Sabtu, 29 November 2014

What Zen Thinks about Beast Taruna? (Indie Novel)

Sentai yang tidak mainstream... Beast Taruna is one of them.



Beast Taruna adalah sebuah novel yang dibuat oleh Aditya NW... Bukan Adhitya Daniel yang nulis cerita...

So, bedanya Aditya NW nulis cerita Sentai sementara Adhitya Daniel menulis cerita yang S-nya diganti dengan H. That's the difference.




Novel ini diterbitkan dan dicetak oleh WR Publisher dan diilustrasikan oleh banyak ilustrator.  Kalau melihat modal untuk menerbitkan novel ini, this one a lot of effort.  So, saat mendengarnya saya cukup excited karena saya suka Sentai...


Ah... sorry. Kok mikir ke sana sih.  Saya langsung kepikiran, apa si MC bakal jadi yang putih... yang merah ini kayaknya cewek.  But, Nope... Sebenarnya dia adalah...

Oke, mari kita bahas soal story-nya dulu.  Ini konsep yang menarik di mana Jepang dan Jerman berhasil memenangkan WW 2 dan mayoritas Bumi terbelah jadi dua tradisi yaitu Jepang dan Jerman.  Bagian Asia dikuasai oleh Jepang dan di Indonesia pun sudah ikuti Jepang sekali intinya, menjadikan Bahasa Jepang adalah bahasa wajib.  Karakter utama kita Kazuki Yudistira kehilangan orang tuanya dan akhirnya pindah bersama Pamannya di Indonesia dan mulai hidup di sana.  Mayoritas cerita anak baru, siswa baru di sekolah jadi pusat perhatian dan itu terjadi, kawan.

Di sini ceritanya amat lambat untuk jalan dan saya menunggu-nunggu... Where the H... Sentai? dimana para Beast Taruna? hingga akhirnya tanpa sengaja para Beast Taruna melibatkan Kazuki dalam masalah mereka dan Kazuki akhirnya mau tidak mau harus terlibat because... of course! kalau tidak begitu maka kita hanya lihat kazuki in daily life.

Jujur saja pembukaannya adalah mayoritas klise dimana orang tua karakter utama mati. Saya tidak akan masalahkan ini karena novel saya punya pembukaan yang sama...  Selanjutnya plot agak lambat berjalan, terlalu fokus sama school drama dan kehidupan sehari-hari di Indonesia-Jepang.  Ketika the real plot start to kickin itu juga semakin menarik, tentang Beast Taruna juga sejarah mereka.

Secara premis novel ini menarik...


Hanya saja, untuk eksekusi... not so much. Novel ini salah satu novel paling sulit saya baca karena satu hal dasar, writing style atau gaya menulis si penulis amat sangat asing buat saya. Jujur saja, saya kerepotan ikutin apa yang sebenarnya penulis mau sampaikan di kalimat-kalimat yang dituliskannya di sini.

Mari saya berikan contoh di halaman 59

Lamunan membuat Kazuki lengah saat Senja dan Catur masuk kelas. Mereka melakukannya dengan hebat. Teman baru mereka baru tahu dari pantulan papan tulis.

Napas berat penuh kesabaran. "Kalian mau apa?"

...
What the hell just happen?
Jujur jika kalian bac aitu sebenarnya apa yang terjadi? Saya tidak tahu.  Mereka ini mengganti Senja dan Catur... I guess. Terus mereka melakukannya dengan hebat... hebat? masuk kelas gitu? apa yang hebat dari masuk kelas? Apa semacam entrance dari Wrestling?  I... I...


Selain itu ada dialog dimana karakter bicara bahasa yang sama sekali penulis tidak tahu.  Tulisannya seperti ini.

"Ah, tentu saja. Zdravstuite! Kak dela, Senpai?" Galan menunjuk dada sendiri untuk kalimat berikutnya. "Vott moe serdise. Ono polno Iyubvi."

"Ya, mogu udarit vashe serdtse... bla bla bla!

Jujur saja, saat membaca tulisan ini dan sang penulis tidak memberikan catatan kaki tentang apa yang mereka bicarakan.  Jika ingin tulisan dibaca orang lain, buat mereka mengerti apa yang terjadi di dalam novel yang ditulis, apa penulis mau agar pembaca buka internet dan mencari tahu apa arti dialog barusan?  Jujur saja, bagi saya ini sangat menyebalkan, jika saya tulis bahasa Romania di novel saya dan saya kasih baca ke orang lain tanpa ibaratnya subtitle-nya... dia akan kesal. Sama rasanya saat kita dikatai orang tapi mereka pakai bahasa yang kita tidak tahu.

