Tampilkan postingan dengan label Guest Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Guest Review. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Desember 2014

What Khi-Khi Kiara Thinks about Revolt of Gumiho?

Setelah lama tidak posting, maaf karena laporan ini benar-benar menyita seluruh perhatianku.  Iyank alias Khi-khi Kiara mengisi kekosongan ini dengan review-nya yaitu Revolt of Gumiho. Enjoy...



Di review kali ini, saya akan membahas drama Korea, atau lebih populer dengan sebutan K-drama.
Umumnya dari segi cerita, K-drama tidak jauh berbeda dengan sinetron Indonesia. Setting rumah mewah, pasangan Si Kaya dan Si Miskin, cinta segitiga, bullying, dan sebagainya. Namun K-drama punya kelebihan, yaitu pendalaman psikologis yang mendalam di tiap karakternya.

Dari sekian banyak judul K-drama yang saya tonton, saya ingin mengulas salah satu yang sukses membuat saya kagum.
Grudge : The Revolt of Gumiho (Gumiho, Yeo-woo Nuidyeon / Tale of the Nine-Tailed Fox Child) adalah sebuah serial drama Korea dengan 16 episode, ditulis oleh Oh Sun-hyeong dan Jung Do-yeon serta disutradarai oleh Lee Gun-joon dan Lee Jae-sang, lalu disiarkan perdana di KBS pada tanggal 5 Juli 2010. Serial TV yang mengambil tema Horror, Thriller/Suspense, Angst/Tragedy, Supernatural, Gore, Romance dan Family ini dibintangi oleh sejumlah aktor dan aktris bertalenta, seperti Han Eun-jung, ditambah dua aktris cilik yaitu Kim Yoo-jeong dan Seo Shin-ae.

Sinopsis

            Pada dinasti Joseon, seorang wanita bernama Gu San-daek tinggal bersama suami dan putrinya, Yeon-yi, di sebuah pemukiman terpencil. Tapi setelah sang suami bunuh diri, karena penyesalannya setelah melanggar janji istrinya, Gu San dan Yeon-yi harus merantau, berkelana di hutan belantara untuk bertahan hidup. Sudah berkali-kali mereka terluka parah karena serangan hewan liar, sampai akhirnya mereka dibawa ke sebuah pondok perumahan milik Tuan Yoon Doo-soo karena tuduhan pencurian. Tuan Yoon terpikat dengan Gu San. Itu menimbulkan reaksi pada seluruh penghuni perumahan, terutama istri Tuan Yoon, Nyonya Yang.
            Gu San dan Yeon-yi diizinkan untuk tinggal di rumah keluarga Yoon, setelah mereka terbukti mampu menyembuhkan putri Tuan Yoon, Cho-ok, yang menderita penyakit parah dan misterius. Yeon-yi senang tinggal di sana, disayangi oleh Tuan Yoon yang sudah seperti ayahnya sendiri, dan menjalin hubungan dengan Tuan muda Jo Jung-kyu, putra hakim Jo. Tapi lambat laun, dia dan Ibunya merasa tidak tenang dan terancam. Mereka mengalami tekanan, seperti Nona Cho-ok yang menindas Yeon-yi karena cemburu asmara, Nyonya Yang dan selir Kye-hyang yang menyudutkan Gu San, dan yang paling berbahaya : Rencana rahasia Tuan Yoon.
            Menurut seorang Shaman (dukun) bernama Man-shin, penyakit Cho-ok hanya akan benar-benar pulih bila disembuhkan dengan hati (liver) anak manusia yang seumuran dengannya. Berdasarkan syarat-syarat yang ditentukan, Yeon-yi lah gadis yang tepat untuk dijadikan pengorbanan sebagai obat Cho-ok. Mau tidak mau, Tuan Yoon menyiapkan ritual demi lancarnya upacara pengorbanan itu. Nyonya Yang juga setuju, apalagi saat itu Cho-ok kembali sekarat.
            Sementara itu, Yeon-yi mulai menyadari bahwa dirinya adalah Gumiho, siluman rubah ekor sembilan. Meski begitu, dia belum tahu tentang jati diri Ibunya yang juga seekor Gumiho.
            Rencana Tuan Yoon mulai terkuak. Hakim Jo, Gu San, dan seorang pria misterius yang menyukai Gu San, berusaha menggagalkannya, namun terlambat. Yeon-yi berhasil dibunuh.
            Apakah pembalasan dendam Gu San atas kematian putrinya akan terwujud? Apa identitasnya sebagai Gumiho akan terbongkar? Siapa Man-shin sebenarnya? Apa Yeon-yi akan bangkit kembali? Lalu bagaimana akhir riwayat keluarga Yoon?

Ulasan

            Hampir semua tema dalam serial ini adalah favorit saya, khususnya Mother-child Relationship dan Dark-Supernatural. Inilah yang membuat saya tertarik untuk mengikutinya meski tidak dari awal (saya mulai ikuti dari episode 13, kalau tidak salah). Tema moralnya juga berkesan. Bukan hanya tentang kiat seseorang menjaga keutuhan keluarganya, tapi juga mengingatkan bahwa bisa jadi, manusia lebih buruk daripada sosok monster-monster yang dikenal selama ini. Hal itu dijelaskan dari kewaspadaan Gu San. Dia sempat berpesan pada Yeon-yi, “Jangan pernah percaya pada manusia”. Dan kenyataannya, banyak yang mengkhianati dirinya dan putrinya demi berbagai kepentingan, padahal mereka tidak bersalah.
            Alur ceritanya runtut, mudah dimengerti. Bahkan penonton yang tidak menyaksikan dari awal masih bisa memahami keseluruhan ceritanya. Karena di tiap episodenya, biasanya terdapat flashback acak yang mengacu pada adegan-adegan sebelumnya, dan terhubung dengan adegan yang sedang berlangsung. Flashback itu bisa berupa cuplikan adegan atau penjelasan lewat dialog.
            Detail-detail adegannya terasa sangat nyata, meski ada beberapa yang terasa berlebihan, tapi sayang untuk dilewatkan sedetik saja. Mulai dari bagaimana Gu San bertransformasi menjadi Gumiho, cara dia menyembuhkan Yeon-yi dengan batu giok rubah, penderitaan delusional Cho-ok yang tengah sekarat, sampai proses pengorbanan Yeon-yi. Aksi pertarungan duel pun cukup sering disuguhkan, tapi gerakannya masih terasa kaku.


Di serial ini juga ditampilkan banyak intrik-intrik magis ala Korea kuno. Seperti pemanggilan roh dengan makanan yang dilumuri darah, serbuk pembuka kedok siluman, lengkap dengan pernak-pernik misterius. Adegan berdarah juga bertebaran di sepanjang cerita. Semua detail itu mampu menciptakan suasana penasaran, tegang, dan mencekam, namun juga mengharukan.
            Hanya saja saya kurang suka dengan episode-episode awal. Di situ intrik ala sinetron banyak bermunculan, terutama bullying yang menimpa Yeon-yi oleh anak-anak Tuan Yoon.
            Penempatan setting pada drama ini dirasa tepat. Pemandangan pegunungan rindang yang berbatu, beserta rumah-rumah adat Korea, busana tradisional dan adat istiadat orang-orang di sekitarnya, cukup membuat saya sering lupa bahwa itu hanya film. Pengambilan tiap scene pada kamera pun bervariasi dan sesuai dengan situasi pada adegan. Berguncang di saat-saat tegang, dan ada pula scene dari sudut celah ruangan sehingga wajah tokohnya terpantul di banyak sisi (ini biasanya saat konversasi rahasia di dalam ruangan).


Karena serial ini berkisah tentang siluman rubah, make-up khusus pasti dibutuhkan untuk membangun sosok jejadian tersebut, sementara efek animasi tidak banyak diandalkan di sini. Make-up Gu San dan Yeon-yi (dalam Gumiho mode) cukup mengerikan dengan lensa mata kekuningan dan bulu-bulu, walau masih terlihat palsu.

Salah satu hal yang paling menarik untuk diperhatikan pada serial drama ini, adalah penokohan dan akting para pemerannya.


Sang protagonis, Gu San-daek, adalah wanita yang sangat keibuan, penyayang, dan sigap dalam segala situasi. Pengalaman di alam liar membuatnya selalu waspada terhadap apapun dan siapapun. Meski dia kerap merasa tidak nyaman di mana saja, dia masih bisa ramah dengan orang yang nampak baik dan perhatian padanya, dan tidak ada kesombongan dalam dirinya. Namun bila sekali saja diserang, Gu San tidak akan segan untuk membalas berkali-kali lipat. Dia membenci setiap bentuk penindasan, apalagi menyadari bahwa dirinya yang seekor siluman bisa dianggap sebagai musuh bagi manusia lain.
            Gu San punya naluri keibuan yang kuat. Dia akan melakukan apapun demi melindungi Yeon-yi. Bahkan saat Tuan muda Jung-kyu mulai tahu identitas Yeon-yi, Gu San sempat berniat untuk melenyapkannya. Sebagai seekor Gumiho, indera pendengar dan penciumannya sangat sensitif, sehingga mudah baginya untuk mendeteksi ancaman di sekitarnya.

Han Eun-jung benar-benar menjiwai karakter Gu San dalam aktingnya. Sorot matanya yang mencolok ketika terancam, panik atau marah, kecemasan, teriakan dan tangisan yang menyayat hati saat kehilangan Yeon-yi, seringai senyumnya saat berencana balas dendam, semuanya bisa membawa jiwa penonton masuk padanya. Bentuk wajahnya yang panjang pun tampak sangat cocok dengan imej wanita siluman rubah. Cantik, tapi ada aura mistis di dalamnya. Tapi terkadang saya kurang sreg melihat dia menoleh ke belakang di situasi tertentu. Kesannya seperti dibuat-buat.


             Yeon-yi adalah gadis kecil yang polos, ceria, ramah dan murah hati. Dia senang bermain di alam liar, dengan bunga dan kunang-kunang. Dia juga pandai melukis. Dia ingin bermain dengan siapa saja, walau banyak yang menolaknya karena dirinya dianggap sebagai orang rendahan. Karena kepolosannya, Yeon-yi sulit untuk mencurigai orang-orang di dekatnya. Itu yang membuatnya sering berdebat dengan Ibunya yang menyuruhnya untuk berhati-hati. Sampai akhirnya dia dibunuh oleh Tuan Yoon, yang sudah dilihatnya sebagai pelindung. Bisa dibilang, dia adalah tokoh yang paling naas nasibnya di drama ini.
            Seperti Ibunya, Yeon-yi tidak akan mengampuni siapapun lagi bila sudah dikhianati. Dia pun akan menghukum orang yang menyakit Ibunya. Selain itu, Yeon-yi juga mewarisi sifat-sifat Gumiho dari Gu San, seperti indera pendengar dan pencium yang tajam. Tapi transformasinya tidak sedrastis Gu San.
             Pemeran Yeon-yi, Kim Yoo-jeong, sudah sering saya lihat performanya di beberapa serial TV seperti Dong-yi, maka wajahnya tidak terasa asing. Akting serta raut mukanya yang manis dan kalem, sangat mewakili kepolosan si anak rubah. Ketika marah dan sedih pun dia masih terlihat lugu, anggun dan menawan.


            Karakter Tuan Yoon Doo-soo adalah yang paling kompleks menurut saya. Sejatinya dia adalah seorang aristokrat yang bijaksana dan terbuka, sekaligus seorang Ayah yang baik. Dia usahakan banyak hal demi kesembuhan Cho-ok, dan dia sering menemani Yeon-yi. Bahkan dia pernah memberikan perangkat melukis untuk Yeon-yi. Tapi sifat naifnya bisa menjerumuskannya pada kejahatan besar.
            Dia terus disudutkan oleh istrinya yang juga cemburu pada Gu San. Tuan Yoon disiksa oleh dilema, antara Cho-ok dan Yeon-yi. Setelah membunuh Yeon-yi pun dia terus dihantui rasa bersalah dan tidak pernah tenang. Keterpaksaan itu, dorongan untuk tetap menyembunyikan perbuatan kriminalnya, serta tekanan dari banyak orang di dekatnya, membuat tindakannya semakin tak terkendali.
            Jang Hyun-sung mampu menampilkan sosok Tuan Yoon yang penuh kebimbangan dan tekanan. Wajahnya memaparkan aura hangat dan bijaksana, namun di saat-saat terdesak, dia bisa berteriak seperti orang gila dan mengayunkan pedangnya pada leher siapa saja.



              Nyonya Yang, istri Tuan Yoon, saya anggap sebagai tokoh yang paling menyebalkan di sini. Angkuh, diskriminatif, licik, dan ingin menang sendiri. Selalu merasa tinggi dan meremehkan orang lain, khususnya Gu San. Dialah yang terus mendesak suaminya untuk terus melakukan kejahatan, dengan dalih menjaga keutuhan keluarganya. Sisi baiknya, dia Ibu yang over-protektif pada Cho-ok. Dia pun rela dibunuh demi putrinya.
            Wajah Kim Jung-nan terlihat pas sebagai wanita bangsawan yang berusaha selalu menjaga martabatnya. Lembut, tapi juga punya tatapan mata tajam untuk mengintimidasi lawannya. Karisma keangkuhan Nyonya Yang juga dapat dia tampilkan.
             Yoon Cho-ok agak-agaknya mewarisi tabiat Ibunya. Diskriminatif, sombong, egois, dan manja. Dia nyaris selalu bicara kasar dan membentak pada semua orang, hanya akan berlemah-lembut pada kedua orang tuanya. Penyakit yang dideritanya pun tidak membuatnya sadar diri.
            Awalnya saya lihat dia sebagai bocah yang menjengkelkan. Namun di akhir cerita, saya malah kasihan padanya. Dia harus jadi korban atas kejahatan orang tuanya.
            Akting si cantik mungil Seo Shin-ae adalah salah satu yang paling membuat saya terpukau. Dia terlihat tegas saat marah, tapi juga memelas saat kesakitan atau sedih, dan menggemaskan di saat gembira. Yang paling mengagumkan adalah ketika dia harus memerankan dua karakter yang berbeda, yaitu Cho-ok dan Yeon-yi (di dalam cerita, Cho-ok sempat dirasuki roh Yeon-yi untuk beberapa lama).
            Saat menjadi Cho-ok, dia menampakkan muka jutek, seolah siap ‘menyemprot’ semua yang menganggunya atau tidak menuruti perintahnya. Dia juga senang menari-nari dan melahap permen dengan rakus.
            
           Ketika menjadi “Yeon-yi”, dia bisa berlaku lemah-lembut dan tenang. Raut wajahnya jadi lebih sendu. Tapi dia mampu beraksi sebagai anak siluman. Mencari jalan dengan pendengarannya, juga menyerang Tuan Yoon dengan penuh amarah dan dendam.
            Selain mereka, masih ada banyak tokoh yang menarik perhatian. Chun-woo si pengagum rahasia Gu San yang selalu rela berkorban, dukun Man-shin yang sulit ditebak, hakim Jo yang licik, dan para pelayan keluarga Yoon yang setia. Timbal balik masing-masing dengan dampak psikologis yang masuk akal, didukung dengan akting para pemeran yang mampu membangkitkan suasana depresif dan emosional. Sehingga para penonton mudah bersimpati pada mereka.
            Dialog antar tokohnya tidak murahan, tapi juga tidak terlalu puitis. Kerap berpanjang lebar, tapi pesannya tetap kuat untuk memancing hati penonton.
            Yang paling menyentuh hati saya di serial ini, tentunya adalah hubungan Ibu dan anak, antara Gu San dan Yeon-yi.             


             Ikatan batin keduanya sangat erat, saling menyayangi dan melindungi. Kebersamaan mereka pun diibaratkan oleh Gu San pada Yeon-yi, “Kemanapun jarum pergi, benang harus selalu ikut”. Gu San mengupayakan banyak hal agar mereka tidak terpisah jauh. Seperti memasangkan hiasan lonceng pada pakaian Yeon-yi, dan membuat nyanyian : “Kau ada dimana?”, “Aku masih jauh.”, sampai seterusnya.

            Mereka benar-benar membuktikan bahwa Ibu dan anak adalah satu jiwa yang tak dapat dipisahkan, sekalipun salah satunya telah mati.



           Kisah romansa juga disisipkan dalam kisah ini. Hubungan cinta Tuan Muda Jung-kyu dan Yeon-yi berjalan apa adanya, tidak berlebihan, namun tetap manis. Mereka banyak menghabiskan waktu di alam. Namun entah kenapa saya merasa chemistry mereka kurang ngena. Jung-kyu cukup tampan dan karismatik sebagai putra bangsawan, tapi saya lihat dia kurang cocok dengan Yeon-yi. Mungkin karena Yeon-yi masih terlalu kecil, atau karena Jung-kyu tipe pemuda yang lemah. Selama kencan, Yeon-yi yang sering menyelamatkan nyawa Jung-kyu. Dan saat Yeon-yi tewas, dia tidak bisa apa-apa, selain berteriak dan mengigau dalam tidurnya.
            Malah menurut saya, Yeon-yi lebih serasi dengan Yoon Chung-il, putra sulung selir Kye-hyang. Awalnya Chung-il begitu merendahkan Yeon-yi, tapi lama kelamaan dia bersimpati pada gadis kecil itu. Dia bahkan membela Yeon-yi habis-habisan di hadapan orang tuanya. Sayangnya pertemuan mereka kurang dieksplor. Sehingga yang terlihat adalah Chung-il yang terus memendam rasa pada Yeon-yi, pun setelah kematiannya.
            Satu hal lagi yang menghipnotis saya pada serial drama ini, adalah musiknya.
            Mayoritas BGM-nya bernuansa Korea kuno, lengkap dengan suara gendang dan seruling yang khas, tapi juga memiliki atmosfir kelam dan mistis yang menghantui juga menegangkan. Masing-masing dipasang pada adegan-adegan yang tepat, sehingga penonton semakin terbawa suasana. Misalnya dua BGM ini. (TRAILER)

          Paduan apik antara detail adegan, akting, chemistry, dan musik itulah yang membuat saya belum juga bosan menyaksikan setiap episode serial ini, walau sudah diputar ulang berkali-kali di channel LBS sejak lebih dari setahun yang lalu.


Karena itulah, saya akan bilang K-drama “The Revolt of Gumiho” ini AMAZEPIC! Mungkin saya tidak bisa merekomendasikan serial ini untuk yang tidak tahan terhadap horor atau adegan berdarah (gore). Tapi untuk yang menyukai hal-hal berbau magic/supernatural dan menginginkan ketegangan emosional sekaligus menyentuh hati, maka ini akan memberikan kisah yang tak terlupakan.

Sekian Guest review dari Khi-Khi Kiara... Terima kasih sudah membaca dan jangan lupa dengar apa kata Yui di samping.  Sampai jumpa sampai saya memikirkan sesuatu yang lain.

Rabu, 01 Oktober 2014

What Zoelkarnaen Thinks about Tomb Raider (2013)? (Game)

It's my first time reviewing a game, so bear with me~

Let me take you on an epic adventure of Lara Croft.



Buat yang sudah kenal dengan karakter Lara Croft sejak di Tomb Raider pertama, pasti tua XD. Tomb Raider adalah seri video game yang sudah ada sejak tahun 1996, dan saya main game ini pertama kali pada tahun 1997. Buat anak usia 14 tahun di waktu itu, ini game cukup sukses bikin saya frustrasi. Itu karena sistem kendali yang sulit, dan juga tingkat teka-teki yang di luar kemampuan otak saya waktu itu. (I was too damn busy to memorize all of those Mortal Kombat Fatalities combination, I ain't got time for thinking some puzzles)

Rabu, 17 September 2014

What Yulian Thinks about Blue Beard (Barbe Bleu)? (Movie)

Kali ini Guest Review dibuat oleh Yulian Ekowati. Dia adalah salah satu reviewer yang sangat suka dengan movie-movie berbau sejarah, mitologi, dan juga dongeng.  Kali ini dia review sebuah dongeng terkenal Blue Beard. 

Memiliki suami/pasangan yang kaya raya dan punya segalanya pastilah impian dari kebanyakan orang. Terlebih lagi, jika ia begitu baik hati, sabar, penuh pengertian dan mau menuruti apa pun yang kita inginkan dengan sukarela meskipun ia tidak berwajah rupawan dan dianggap aneh oleh kebanyakan orang. Tapi apa jadinya jika pasangan kita menyimpan sebuah rahasia kelam yang tidak ingin diketahui oleh siapa pun, termasuk oleh kita? Akankah kita pegang teguh kepercayaannya ataukah kita langgar kepercayaannya hanya dengan alasan ‘di antara pasangan tidak boleh ada rahasia atau dusta’?

Nah tema itulah yang coba diusung oleh film Barbe Bleu alias Bluebeard buatan Perancis tahun 2009 besutan sutradara Perancis Marie-Catherine Breillat. Film bergenre fantasi ini diangkat dari dongeng seram karangan Charles Perrault yang berjudul sama. Berikut plot dan ulasannya.



Minggu, 23 Februari 2014

What Arai Thinks about Fractale? (Anime)

Guest Review dari Kagetsuki Arai...

Fractale



Ditulis oleh Hiroki Azuma, Mari Okada dan Yukata Yamamoto.
Diilustrasikan oleh Mutsumi Akasaki dan diterbitkan oleh Square Enix.

Hiru no hoshi ni
Negai wo sasagu nara
Itsuka no mado
Akari tomoshiteta

Fractale, Dibuat oleh A-1 dan Ordet, diproduseri oleh Yutaka Yamamoto (yang juga andil dalam Suzumiya Haruhi dan Kannagi serta orang yang lagi diributin si Adhitya Daniel karena bikin Wake Up, Girls!) adalah anime yang rilis tahun 2010.

Sudah dapat anime ini dari lama, tapi baru sempet nonton tadi malam. Awalnya, saya nonton anime ini karena ada Hanakana-san, tapi kemudian jatuh cinta sama Nessa dan bagaimana Lost Millenium. Impresi terakhir saya sederhana, Ini adalah Eureka Seven yang lebih pendek dan lebih mudah di mengerti.



Cerita bermula di sebuah dunia dimana sebuah system terintegrasi mirip facebook telah digunakan di seluruh dunia. Manusia tidak perlu lagi bertatap muka langsung untuk berkomunikasi dan bisa menggunakan sebuah Avatar sebagai pengganti ‘fisik’ mereka. Bukan hanya itu, Sistem yang disebut ‘Fractale’ ini telah membuat hidup lebih mudah.

Dampaknya?

Di sisi positif, Sistem ini mampu memberikan perawatan jarak jauh pada pasien. Kehidupan secara general disebutkan semakin mudah.

Di sisi negatif,  Manusia mulai hidup sendiri-sendiri, berpindah-pindah demi mencari sinyal dan kehilangan hubungan dekat seperti keluarga dan teman atas nama kebebasan.

“Kalau kita tinggal satu rumah, bukankah itu bukti bahwa kita tidak saling mempercayai satu sama lain?”

Lalu kita dikenalkan pada Clain, seorang bocah eksentrik yang menyukai benda antic.

“Benda antic benar-benar ada di sini. Bukan data seperti Fractale.”



Karakter

Clain, Di awal, dia ngingetin sama Renton. Dia bukan orang yang suka sama keadaan dunia yang sekarang dan berharap bisa kabur dari hidupnya yang sekarang. Kemudian Phryne Datang dan dia dibikin kalang kabur. Nggak kayak Renton, Clain punya keraguan di awal. Karena status dia yang nggak tahu apa-apa baik soal Fractale System maupun Lost Millenium, dia bener-bener orang baru, galau antara mana yang lawan dan mana yang kawan. Pada akhirnya, prioritas dia adalah untuk melindungi orang yang dia sayang, Phryne dan Nessa.

Phryne, dia adalah cewek yang nyentrik. Saya bener-bener ga dapet impresi gimana hidupnya waktu di kuil. Tipikal cewek Ignorant yang nggak sungkan-sungkan buka baju di depan cowok dan keliatan susah mengerti apa yang ada di kepala orang-orang, In a way, That's comedy. Namun waktu background story dia dibuka, Saya ga bisa ketawa lagi.

Nesa,



Sunda, A Bastard Leader of Lost Millenium, At first. sepanjang waktu berjalan, Dia keliatan baik dibandingkan sesama pemberontak yang lain. Awalnya saya mikir berat kenapa dia gabisa pegang Nessa ("Orang Yang nggak suka Nessa nggak bisa menyentuh Nessa"), Namun kemudian paham kalau dia bukan nggak suka, dia mencoba untuk nggak terlibat sama Nessa karena posisi dia sebagai pemimpin pemberontak. Sunda mengajarkan banyak hal pada Clain dan kemudian memberikan pilihan pada Clain, mau dunia yang seperti apa yang ia ingin buat setelah pemberontakan selesai?

Enri, Resisdence of Tsundere di anime ini. Mungil dan tomboy tapi bisa nembak orang tanpa ragu --Meski tembakannya ngaco sih-. Kekuatannya bertumpu pada karakternya yang meski dia bilang benci pada Fractale system, Dia bisa warming up sama Nessa dan Phryne. Punya brother complex yang menyusahkan dan karakter dia beneran saya kagumi waktu dia pura-pura sok kuat meski tahu bahwa Sunda nggak ada kesempatan untuk tetep hidup di final episode.

Plot


Plot-nya berjalan enteng di awal, dikasik komedi dan drama yang enteng sambil pelan-pelan dikasih tahu gimana sebenernya Fractale itu dan gimana sih Lost Millenium itu. di sini nggak ada yang baik maupun buruk, Baik Fratale maupun Lost Millenium adalah sebuah kelompok yang punya ideologi masing-masing dan memperjuangkan apa yang mereka percaya.



But, There are many bastard here and there who really there to make us hate them.

Take Gail, for example. Dia bukan dari Lost Millenium maupun Fractale Temple, tapi dari sisi manusia yang terlanjur nyaman sama apa yang diberikan oleh Fractale. Hasilnya? Dia bakal melakukan apapun untuk tetap menikmati kenyamanan.

Oh, Human! You bastard!

Apa yang saya pelajari?

Teknologi ada bukan untuk kita bergantung. Yups, Teknologi mempermudah kehidupan, tapi bukan berarti kita harus menyerahkan semuanya ke teknologi. Teknologi gapunya yang namanya 'Kehangatan' , Dari facebook kita juga gabisa ngasik 'Senyuman' yang sejati. di sisi lain, bukan berarti Teknologi itu sepenuhnya buruk. Banyak yang bener-bener bergantung pada teknologi karena mereka memang ga punya pilihan lain.

Terima kasih untuk Kagetsuki Arai telah bersedia menaruh Reviewnya di blog saya.

Jadi apa kalian sudah menonton Fractale, jika sudah apa pendapat kalian tulislah komen kalian di bawah dan jika belum apa review ini membuat kalian tertarik menontonnya?

Jadi Apa pendapat kalian soal Social network di masa sekarang.  Apapun itu komen di bawah...

Terima kasih sudah membaca review ini dan jika kalian punya unek-unek, review akan sesuatu, kalian bisa post di sini dan sampai jumpa di Guest Review yang lain...

Jumat, 21 Februari 2014

What Zen Thinks about Tales of The Abyss? (Game) With Herjuno Tisnoaji (Nostalgia Review)

Nostalgia Review adalah review dari game, anime, movie, novel lama yang saya pernah nonton, mainkan, atau baca.  saya akan menjelaskan lebih detil dan mendalam, karena itu Review ini akan spoiler.  You been warned…

Zen        :
“Saya Pertama Kali main Tales of The Abyss itu saat saya di Malang dan saya melihat teman saya memainkannya, saya jadi ingat Star Ocean. Karena sistemnya Realtime fight.  Kalau Herjuno sendiri, pertama kali kenal Tales of the Abyss kapan?”

Herjuno :
“Kapan pertama kali kenal Tales of the Abyss? Kalau nggak salah, sekitar tahun 2007-2008”

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/7/76/Talesoftheabyss_us.jpg


Zen        :
“Tahunya dari mana? Dari temen, dari rekomendasi misalnya?”

Herjuno :
“Waktu itu, saya memang lagi suka dengan J-RPG yang--kriterianya--"memiliki ilustrasi anime", seperti Radiata Stories dan Steambot Chronicles (keduanya di-publish oleh Atlus, omong-omong). Saya memilih game ini sendiri sebenarnya juga bisa dibilang kebetulan, karena, well, saya suka premis dan ilustrasinya saja ketika sedang mencoba-coba game di tempat penjualan game. Waktu itu, di toko game kan boleh mencoba game, jadi saya, sekali lagi, kebetulan menemukan Tales of The Abyss.  Sepertinya, ketika mencoba, saya tertarik dengan environment-nya, dan juga battle system-nya. Saya sempat mencoba sampai tutorial battle-nya, dan saya merasa tertarik.”

Zen        :
“Sementara saya saat itu pinjam sama teman. Soalnya game ini sama sekali tidak pernah terlihat di kotaku. Jadi saya coba dan tertarik sekali, Ingat tutorial sama si Van. Premis awal cerita kita langsung dibawa tentang sejarah Fonon dan Dewi yang ada di luar angkasa itu. Siapa lagi namanya?"

Herjuno :
“Yulia secara sekilas dia tampak sebagai Dewi Fonon.”

Zen        :
"Mari kita bicarakan soal Gameplay. Dari Menu screen yang ada. Saya harus bilang, saya agak merasa terbatasi karena inventory hanya bisa menampung 16 item per jenis. Menurut Herjuno bagaimana? Sementara Star Ocean saja maksimal 20 Item Per Jenis."

Herjuno :
“Iya, makanya. Tapi, regardless, bagi saya, ada item yang kalau 16 saja nggak cukup: Magic Lens. Tidak seperti game-game RPG lain, Tales of The Abyss (atau game Tales secara umum) tidak secara otomatis menampilkan status dari musuh kita--bahkan meskipun musuh itu bukan boss. Secara otomatis, jika kita ingin mengetahi status musuh (seperti HP dan kelemahannya), kita perlu mengandalakan Magic Lens. Nah, makanya, Magic Lens itu, bagi saya, termasuk item penting yang perlu bisa dibawa banyak dalam sekali angkut. :3”

Zen        :
“Hehe, Yah inventory yang bener-bener dibatasin itu salah satu kendala di dalam game ini. Apa lagi saat kita suka melakukan Combo magic dan attack. Energi karakter akan cepat sekali habis karenanya dan tidak ada suppli jika kita terlalu jauh di dalam Dungeon. Tapi, setidaknya Energi karakter bisa bertambah jika kita menyerang tanpa menggunakan skill.”

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/7/79/Tales_of_the_Abyss%E2%80%94Gameplay_2.jpg


Herjuno :            
“Ya, memang, untungnya bisa regenerasi, jadi tidak perlu mengandalkan item.”

Zen        :
“Game ini juga memberikan Fighting mode yang benar-benar nyaman yaitu no random battle. Musuh akan kita lawan jika kita sentuh dan terlihat. Tidak sekedar jalan dan BUM. Random Encounter. Bahkan ada Item yang bisa membuat musuh menjauh, bagi saya itu sangat-sangat bagus.”

Herjuno :
“Iya. Tales of The Abyss itu termasuk tipe game yang memungkinkan kita untuk memilih musuh mana yang akan kita lawan. Jadi kita bisa bisa menghindari musuh-musuh yang levelnya jauh di atas kita untuk menyelamatkan diri (dan menghemat item) atau jauh di bawah kita untuk menghemat waktu”

Zen        :
“Sementara untuk genre PS 2, sistem battle mode-nya amat inovatif. Ada empat karakter yang playable, bisa mengendalikan salah satu karakter, bisa kombinasi serangan dan skill, dan karakter yang tidak dimainkan juga dapat EXP walau separuh EXP-nya.  Jangan lupa saat memenangkan battle, kadang terjadi percakapan lucu. Salah satu yang paling memorable adalah percakapan Anise dan Jade soal kenapa Jade begitu kuat.  kalo menurut juno, sistem battle game ini bagaimana? Saya sih, merasa amat aktif. Karena ini sistem realtime. Bahkan bisa multi player sampe 4 player”

Herjuno :
“Battle dalam serial Tales itu memiliki sistem unik yang membedakannya dengan battle lain. Nama dari sistem battle ini kan Linear Motion Battle System (LMBS) di mana pergerakan karakternya hanya dibatasi dalam cakupan area dua dimensi (meski, nantinya, kita bisa membawa para karakternya untuk bergerak ke sana kemari dengan tombol tertentu).  Selain movement, hal yang saya sukai adalah personalisasi artes, baik karakter yang kita kendalikan maupun tidak.  Personalisasi artes memungkinkan kita untuk melancarkan serangan seefisien mungkin; damage maksimal dengan penggunaan TP yang efisien.  Adapun personalisasi artes bagi karakter lain berguna baik untuk menyerang (seperti mendayagunakan elemen untuk mengaktifkan Field of Fonon) maupun untuk bertahan (seperti penggunaan artes suportif seperti First Aid).  Instruksi ke karakter lain untuk melancarkan artes semacam Heal itu berguna jika kita mau menghemat atau sudah kehabisan item-item penambah HP seperti Apple Gel.

Zen        :
“Karena itu begitu banyak variasi dalam sistem battle ToA. Itu membuatnya menarik. Tidak lupa tantangan dalam game bisa disesuaikan. Mau Easy, Medium, Hard, Bahkan Very Hard. Boss Battle juga epik dan menantang. Over Drive dan Mystic Arts yang keren abis.”

http://i1.ytimg.com/vi/37NdUGyBpeQ/hqdefault.jpg


Herjuno :
“Ah, ya, itu. Sebenarnya ini merupakan sistem yang jamak dalam J-RPG sih (seperti Limit Breaks dalam serial Final Fantasy), tapi memang, setiap game punya sistem yang khas.  Favorit saya itu punya si Jade.”

Zen        :
Oke, sekarang kita ke Grafis. Grafis dari Tales of the Abyss adalah Anime Style dengan lingkungan 3D. Gambarnya terkesan halus dan nyaman dipandang. Juga repsentasinya pada setting sesuai sekali.  Kalau menurut Herjuno gimana soal grafisnya?

http://farm8.staticflickr.com/7058/6811127078_3f1d8d5192_n.jpg


Herjuno :
“Setahu saya serial Tales memang identik dengan wana-warna cerah, jadi enak dipandang.
Apalagi ada sisipan anime sebagai alternatif FMV, jadinya lebih variatif.  Saya juga suka desain karakter dan kostumnya--terlebih kita juga bisa mengganti-ganti kostum dari karakter.  Untuk representasi setting, saya suka penggambaran dari setiap daerah/kota. Tampak memiliki ciri khas masing-masing.  Sebagai contoh Chesedonia yang merupakan kota padang pasir itu digambarkan dengan baik dari segi bangunan-bangunan dan terrain-nya (gersang dan dominan warna cerah). Hal ini dapat dikontraskan dengan City Of Yulie Jue, yang ddidominasi dengan warna yang suram (ungu) sehingga suasananya beda.”

Zen        :
“Yah, saya setuju soal itu. Sekarang kita lanjut ke Story.  Menurut saya Story dari Tales of the Abyss is Legendary.  Bermula dari Kisah Luke Fon Fabre yang seorang Douchebag, yang pelan-pelan mulai belajar untuk saling mengerti dan jadi Hero.  Jujur saja, saya kesal sekali sama Luke, saya bahkan berpikir, “Is this really our hero?”  yah seperti itulah.  Juga kita bincangkan tentang judulnya, Kisah tentang Abyss. Abyss di sini maksudnya apa, Herjuno?”

Herjuno:
“Pertama, saya bicarakan judul dulu. Menurut saya, "abyss" ini mungkin mengacu kepada Qliphoth, realm yang ada di bawah Outer Land.
Dari penampilannya saja Qliphoth kan memang sudah tampak "suram", terutama karena pengaruh miasma yang mengelilinginya.
Tapi, kenapa Abyss, dan bukannya, semisal, Kimlasca atau Mallkuth begitu, saya kurang tahu.”

Zen        :
“Menurut saya sih, justru Abyss di sini adalah Miasma. Karena kisah ini fokus dalam melenyapkan Miasma dari seluruh dunia.”

http://25.media.tumblr.com/tumblr_lftyjg3JB41qgvvtno1_500.jpg


Herjuno :
“Bisa Jadi.  Jadi cerita Tales of The Abyss intinya adalah Dimulai dari karakternya, Luke fon Fabre yang memiliki karakteristik antihero (sombong, manja, mau menangnya sendiri).  Tapi di sepanjang cerita dia menyadari sifat buruknya itu dan mau berubah.  Sampai kemudian, ia menemukan siapa sebenarnya sendiri, which is, actually rather a surprise.  Memang, dengan penempatan Luke sebagai karakter utama, penyampaian plot-konflik menjadi lebih meaningful. Tales of The Abyss sendiri mungkin satu dari beberapa game yang pernah memainkan yang memiliki pesan moral yang banyak. We can virtually learn something from each character.  Impresi? Seperti yang saya bilang, plotnya tertata--baik dari segi plot utama maupun subplot. Saya sendiri memang suka tipe cerita yang setiap karakternya memiliki peran. Tales of The Abyss merupakan salah satu cerita yang memiliki karakteristik seperti itu. Mungkin, dari segi worldbuilding, ada beberapa informasi yang dijejalkan untuk menjelaskan konsep dunianya, tapi dengan konsep yang bervariasi dan sebanyak itu, mungkin cukup wajar bagi saya.”

Zen        :
“Game ini juga menyajikan banyak twist-twist yang tidak terduga sepanjang cerita. Setiap karakter punya twist. Tidak sekedar Good vs Evil. Lebih dari itu. Motif kedua pihak adalah demi kebaikan dunia menurutku. Soal story, saya tidak ragu memberikan game ini nilai penuh. Sekarang kita bicarakan soal karakter. Kalau menurut Juno, karakterisasi dan peran karakter di game ini bagaimana?

Spoiler Alert

Herjuno :
“Mulai dari Luke.  Luke memulai perannya sebagai seorang putra bangsawan yang sombong, manja, dan seenaknya sendiri (spoiled brat).  Dia juga emosional, dan cenderung tidak mau mengakui kesalahannya, bahkan setelah apa yang terjadi di Akzeriuth. Namun, setelah teman-temannya meninggalkannya, dia mulai sadar bahwa perilakunya selama ini salah, dan dia mau berubah.”



Zen        :
“Perubahan karakter dan alasan dia berubah itu adalah sesuatu yang perlu dipelajari oleh gamer.  Intinya setiap orang harus bisa berubah jadi yang lebih baik.  Sekarang ke Tear. Menurut saya Tear ini, karakternya unik sekali. Dia cool chick, yang agak2 tsundere, tapi dia mudah terenyuh sama yang lucu.  Cute lover."

http://i34.photobucket.com/albums/d143/talesofharmonia/tofg225toa12.jpg


Herjuno :
“Memang, tampak ketika ia pertama kali bertemu dengan Mieu.
Kalau aku tidak salah, Tear itu kan salah satu dari official di Order of Lorelei.
konfliknya sendiri menarik: 1. Atasannya adalah Grand Maestro Mohs (antagonis) 2. Kakaknya adalah Van (antagonis juga).  Tapi dia membenci Van dan ingin membunuhnya.  Intinya, dia ini tipe karakter yang enak buat dieksplorasi karena harus memilih sisi mana yang perlu diambil. Sebenarnya goal-nya kan simpel: Membunuh Van. Tapi menjadi tidak simpel karena keseret-seret Luke.
Eh, mungkin tidak sampai membunuh; cuma sampai menghentikan Van. Even the antagonists are splitted.

Relasi intercharacter ya. Memang sih, kalau--biasanya--di awal-awal digambarkan kalau karakter utama cewek itu lemah dan karakter utama cowok itu kuat. Di Tales of the Abyss sebaliknya; karakter utama cewek kuat dan karakter utama cowok lemah. Ini mungkin juga menambah keunikannya.
Di awal-awal loh. Di bagian akhir, tetap saja ditampilkan sisi kuat dan lemah dari tiap karakter.


Zen        :
“Yah, developer memang intens dalam membangun setiap karakter yang ada di game ini.  Semua berperan baik juga punya keasikan untuk dieksporisasi.  Lanjut ke karakter favorit mayoritas orang di Tales of the Abyss. Jade Curtis.  Kalau Herjuno pikir si karakter yang bener-bener unik ini gimana?”

Herjuno :
“One thing: his past is strong. Memang, sih, setiap karakter di Tales of the Abyss memang punya masa lalu masing-masing, tapi, menurut saya, Jade ini yang masa lalunya kuat.  Intinya, di balik sifat dan lelucon sarkastisnya, ada masa lalu yang suram. Dia juga jadi penyeimbang Luke yang serba-tidak-bisa.  kalau Luke-Tears itu humor relationship, Guy itu dengan fobianya, dan Anise dengan sifat matre & kekanakkannya, Jade itu dengan sifat cool dan humor sarkastis.”

http://i149.photobucket.com/albums/s72/Natalia_Luzu/Tales%20of%20the%20Abyss/Anise%20Tatlin/Anise_JadeNovel.jpg

Zen        :
“Kesimpulannya karakterisasi di game ini amat sangat menarik.  Intinya para developer sudah mempersiapkan game ini harus punya karakter yang memorable dan unik.  Tidak sekedar motif dan peran karakter, tapi juga sifat mereka unik satu sama lain.  Tidak ada yang sama.  That’s really awesome. 

Itulah percakapan antara saya dan teman saya yang sesama fans dari game Tales of the Abyss.  Sekarang saya lanjutkan review ini berdasar perskpektif saya pribadi.  Tales of the Abyss adalah game favorit saya sejak pertama kali saya memainkannya.   Mayoritas saya sudah sebut di atas dalam percakapan saya dengan Herjuno.

Tales of the Abyss adalah transisi Tales series dari Linear combat system menjadi 3D Free Run Combat System.  Keputusan ini cukup kontroversi.

Game ini dibuat oleh tim Namco Bandai, disutradarai oleh Yoshito Higuchi, diproduseri oleh Makoto Yoshizumi.  Artist-nya adalah Kosuke Fujishima. 

Kisah dimulai dari Luke Fon Fabre seorang anak dari Duke Fabre.  Dia belajar dari guru ahli pedangnya Van.  Kemudian kemunculan Tear Grants yang menyebabkan petualangan Luke terjadi.  Luke adalah seorang yang terisolasi dari dunia luar dan Tear adalah yang membuat Luke mulai membuka mata tentang dunia luar.

Luke awalnya adalah seorang karakter yang menyebalkan siapapun yang memainkan game ini.  Dia orangnya egois, tidak peduli sama orang lain, juga bersikap benar-benar seenaknya.  Tidak punya tata krama lebih tepatnya. 

Terutama saat Luke pergi ke sebuah lokasi pertambangan bernama Azkeriuth, aku yakin semua gamer yang main game ini merasakan betapa menyebalkan Luke and really want punch him at the face. Namun, di sana pula Luke mendapati tentang siapa dirinya dan akhirnya mulai berpikir untuk berubah.  Di sinilah juga game mulai tampak menunjukkan sisi Hero si Luke.

Kalau kalian main game ini, saya rasa mayoritas paling jarang memakai si Natalia, well I see in this game archer is quite sucks in this game.  Sering mengalami miss target.  Namun, di sisi karakter Natalia adalah karakter yang saya sangat suka.  Dia sebagai princess benar-benar bersikap sebagai seorang princess.  Ada adegan saat Natalia menyerahkan sepenuhnya hak nikahnya pada sang Ayah karena dia mau melayani negerinya (Baticul) sebaik-baiknya.  Jujur saja, sangat jarang ada cerita tentang princess-princess dari game, movie, manga, anime yang bersikap demikian.  (as I know).  Kisah cinta Natalia dan Asch juga sangat menyentuh.  Natalia tumbuh dalam kebohongan, twist-twist yang sangat mengejutkan, juga kisah cintanya dengan Asch yang penuh dengan intrik, namun dia tetap menjaga dirinya untuk tetap tangguh demi orang-orang di sekitarnya.

http://prntscr.com/2ug8qp


Guy Cecil adalah karakter unik lain yang phobia dengan cewek, awalnya banyak yang menduga ini hanyalah lelucon buatan developer.  Itu sering terjadi di banyak cerita, tapi tidak untuk yang satu ini.  Karena Guy punya alasan khusus kenapa dia phobia dengan cewek.

http://media.animevice.com/uploads/0/36/27354-guy_large.jpg


Plot dan twist di game ini sangat menarik di mana setiap karakter punya alasan masing-masing di dalam quest baik antar villain dan juga antar sesama Ally.  Motif kedua belah pihak ini tidaklah jauh berbeda tujuannya tapi mereka punya metode yang berbeda.  Kenapa tim villain ikut dengan si Super Villain?  Alasan mereka kuat.  Hingga sepanjang memainkan game ini sangat menarik untuk melihat bagaimana pertumbuhan karakternya terutama dalam segi moralitas.



Sepanjang game, semakin jauh diikuti, semakin menghanyutkan.  Tidak lupa dengan humor-humor segar yang lucu, baik di dalam skit-skit maupun di cutscene.  Beberapa NPC juga sangat likeable.  Saya sangat suka dengan Noelle si Pilot Albiore II.  Kadang-kadang saya bahkan mau buat cerita khusus untuk dia (fanfic gitu).



Seperti yang saya dan Herjuno bicarakan di atas.  Bagaimana tim developer membangun chemistry antar karakter sangatlah baik.  Beberapa RPG lain kadang-kadang alasan karakter ikut dalam quest sangat simple dan tidak kuat.  Bahkan kadang ada yang hanya tidak sengaja bertemu dan ikut dalam quest.

Game ini juga banyak Side-quest yang ada hanya untuk senang-senang ada juga yang memang membuka subplot dari cerita utama.  Salah satunya adalah side-quest dari Nebilim.  (damn that one really take forever), Cecille and Frings Quest yang sangat menyentuh, beberapa quest bertingkat yang asik dan reward dari quest-quest tersebut ada beberapa yang sebenarnya kecil, ada pula yang benar-benar sangat menyenangkan.  (kostum dan item-item special).


 
Musik di game ini juga sangat memorable dibuat oleh Motoi Sakuraba, Shinji Tamura, Motoo Tamura.  Setiap kota punya tema masing-masing, setiap dungeon juga punya musik-musik sendiri.  Selain itu ada juga musik tambahan dari Bump of Chicken yaitu Karuma sebagai opening dan juga ada beberapa remix di dalam game.



Voice acting di game ini sebenarnya cukup bagus tapi tetap masih kurang memuaskan seperti versi Jepangnya.  Ditambah lagi ada banyak voice yang hilang di dalam game.  Skit, Opening Song, dan juga beberapa kurang ekspresif.  Jika kalian mau benar-benar sepenuhnya merasakan pengalaman dari game ini, main versi Undub.



Kapanpun saya memainkan game ini, yang rasakan adalah marathon of epicness.  Walau ada beberapa keluhan saya seperti no skip scene feature.
Tentu saja Tales of the Abyss is… .

Amazing because It's Epic


Terima kasih sudah membaca review ini, saya berterima kasih pada Herjuno Tisnoaji yang sudah menemani saya di review ini, sori saya lama baru bisa posting.  Jadi apa kalian sudah pernah mencoba memainkan game ini dan apa pendapat kalian?  Komen di bawah dan dengarkan apa kata Yui di samping =>

Sampai jumpa hingga saya memikirkan sesuatu yang lain lagi.