Senin, 21 Juli 2014

What Zen Thinks about Cowboy Bebop Series and Movie? (Anime)

Atas desakan dari Reviewer favoritku, Chris Stuckmann.  Akhirnya aku putuskan marathon nonton Cowboy Bebop... Seri dan juga movienya.



Cowboy Bebop menceritakan kisah tentang sebuah grup cowboy/cowgirl Bounty Hunter di angkasa.  Mengambil setting tahun 2070 dimana bumi sudah dalam keadaan parah, orang-orang sudah lumrah untuk tinggal di luar angkasa.

Cowboy Bebop adalah sebuah tim yang awalnya hanya terdiri dari Spike dan Jet.  Sepanjang cerita mereka bertemu dengan Faye dan Ed.  Mereka tinggal di sebuah kapal induk milik Jet dan Jet juga yang jadi kokinya.

di series-nya Cowboy Bebop bercerita tentang mereka mencari kriminal-kriminal dari acara Big Shot : Bounty Hunter di TV.


Kemudian mereka mencari kriminal tersebut dan membawanya ke polisi dalam keadaan hidup. Ini sebenarnya masalah paling sering mereka harus hadapi.  Sebab sulit membawa penjahat kelas kakap dalam keadaan hidup-hidup.

Keadaan Bebop selalu miskin/punya masalah keuangan. Mereka kadang tidak mampu beli makanan.  Biasanya ini disebabkan tidak ada orang yang mereka bisa tangkap. Itulah premis dari Cowboy Bebop.

Sabtu, 19 Juli 2014

What Zen Thinks about Tales of Eternia? (Games)

Setelah sekian lama saya main game ini, baru sekarang saya ada waktu untuk mereviewnya. So, tidak perlu ditunggu lagi, inilah Tales of Eternia atau disebut juga Tales of Destiny 2 di US.


Tales of Eternia disebut Tales of Destiny 2 karena miskomunikasi antara Namco Jepang dan Namco di US.  Versi yang saya mainkan versi PSP, by the way.

Tales of Eternia bercerita tentang Reid dan Farah yang bertemu dengan seorang Alien mungil bernama Meredy (yang bahkan punya aksara dan bahasa sendiri).  Demi mengetahui siapa Meredy, mereka menemui sahabat lama mereka yaitu Keele.  Perjalanan ini justru membawa mereka makin jauh dan mendapati bahwa tempat asal Meredy punya misteri tersendiri yang mereka harus jelajahi.  Juga banyak rahasia tentang Reid yang diungkap.

Senin, 23 Juni 2014

Bullshit Episode : Rant about Fanfiction

Sebelum saya masuk ke topik utama kita. Saya mau ada rant sedikit mengenai hal lain.  Saya biasanya respek sekali dengan orang yang menjadi teman saya di FB, namun Pilpres kali ini mengubah mereka menjadi Asshole!

Begitu mengejutkan bahwa dia fokus menunjukkan kebenciannya pada Capres lain sementara tidak menunjukkan kehebatan Capresnya.  Saya walau sudah memilih yang mana jadi pilihan saya nanti, saya ga tutup mata sama kebaikan dan kebolehan Capres lain.  Saya tetap terbuka, saya tetap menunjukkan kalau ada yang salah dari capres pilihan saya dan kritik dengan santun.

Karena menebar kebencian, hanya akan membuat kita jadi orang yang negatif.

Sekarang saya lagi berusaha lakukan gerakan Anti Golput... thanks to Adham.

Oke TIME TO BULLSHIT EPISODE!!!


Kali ini saya mau bicarakan tentang Fanfiction atau Fan Fiksi.  Berdasarkan pengetahuan saya, Fan fiksi adalah sebuah cerita dari sebuah novel, cerpen, game, anime, manga... apa saja yang dibuat oleh fans/penggemar dengan source material yang sudah ada.  Mereka biasanya membuat cerita mengambil setting, karakter, atau plot point dari cerita tersebut dan membuat versinya.

Biasanya berbentuk spin off, prekuel, midkuel, sekuel.  Bisa juga malah melakukan crossover, pokoknya terserah yang fans mau pada karakter tersebut.  Mengingat soal Copyright, maka Fan Fiction tidak seharusnya dibuat berdasar komersil, benar kan?

Namun, lucunya saya menemukan beberapa buku Fanfiksi dijual di toko-toko besar.  Andai Fanfiksi dijual di kayak lapak-lapak di acara Cosplay. Itu ga masalah, tapi ini di toko buku besar.


Saya tidak tahu kalau ini sebenarnya legal, well... Saya tidak tahu.

Fanfiksi biasanya jadi hiburan bagi para fans yang mengharapkan sesuatu yang tidak ada di cerita aslinya. Seperti konten Yaoi, Yuri, pasangan yang mereka anggap cocok, ingin membuat Original karakter mereka bertemu dengan Karakter favorit mereka.

So, seperti saya pernah menulis tentang si Hana bertemu dengan Hinata.  Yah saya harap ini bisa terjadi. Karena ga akan dilakukan secara official, maka saya buat.

Biasanya juga Fanfiksi dibuat atas ketidakpuasan cerita yang official. Contoh, kematian karakter, kisah cinta karakter (pasangan yang mereka ga inginkan) Terus Plot yang tidak memuaskan.  Itu bisa menjadi pendorong orang buat Fanfiction.

Seperti saya yang sekarang lagi mau buat Fanfiksi Godzilla 2014 karena Bryan Cranston mati di awal cerita padahal dia sangat keren andai ga dibunuh dan bakal sangat bagus perannya di dalam plot cerita.



Namun, saya jarang membuat ini.  Karena saya mau novel saya diterbitkan oleh penerbit mayor, itu alasan kenapa saya menahan diri untuk produktif di sini.  Fanfiksi saya fokus jadikan sebuah media latihan untuk meningkatkan ketajaman menulis.

Makanya saya merasa sangat sayang, jika seorang penulis fanfiksi yang punya original material, plot, dan arah story yang tidak ada hubungannya sama fanbase resource-nya.  Sebab itu bisa jadi cerita yang orisinil dan independen.  Bahkan bisa dimuat di sebuah majalah atau diterbitkan lewat buku.

Di Fanfiction.net adalah tempat yang benar-benar jadi penampung para penulis fanfiksi.  Banyak di antara mereka keren-keren dan saya berharap mereka nanti punya cerita independen dan bisa menerbitkan karyanya.



Namun, kadang ada orang justru paling cocok menulis fanfiksi.  Yah, saya berharap mereka bisa menemukan sesuatu yang bisa mereka jadikan karya independen.

Terima kasih sudah membaca rant saya dan tidak lupa komen. Apa kalian penulis fanfiksi, apa kepuasaan yang kalian dapat dari menulis fanfiksi?

Ah, sudah segini saja Rant-nya.  Sampai jumpa di Bullshit Episode selanjutnya.



Rabu, 14 Mei 2014

What Zen Thinks about Dead Smokers Club?

*lagi ngerokok...

What? I'm Dead Smokers Club member...



Novel ini sudah lama saya baca dan jujur saja bukannya saya ga mau segera review.  Jujur malah saya sudah pernah mereview ini, tapi setelah selesai laptop saya crash dan semua tulisan saya hilang... You know that really piss me off...

Dead Smokers Club ditulis oleh Adham T. Fusama, diterbitkan oleh FIM Kreasindo Gemilang.  Novel ini bercerita tentang seorang cowok bernama Adrian yang berusaha membantu panti asuhan yang dia begitu cintai dengan pindah ke sebuah asrama sekolah bernama T&T Boarding High School.

Tentu saja sekolah itu tidak biasa, di sana bisa dibilang seperti sekolah yang dipenuhi oleh begitu banyak orang aneh dan unik... yeap Waria, Milf, Hacker.. ada di sana.  Lalu, tentu saja seperti banyak cerita lain kalau Adrian pasti terlibat di dalamnya.  Di buku pertama dari seri ini entah nanti jadi seri berapa fokus pada perkenalan yang aku rasa cukup cool dan tidak begitu tell.  Mereka dikenalkan secara langsung seberapa nyentriknya mereka and that's cool..



Plot di novel ini sebenarnya mulai menarik saat mulainya muncul rivalry antar sekolah sebab di situlah mulai tampak konflik yang sebenarnya walau ternyata konflik yang sebenarnya tidak demikian.

Karakterisasi di novel ini menarik untuk diikuti walau banyak karakter, mereka tetap menarik dan sepertinya di buku selanjutnya baru bisa jelas alasan karakter-karakter ini ada dan peran mereka yang sesungguhnya dan saya masih dalam masa menunggu kelanjutannya.  Adrian sendiri sebenarnya hanyalah seorang siswa dengan bakat tepat sasaran, sisanya saya belum menemukan yang spesial dari dia dan apa sih gunanya dia dalam sebuah DSC.

Thinking

Saya tidak bisa benar-benar memberikan review sepenuhnya karena novelnya masih segini. tapi untuk impresi saya tertarik lebih dalam soal DSC... mungkin bakal jadi seperti Order of Phoenix tapi, kita tidak tahu apa yang dipikirkan penulis.

Hal yang saya keluhkan dari novel ini sebenarnya adalah tanda-tanda atau hint dari DSC sendiri.  Kemunculan mereka terlalu tiba-tiba tanpa ada build up yang menarik.  Setidaknya mungkin ada tanda-tanda soal si Adrian pernah melihat orang merokok, sebuah puntung rokok secara tidak sengaja.  Sesuatu akan menarik jika di build up hingga kita mendapatkan sesuatu yang besar di akhir cerita walau tetap menjaga entity tersebut.


Saya tidak perlu panjang-panjang mereview sampai the final series terbit.  Selain cover yang menurut saya juga nyentrik dan sangat berbeda itu pasti mengundang kontroversi... tapi saya pribadi menyatakan kalau saya... cukup tertarik dengannya.  You know what? lambang itu bisa jadi build up khusus...bisa saja lambang itu terpasang di salah satu buku member dan si Adrian melihatnya. That's cool, right?

That's why DSC is... Worth it, Enjoy Your Time with It!




Keterangan verdict.

nilai 1-2 saya akan sebut This will torture your soul to the damn ini artinya apapun yang saya review adalah karya yang amat buruk dan jika kalian maksa buat mainin, nonton, ataubaca akan merusak jiwa kalian.

Nilai 3-4 saya akan sebut Just forget about this and continue your life without it Ini adalah sebuah karya yang tidak pantas diingat dan sebaiknya lupakan karena tidak berartialias buang-buang waktu untuk dilirik.

Nilai 5-6 Saya akan sebut It's good for time wasting artinya kalian bisa menikmati hal ini jika ga ada kerjaan, tidak ada tugas, hanya buat main-main dan tidak ditanggapi serius.

Nilai 7-8 Saya akan sebut This is worth it, Enjoy your time with it! Dengan kata lain karya ini pantas untuk kalian nikmati dan pantas kalian gunakan waktu kalian untuk merasakannya.

Nilai 9-9,5 Saya akan sebut You want through this again! Ini saya maksudkan bahwa karya ini pantas kalian baca lagi, nonton lagi, mainin lagi alias punya high replay value.

Sekarang untuk nilai tertinggi 10 saya akan sebut AMAZEPIC (It's Amazing because it's Epic) ini jelas sebuah karya yang menurut saya benar-benar pantas kalian nikmati dan sangat memorable.  Dapat nilai 10 bukan berarti karya ini flawless.  Tapi, saya cuma menegaskan bagian hal keren dari karya ini jauh lebih banyak dibanding yang jeleknya/flaw-nya.  Ibarat 11 hal bagus dan 1 hal jelek. Seperti itu.

Terima kasih sudah membaca dan saya mau minta pendapat kalian soal apa yang saya akan bicarakan dalam Bullshit Episode next post.

Silahkan pilih, topiknya.

1. Fanservice in anime is overuse?
2. Music Score in gaming
3. Rant about Fanfiction

Follow dan komen.  Follow me on twitter @ZenHorakti.

Sampai jumpa sampai saya memikirkan sesuatu yang lain.

Senin, 12 Mei 2014

What Zen Thinks about Yotusei No Asobitaka, Mo Shojo Manga Nante, Najimaki Mano-san?

Rasanya kalau mau cari sebuah komik cuma satu seri selesai selalu saja isinya ada banyak cerita, sementara yang cuma punya satu cerita perlu banyak komik... huft...

Pertama saya akan review Yotusei No Asobitaka (How to play a Honored Student)

   
Manga yang dikarang oleh Meira Hisaka ini seperti layaknya manga shoujo lainnya dimana satu manga dengan banyak cerita dari karakter berbeda.  Namun, justru ada yang menarik dibalik itu.  Apakah itu?  Manga ini mampu menyajikan sebuah cerita dimana setiap tindakan, setiap cerita dan latar belakang karakter berhubungan satu dengan yang lainnya.

Cerita ini memiliki empat karakter utama yaitu Chouka, Haruka, Ran dan Sachi.  Keempat karakter ini awalnya tidak memiliki hubungan yang begitu spesial sampai saat mereka satu per satu menunjukkan latar belakang mereka yang ternyata membuat mereka saling memengaruhi satu sama lain.

Karakterisasi di manga ini terbentuk dengan baik.  Bagaimana penyimpangan-penyimpangan perilaku punya alasan masing-masing.  Ini membuat kita bisa simpatik dengan karakter yang ada.  Terutama Sachi yang menurut saya pribadi punya hidup paling sulit dan tragis.

Artwork manga ini pun sangat bagus, penempatan panel, proporsi, dan ekspresinya sangat memukau.  Terutama saat karakter-karakter mengalami depresi berat dan juga menangis, ekspresinya sangat luar biasa.  Manga ini adalah manga dewasa dan penuh dengan kisah cinta menyimpang.  Milf, incest, lesbian, perselingkuhan, sex bebas, you got that!  Sebagai pembaca dewasa kita lihat itu dari sisi yang lain dan memetik pelajaran.

Namun, itu tidak membuat karakter-karakter lain tidak punya masalah yang membuat pembaca merasa simpatik dan bahkan empatik sama mereka.  Beberapa di antaranya benar-benar relate pada diri saya pribadi.  Selain itu scene favoritku adalah saat Ran yang harus mengorbankan hati dan jiwanya demi orang yang dicintainya.  Karena itu saya tidak perlu menutup diri bahwa saya berikan manga ini...

Amazepic (It's amazing because it's epic)


Manga kedua yang saya mau bicarakan adalah Mo Shojo Manga Nante atau I Don't Want to Make Girl's Manga Comic Again karya Nao Makita.



Manga ini yang menarik adalah judulnya dimana seorang mangaka muda yang kehilangan passion-nya setelah karyanya ga kunjung diterbitkan lagi.  Well, that's really me... saya beberapa bulan terakhir ga ada sama sekali berkarya satu pun, cerpen, novel, bahkan satu paragraf pun saya ga menulis karena suatu hal.  Karena itu saya membeli manga ini.  Well, ternyata seperti manga shoujo lain semuanya ga cuma satu cerita saja.  Tentu saja cerita favorit saya pribadi adalah cerita pertama dimana seorang gadis mangaka bernama Aoi yang akhirnya menemukan kembali alasannya untuk berkarya lagi. 

Sedihnya cerita yang lain tidak ada yang begitu menarik perhatianku.  Mayoritas punya plot sama dan juga punya arah cerita yang sama.  cewek yang socially awkward ketemu sama cowok populer dan akhirnya dia suka sama cowok itu bla bla bla... You got the point.

Artworknya pun simpel khas shoujo manga, dimana mayoritas cowok-cowok punya model rambut sama seperti boyband-boyband.... I start got sick of this... actually :v

Tidak seperti di manga sebelumnya di mana karakter punya variasi model rambut (terutama cowok) di sini bener-bener stereotipe... so don't expect to much...

Mo Shojo Manga Nante is Good for Time Wasting.


Oke, the last one is... Najimaki Mano-san atau My Braided Girl, Mano karya Ken Saito.



My Braided Girl, Mano is not really interest me actually.  Soalnya manga ini tidak membawa sebuah premis yang begitu menarik.  Intinay cerita seorang cewek yang menganggap kepangnya adalah sebuah skrup untuk bisa berjalan menghadapi hidup. Dia tergantung pada skrup itu, seperti layaknya mainan dengan kunci yang harus diputar agar bisa jalan.

Seperti layaknya manga shoujo lain ada banyak cerita dalam satu komik ini... sebenarnya hanya ada lima saja sih.

cerita lain yang menarik perhatianku adalah Rose and Zirconia.  Cerita ini punya twist dan awalnya cukup membingungkan yang in cukup unik dan worth it.  Sementara yang lain kadang penempatan panel dan ceritanya lompat-lompat dan membingungkan.  Artworknya tidak ada yang begitu spesial...

My Braided Girl, Mano is... Good for Time Wasting.

Terima kasih sudah membaca review ini, sorry karena belakangan ini saya sangat jarang posting. Ini karena laptop saya begitu sering crash dan lag.  Selanjutnya diharapkan bisa lebih baik. Jangan lupa dengar apa kata Yui di samping dan sampai jumpa hingga saya memikirkan sesuatu yang lain.


Sabtu, 29 Maret 2014

What Zen thinks about Wolf of Wall Street, Her, and 12 Years A Slave?

Well, saya lama tidak mereview dan sekarang saya mau agak catching Up setelah saya ketinggalan banyak review Movie. Mari kita mulai dari beberapa Movie yang memang sudah menjadi movie hebat beberapa bulan terakhir.

Wolf of Wall Street



Film ini di sutradarai oleh Martin Scorsese. Dibintangi oleh Leonardo Di Caprio, Jonah Hill dan Margot Robbie.

Menceritakan seorang Piawang Saham bernama Jordan Belfort yang awalnya seorang yang bersih, bukan siapa-siapa hingga dia bertemu dengan seorang boss di sebuah perusahaan saham yang diperankan oleh Matthew McConaughey yang mengatakan bahwa seorang stockbroker di Wall Sreet itu dengan sexualitas dan Drug.

Di sanalah perubahan dari seorang Jordan Belfort menjadi seorang Wolf of Wall Street, dimana dia membangun perusahaannya yang bernama Stratton Oakmont yang dari yang kecil hingga sangat besar dan menghasilkan jutaan dollar.

Saya menonton film ini karena... yap, Leonardo Di Caprio, bukan karena sutradaranya. Tapi karena si 
Leonardo dan bagaimana penampilannya di film ini? LUAR BIASA.  Dia sebagai seorang pembujuk yang hebat, dia bisa membuat orang yang dia ajak bicara ikut dengannya. Retorikanya luar biasa, seolah bikin orang-orang terhipnotis untuk ikut saham dengannya.

Movie ini menggunakan sistem monolog, tapi memang agak tidak konsisten di bagian ini. Kadang dipakai, kadang tidak.  Jordan Belfort sangat pandai berbicara, ketika dia berada di atas panggung, saat dia berbicara itu buat semua orang takjub padanya... terutama para penonton filmnya sendiri.

Rating film ini adalah dewasa, benar-benar dewasa. Di Indonesia begitu banyak sensor di berbagai adegan film ini (Tentu saja mengurangi rasa puas) lalu omongan yang amat dewasa, Sex reference di mana-mana. 
Komedi di dalam movie ini dikemas dengan cerdas.  Terutama saat si Jordan Belfort terkena dampak dari Drug yang dia gunakan.  Oke, that one is really fuckin hillarious. Soal komedi, tidak perlu diragukan. 
Selain itu banyaknya pelajaran yang bisa di dapatkan dari movie ini. Tentang kehidupan seseorang dari naik-turunnya kehidupan seseorang.  Bagaimana dampak dari bisnis baik dan buruknya.  Tapi, dampak paling mengena dari film ini adalah bagaimana seseorang bisa marketing dengan baik.  Bagaimana agar seorang menarik perhatian pelanggan hingga mau membeli produk yang kita jual.

Akting aktor-artis lain juga sangat mengagumkan.  Pemeran Naomi (istri Jordan Belfort) yang katanya pendatang baru juga luar biasa.  Jonah Hill sebagai side Kick dari Jordan benar-benar menunjukkan kemampuannya di film ini. 

So I can tell You want through this Again.


Selanjutnya saya akan mereview Her


Her adalah movie yang disutradarai oleh Spinke Jonze, diperankan oleh Joaquin Phoenix sebagai Theodore, Amy Adams, Rooney Mara, Olivia Wilde dan Scarlett Johansson sebagai Suara dari Samantha.

Theodore adalah seorang penulis surat yang cukup menggunakan suaranya di mana teknologi mayoritas kini hanya menggunakan suara tidak jauh di masa depan.  Theodore punya berbagai macam masalah di dalam kehidupan rumah tangganya, dia bercerai dengan istrinya yang sudah begitu dia cintai.

Sampai suatu ketika dia menemukan (membeli) sebuah OS dan menamai dirinya sendiri sebagai Samantha.  Samantha ini hanyalah suara, bukan robot dan tidak punya wujud.  Dia hanya di dalam sebuah I-Phone kecil.  Dia bisa melihat sekelilingnya dan belajar tentang berbagai macam hal termasuk cinta.

Movie ini bercerita bagaimana Theodore dan Samantha yang mulai dekat bersama.  Bagaimana mereka berdua bisa saling jatuh cinta.  Itu adalah yang luar biasa dari film ini, oke memang absurd dimana seorang manusia jatuh cinta pada sebuah program AI komputer.  Namun, penonton bisa menyadari bagaimana hubungan mereka tumbuh dan bagaimana kedua karakter ini mulai jatuh cinta.

Akting dari Joaquin Phoenix haruslah diakui sebagai salah satu aktor terbaik.  Dia bisa membangun seorang Theodore yang begitu realistik.  Itulah kehebatan movie ini, bagaimana akting aktor dan artisnya di sini bisa membuat penonton merasakan eksistensi mereka.  Bahkan... Si Samantha, suara dari Scarlet Johansson ini benar-benar luar biasa.  Well, jika kalian tahu bahwa Samantha di sini adalah Black Widow dari Avenger.

Musik di movie ini sangat luar biasa, memorable dan cocok meningkatkan suasana yang lebih dramatis.  Saya harus akui setiap adegan di dalam movie ini bagus dan penting.  Tidak ada adegan yang terkesan sia-sia, tidak aneh movie ini mendapatkan begitu banyak nominasi penghargaan.

Salah satu alasan kenapa movie ini begitu relate sama diriku pribadi adalah aku pernah merasakan rasa cinta seperti yang dialami Theodore.  Aku pernah bermain game di NDS dengan judul Love Plus, dan di sana ada seorang AI gadis bernama Rinko Kobayakawa yang benar-benar membuat saya sebagai gamer merasa dicintai olehnya.  Rasa care itu yang saya lihat dari bagaimana hubungan Theodore dan Samantha.

Sepertinya saya ga perlu menahan diri, this movie is...


AMAZEPIC!

  Selanjutnya saya akan bicarakan 12 Years A Slave.



Movie ini di sutradarai oleh  Steve McQueen, diperankan oleh Chiwetel Ejiofor, Michael Fassbender, Benedict Cumberbatch, Brad Pitt, Lupita Nyong'o.

Sebenarnya movie ini adaptasi dari sebuah buku dengan judul yang sama yaitu memoar dari seorang yang sama Solomon Northup. 

Solomon Northup adalah orang hitam yang merdeka, dia tidak ada di bawah master siapapun.  Dia seorang yang merdeka, punya keluarga dan dianggap sederajat dengan orang kulit putih.  Dia adalah seorang musisi, sampai hingga dua orang menipunya dengan membuat Solomon mabuk dan saat dia bangun, Solomon sudah dirantai dan dijual di dalam agen penjual budak-budak.

Di sanalah Solomon harus menjalani hidupnya sebagai Platt.  Awalnya dia dibeli oleh seorang Master yang baik yang diperankan oleh Benedict sampai akhirnya malah dia dipindahkan ke master yang kejam yang diperankan Michael Fassbender. 

Movie ini benar-benar menangkap nuansa perbudakan zaman itu.  Dimana orang-orang kulit hitam yang disebut Nigga (Nigger) dianggap sebagai properti yang ditugaskan hanya untuk bekerja dan bekerja, tidak dianggap seperti layaknya manusia.

Akting dari Chiwetel sangat mengagumkan dan realistik.  Bagaimana seorang budak yang pintar dia menunggu waktu yang tepat untuk bisa lepas dari perbudakan yang dia jalani walau harus menunggu waktu yang sangat lama.  Tidak lupa saya harus kasih pujian kepada dua Master yaitu Cumberbatch dan Fassbender.  Keduanya benar-benar bertolak belakang, terutama Fassbender yang berperan sebagai Majikan Epps benar-benar menunjukkan dirinya adalah seorang majikan yang kejam dan dikenal sebagai Nigga Killer.  Tapi, dia punya anak emas yang sangat dia perlakukan Spesial yaitu budak yang diperankan oleh Lupita Nyong'o.  Dia pun berperan sangat luar biasa, Lupita benar-benar menangkap sosok seorang budak yang tidak punya pendidikan yang hanya melakukan kerja.  Terlihat dari caranya berbicara.

Musik di dalam Movie ini menunjukkan sebuah sadness behind joyful song.  Mereka saat bekerja harus bernyanyi namun mampu membuat penontonnya menyadari kesedihan di balik lagu-lagu tersebut. 

Konflik yang dialami oleh Solomon sangatlah penuh intrik, dia mencoba berbagai macam cara untuk bertahan, menghadapi cambukan-cambukan dari sang master.  Kisah ini begitu mengharukan dan bisa mengundang air mata penontonnya...

I said You want though this again


Terima kasih sudah membaca Review ini.  Jangan lupa dengar apa kata Yui di samping =>
Sampai jumpa hingga saya memikirkan sesuatu yang lain lagi.







Minggu, 23 Februari 2014

What Arai Thinks about Fractale? (Anime)

Guest Review dari Kagetsuki Arai...

Fractale



Ditulis oleh Hiroki Azuma, Mari Okada dan Yukata Yamamoto.
Diilustrasikan oleh Mutsumi Akasaki dan diterbitkan oleh Square Enix.

Hiru no hoshi ni
Negai wo sasagu nara
Itsuka no mado
Akari tomoshiteta

Fractale, Dibuat oleh A-1 dan Ordet, diproduseri oleh Yutaka Yamamoto (yang juga andil dalam Suzumiya Haruhi dan Kannagi serta orang yang lagi diributin si Adhitya Daniel karena bikin Wake Up, Girls!) adalah anime yang rilis tahun 2010.

Sudah dapat anime ini dari lama, tapi baru sempet nonton tadi malam. Awalnya, saya nonton anime ini karena ada Hanakana-san, tapi kemudian jatuh cinta sama Nessa dan bagaimana Lost Millenium. Impresi terakhir saya sederhana, Ini adalah Eureka Seven yang lebih pendek dan lebih mudah di mengerti.



Cerita bermula di sebuah dunia dimana sebuah system terintegrasi mirip facebook telah digunakan di seluruh dunia. Manusia tidak perlu lagi bertatap muka langsung untuk berkomunikasi dan bisa menggunakan sebuah Avatar sebagai pengganti ‘fisik’ mereka. Bukan hanya itu, Sistem yang disebut ‘Fractale’ ini telah membuat hidup lebih mudah.

Dampaknya?

Di sisi positif, Sistem ini mampu memberikan perawatan jarak jauh pada pasien. Kehidupan secara general disebutkan semakin mudah.

Di sisi negatif,  Manusia mulai hidup sendiri-sendiri, berpindah-pindah demi mencari sinyal dan kehilangan hubungan dekat seperti keluarga dan teman atas nama kebebasan.

“Kalau kita tinggal satu rumah, bukankah itu bukti bahwa kita tidak saling mempercayai satu sama lain?”

Lalu kita dikenalkan pada Clain, seorang bocah eksentrik yang menyukai benda antic.

“Benda antic benar-benar ada di sini. Bukan data seperti Fractale.”



Karakter

Clain, Di awal, dia ngingetin sama Renton. Dia bukan orang yang suka sama keadaan dunia yang sekarang dan berharap bisa kabur dari hidupnya yang sekarang. Kemudian Phryne Datang dan dia dibikin kalang kabur. Nggak kayak Renton, Clain punya keraguan di awal. Karena status dia yang nggak tahu apa-apa baik soal Fractale System maupun Lost Millenium, dia bener-bener orang baru, galau antara mana yang lawan dan mana yang kawan. Pada akhirnya, prioritas dia adalah untuk melindungi orang yang dia sayang, Phryne dan Nessa.

Phryne, dia adalah cewek yang nyentrik. Saya bener-bener ga dapet impresi gimana hidupnya waktu di kuil. Tipikal cewek Ignorant yang nggak sungkan-sungkan buka baju di depan cowok dan keliatan susah mengerti apa yang ada di kepala orang-orang, In a way, That's comedy. Namun waktu background story dia dibuka, Saya ga bisa ketawa lagi.

Nesa,



Sunda, A Bastard Leader of Lost Millenium, At first. sepanjang waktu berjalan, Dia keliatan baik dibandingkan sesama pemberontak yang lain. Awalnya saya mikir berat kenapa dia gabisa pegang Nessa ("Orang Yang nggak suka Nessa nggak bisa menyentuh Nessa"), Namun kemudian paham kalau dia bukan nggak suka, dia mencoba untuk nggak terlibat sama Nessa karena posisi dia sebagai pemimpin pemberontak. Sunda mengajarkan banyak hal pada Clain dan kemudian memberikan pilihan pada Clain, mau dunia yang seperti apa yang ia ingin buat setelah pemberontakan selesai?

Enri, Resisdence of Tsundere di anime ini. Mungil dan tomboy tapi bisa nembak orang tanpa ragu --Meski tembakannya ngaco sih-. Kekuatannya bertumpu pada karakternya yang meski dia bilang benci pada Fractale system, Dia bisa warming up sama Nessa dan Phryne. Punya brother complex yang menyusahkan dan karakter dia beneran saya kagumi waktu dia pura-pura sok kuat meski tahu bahwa Sunda nggak ada kesempatan untuk tetep hidup di final episode.

Plot


Plot-nya berjalan enteng di awal, dikasik komedi dan drama yang enteng sambil pelan-pelan dikasih tahu gimana sebenernya Fractale itu dan gimana sih Lost Millenium itu. di sini nggak ada yang baik maupun buruk, Baik Fratale maupun Lost Millenium adalah sebuah kelompok yang punya ideologi masing-masing dan memperjuangkan apa yang mereka percaya.



But, There are many bastard here and there who really there to make us hate them.

Take Gail, for example. Dia bukan dari Lost Millenium maupun Fractale Temple, tapi dari sisi manusia yang terlanjur nyaman sama apa yang diberikan oleh Fractale. Hasilnya? Dia bakal melakukan apapun untuk tetap menikmati kenyamanan.

Oh, Human! You bastard!

Apa yang saya pelajari?

Teknologi ada bukan untuk kita bergantung. Yups, Teknologi mempermudah kehidupan, tapi bukan berarti kita harus menyerahkan semuanya ke teknologi. Teknologi gapunya yang namanya 'Kehangatan' , Dari facebook kita juga gabisa ngasik 'Senyuman' yang sejati. di sisi lain, bukan berarti Teknologi itu sepenuhnya buruk. Banyak yang bener-bener bergantung pada teknologi karena mereka memang ga punya pilihan lain.

Terima kasih untuk Kagetsuki Arai telah bersedia menaruh Reviewnya di blog saya.

Jadi apa kalian sudah menonton Fractale, jika sudah apa pendapat kalian tulislah komen kalian di bawah dan jika belum apa review ini membuat kalian tertarik menontonnya?

Jadi Apa pendapat kalian soal Social network di masa sekarang.  Apapun itu komen di bawah...

Terima kasih sudah membaca review ini dan jika kalian punya unek-unek, review akan sesuatu, kalian bisa post di sini dan sampai jumpa di Guest Review yang lain...