Sebagai gaya tulisan, ini menurut saya jadi point fatal bagi Beast Taruna. Bagi saya tidak masalah plot klise, tidak begitu masalah pula dengan karakter yang stereotype (I still can enjoy it) tapi jika gaya bahasanya bikin pembaca jadinya pangling, itu merusak mood  baca saya dan jujur saja baca novel Beast Taruna makan waktu lebih dari 2 bulan buat saya.  Tiap kali saya mau lanjut baca, saya kepikiran, "Berarti saya harus deal with that writing again..."  Saran saya lebih banyak baca buku-buku novel Indonesia.  Tidak perlu yang nyastra banget, yang simpel macam teenlit-teenlit akan bantu kita menyederhanakan cara menulis kok.


World buildingnya adalah alternate universe yang cukup menarik, tapi jujur saja bagi saya masih kurang dalam hal penjelasan yang informatif... yah memang penulis berusaha membantu pembaca memahami bagaimana universe yang dia buat, tapi saya masih sulit untuk follow.

Jika kalian menonton Sentai, kalian tentu paling perhatikan adalah action-nya.  Jika cara menulis seperti itu... saya rasa kita sudah bisa bayangkan bagaimana penulisan adegan action-nya.

Ilustrasi bagi saya itu seharusnya sesuatu yang informatif, ilustrasi adalah membantu penulis untuk menggambarkan suatu adegan jika terlalu sulit untuk dituliskan dengan kata-kata. Contoh, adegan action dimana beast Taruna bertarung lawan monster, itu cocok diilustrasikan.   Adegan Kazuki memperkenalkan dirinya di kelas itu buat apa diilustrasiin, nothing special about it.  Kecuali saat itu terjadi adegan yang tidak dijelaskan dengan tulisan, contoh hal itu tidak dilihat oleh orang banyak.

Misalnya saat menulis novel horor, si karakter jalan di tengah malam. Si penulis cuma sampaikan begini.

Rini berjalan pelan dengan mengarahkan senternya di sekitar hutan. Bulu kuduknya tidak kunjung berhenti untuk berdiri. Tubuhnya merinding terasa ada yang terus mengawasinya, melihat tiap geraknya. Tapi, dia tidak tahu darimana asal perasaan itu.

Di Ilustrasi buat si Rini berjalan dan di Background munculkan ada hantu yang melakukan penampakan, penulis tidak jelasin itu tapi dijelasin di gambar akan membuat pembaca merasa itu gambar penting di situ.  See?

Di sini tetap ada ilustrasi yang menurut saya bagus dan tepat fungsinya, seperti yang ada di halaman 157.  Saya berharap ada ilustrasi dimana mereka mengeluarkan senjata mereka dan lawan monster.  That would be cool.

Sementara untuk karakter saya hanya ingat si Sara, yang lain saya tidak begitu perhatikan bahkan saya merasa karakter Kazuki tidak begitu menarik.  Karakternya sebaiknya lebih di flashout ditunjukkan bagaimana caranya mereka interaksi, gaya humor yang khas, atau kebiasaan yang unik akan membuat mereka jadi lebih noticeable.

Saya pribadi anggap ini adalah novel berpotensial dan masih banyak potensi itu yang bisa kita harapkan di sekuelnya. Semoga Review ini bermanfaat bagi penulisnya...

Beast Taruna Is Good for Time Wasting.



Jujur saja adegan-adegan fujo yang muncul di novel ini bikin saya ngikik sendiri, entah itu sengaja atau tidak oleh penulis.

nilai 1-2 saya akan sebut This will torture your soul to the damn ini artinya apapun yang saya review adalah karya yang amat buruk dan jika kalian maksa buat mainin, nonton, ataubaca akan merusak jiwa kalian.

Nilai 3-4 saya akan sebut Just forget about this and continue your life without it Ini adalah sebuah karya yang tidak pantas diingat dan sebaiknya lupakan karena tidak berartialias buang-buang waktu untuk dilirik.

Nilai 5-6 Saya akan sebut It's good to time wasting artinya kalian bisa menikmati hal ini jika ga ada kerjaan, tidak ada tugas, hanya buat main-main dan tidak ditanggapi serius.

Nilai 7-8 Saya akan sebut This is worth it, Enjoy your time with it! Dengan kata lain karya ini pantas untuk kalian nikmati dan pantas kalian gunakan waktu kalian untuk merasakannya.

Nilai 9-9,5 Saya akan sebut You want through this again! Ini saya maksudkan bahwa karya ini pantas kalian baca lagi, nonton lagi, mainin lagi alias punya high replay value.

Sekarang untuk nilai tertinggi 10 saya akan sebut AMAZEPIC (It's Amazing because it's Epic) ini jelas sebuah karya yang menurut saya benar-benar pantas kalian nikmati dan sangat memorable.  Dapat nilai 10 bukan berarti karya ini flawless.  Tapi, saya cuma menegaskan bagian hal keren dari karya ini jauh lebih banyak dibanding yang jeleknya/flaw-nya.  Ibarat 11 hal bagus dan 1 hal jelek.

Terima kasih sudah membaca review ini, saya usahakan bisa publish review setiap akhir pekan.

Sampai jumpa hingga saya memikirkan sesuatu yang lain lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar