-ok sempat dirasuki roh Yeon-yi untuk beberapa lama).
            Saat menjadi Cho-ok, dia menampakkan muka jutek, seolah siap ‘menyemprot’ semua yang menganggunya atau tidak menuruti perintahnya. Dia juga senang menari-nari dan melahap permen dengan rakus.
            
           Ketika menjadi “Yeon-yi”, dia bisa berlaku lemah-lembut dan tenang. Raut wajahnya jadi lebih sendu. Tapi dia mampu beraksi sebagai anak siluman. Mencari jalan dengan pendengarannya, juga menyerang Tuan Yoon dengan penuh amarah dan dendam.
            Selain mereka, masih ada banyak tokoh yang menarik perhatian. Chun-woo si pengagum rahasia Gu San yang selalu rela berkorban, dukun Man-shin yang sulit ditebak, hakim Jo yang licik, dan para pelayan keluarga Yoon yang setia. Timbal balik masing-masing dengan dampak psikologis yang masuk akal, didukung dengan akting para pemeran yang mampu membangkitkan suasana depresif dan emosional. Sehingga para penonton mudah bersimpati pada mereka.
            Dialog antar tokohnya tidak murahan, tapi juga tidak terlalu puitis. Kerap berpanjang lebar, tapi pesannya tetap kuat untuk memancing hati penonton.
            Yang paling menyentuh hati saya di serial ini, tentunya adalah hubungan Ibu dan anak, antara Gu San dan Yeon-yi.             


             Ikatan batin keduanya sangat erat, saling menyayangi dan melindungi. Kebersamaan mereka pun diibaratkan oleh Gu San pada Yeon-yi, “Kemanapun jarum pergi, benang harus selalu ikut”. Gu San mengupayakan banyak hal agar mereka tidak terpisah jauh. Seperti memasangkan hiasan lonceng pada pakaian Yeon-yi, dan membuat nyanyian : “Kau ada dimana?”, “Aku masih jauh.”, sampai seterusnya.

            Mereka benar-benar membuktikan bahwa Ibu dan anak adalah satu jiwa yang tak dapat dipisahkan, sekalipun salah satunya telah mati.



           Kisah romansa juga disisipkan dalam kisah ini. Hubungan cinta Tuan Muda Jung-kyu dan Yeon-yi berjalan apa adanya, tidak berlebihan, namun tetap manis. Mereka banyak menghabiskan waktu di alam. Namun entah kenapa saya merasa chemistry mereka kurang ngena. Jung-kyu cukup tampan dan karismatik sebagai putra bangsawan, tapi saya lihat dia kurang cocok dengan Yeon-yi. Mungkin karena Yeon-yi masih terlalu kecil, atau karena Jung-kyu tipe pemuda yang lemah. Selama kencan, Yeon-yi yang sering menyelamatkan nyawa Jung-kyu. Dan saat Yeon-yi tewas, dia tidak bisa apa-apa, selain berteriak dan mengigau dalam tidurnya.
            Malah menurut saya, Yeon-yi lebih serasi dengan Yoon Chung-il, putra sulung selir Kye-hyang. Awalnya Chung-il begitu merendahkan Yeon-yi, tapi lama kelamaan dia bersimpati pada gadis kecil itu. Dia bahkan membela Yeon-yi habis-habisan di hadapan orang tuanya. Sayangnya pertemuan mereka kurang dieksplor. Sehingga yang terlihat adalah Chung-il yang terus memendam rasa pada Yeon-yi, pun setelah kematiannya.
            Satu hal lagi yang menghipnotis saya pada serial drama ini, adalah musiknya.
            Mayoritas BGM-nya bernuansa Korea kuno, lengkap dengan suara gendang dan seruling yang khas, tapi juga memiliki atmosfir kelam dan mistis yang menghantui juga menegangkan. Masing-masing dipasang pada adegan-adegan yang tepat, sehingga penonton semakin terbawa suasana. Misalnya dua BGM ini. (TRAILER)

          Paduan apik antara detail adegan, akting, chemistry, dan musik itulah yang membuat saya belum juga bosan menyaksikan setiap episode serial ini, walau sudah diputar ulang berkali-kali di channel LBS sejak lebih dari setahun yang lalu.


Karena itulah, saya akan bilang K-drama “The Revolt of Gumiho” ini AMAZEPIC! Mungkin saya tidak bisa merekomendasikan serial ini untuk yang tidak tahan terhadap horor atau adegan berdarah (gore). Tapi untuk yang menyukai hal-hal berbau magic/supernatural dan menginginkan ketegangan emosional sekaligus menyentuh hati, maka ini akan memberikan kisah yang tak terlupakan.

Sekian Guest review dari Khi-Khi Kiara... Terima kasih sudah membaca dan jangan lupa dengar apa kata Yui di samping.  Sampai jumpa sampai saya memikirkan sesuatu yang lain.

Sabtu, 29 November 2014

What Zen Thinks about Beast Taruna? (Indie Novel)

Sentai yang tidak mainstream... Beast Taruna is one of them.



Beast Taruna adalah sebuah novel yang dibuat oleh Aditya NW... Bukan Adhitya Daniel yang nulis cerita...

So, bedanya Aditya NW nulis cerita Sentai sementara Adhitya Daniel menulis cerita yang S-nya diganti dengan H. That's the difference.


Minggu, 16 November 2014

Bullshit Time! : Horror Movie

Horror bukanlah genre yang saya suka, tapi ada beberapa movie, anime, komik dan juga novel horror yang saya sukai bahkan... sangat suka.  Bagi saya horor merupakan genre yang amat luas, sebab fokus pada hal yang menakutkan. Kita harus sadar tiap orang berbeda kadar ketakutannya dan juga hal apa yang mereka takutkan. Karena itu, horor amatlah subjektif.

Jika membicarakan Horror Indonesia, jelas tidak pernah lepas dari sang legenda Suzanna.  Film-film legendarisnya membuat bulu kuduk rakyat Indonesia mayoritas berdiri dibuatnya.


Siapa yang tidak ingat tatapan maut dari Suzanna?


Ahh, nostalgia sekali.  Sayangnya makin ke sini, horor semakin tidak asyik ditonton, apa lagi kalau pakai fanservice berlebihan.  Nyaris tidak ada film horor sekarang yang tidak menampilkan Nudity, oke... kadang itu ada untuk pemanis film, tapi tidak itu mulu yang ditampilin.  Nanti yang tegang bukan badannya tapi yang di bawah.

Begitu juga dengan horror di Hollywood. Jika kalian mau melihat, pendapat Chris Stuckmann tentang Problem with Horrors Movies Today! kalian akan paham maksudku.  Dimana Jumpscare dimana-mana yang menjadi sebuah epidemik, ketika orang-orang mulai melihat horror itu bagus jika banyak jumpscare-nya.  Jujur saja, ini adalah hal yang paling aku benci dari sebuah Horror mana pun.

Jumpscare hanyalah memberi reaksi, tapi tidak memberikan horror jika tidak di bawakan dengan baik.  Saya selalu marah pada siapapun yang memberi saya Jumpscare prank, karena saya sangat benci dengan hal itu. Itu juga yang bikin saya amat ragu membuka link jika diberi seseorang karena takut tiba-tiba yang muncul adalah gambar seram.

Tapi, bukan berarti saya menutup pikiran dan hati saya sama horror genre loh.  Tapi, saya berharap jika menonton Film Horror yang diberikan adalah rasa horror yang sebenarnya.

Salah satu film horror favoritku adalah 1408, adaptasi dari novel Stephen King dan diperankan oleh John Cusack.



Film ini bercerita tentang seorang penulis novel horror kondang yang ingin mencari tempat-tempat horror sebagai riset untuk novelnya hingga dia sampai di ruang 1408.  Tempat-tempat horror sebelumnya membuat dia meremehkan ruangan ini, hingga hal-hal aneh terjadi.  Film ini ada memberi beberapa jumpscare... tapi tidak in cheap way atau sesuatu yang merusak tension.  Film ini lebih ke arah dimana karakter menghadapi kesedihannya di masa, trauma, dan juga kesalahan yang disesalkannya kembali menghantuinya dengan cara yang bizzare dan juga surreal.

Selain film ini, horror favorit saya yang lain adalah Shutter.  Ini bagi saya adalah film horror paling menakutkan yang pernah saya tonton.  Mungkin bagi kalian yang lain, tapi ini setidaknya untuk Hollywood adalah yang paling menakutkan. Saya tahu ini film remake dari versi Thailand kalau ga salah.


Film ini benar-benar menakutkan.  Walau jalan ceritanya tidak begitu original... tentang seorang gadis yang diperkosa dan dibunuh... dan penyebab itu terjadi karena pacarnya sendiri.  Hantu gadis itu mulai menghantuinya dengan perantara kamera.

Selain itu, saya koleksi beberapa manga horor. Saya suka Cursed Face dari Indonesia, komik ini memang saya sudah ikuti sejak di Ngomik.com dan saya merasa unsettling, penggambaran dan juga ekspresinya amat kuat.  Ditambah lagi beberapa mind twisting dan halusinasi yang menarik dari komik ini. Sangat ditunggu kelanjutannya...

Tidak lupa, Illusive, komik Malaysia yang juga amat disturbing in creepy way.  Sementara untuk Anime, favorit saya tentu saja Classic Ghost in School, I am a Hero, juga Higurashi No Naku Koro Ni.

Sejauh ini saya belum ada review Movie Horror, ya... hum... Mungkin saya akan segera review 1408. Ditunggu saja...

Jadi, genre horror apa yang menjadi favoritmu dan apa judul movie horror favoritmu. Apa kau juga kesal dengan horror belakangan ini? Komen dan sampaikan pikiranmu.

Terima kasih sudah membaca ocehanku sampai jumpa di Bullshit Time selanjutnya.