Selasa, 12 Agustus 2014

What Khi-Khi Kiara Think about Grϋn? (Fan Light Novel)

Kali ini tidak cuma mendapat review dari orang lain, tapi kali ini kita ambil review yang berbeda. Sebuah Fan Light Novel berbasis sebuah animanga terkenal. Attack On Titan atau disebut juga dengan nama Shingeki no Kyojin.

Mari kita sambut, Khi-Khi Kiara dalam review Grun!


Saya akui, saya semakin tergila-gila dengan serial Attack on Titan (a.k.a. Shingeki no Kyojin), sekaligus terperosok makin dalam ke zona fandomnya. Fanart,, lagu, fanfiction, merchandise, saya kumpulin sebisanya. Terutama untuk pairing Levi dan Eren. Oke, sebenarnya saya bukan fujoshi (cewek penyuka homo), tapi untuk beberapa alasan, saya mengagumi hubungan mereka. 



Light novel yang akan saya review ini adalah fan-fiksi AoT karya salah satu author  fanfic Indonesia idola saya, Aratte. Saya terdorong untuk menulis review setelah membaca ulang buku ini saat perjalanan lebaran kemarin. :D
NOTE : Buku ini diberi rating R-18/Explicit, karena adanya unsur kekerasan dan seksual. Tapi saya tidak akan membahas bagian itu.
(gambar cover)      




Grϋn adalah sebuah fan-fiksi untuk serial manga/anime Attack on Titan berbentuk light novel cetak, ditulis oleh Aratte pada tahun 2013. Dalam buku bertebal 120 halaman ini, Aratte mengusung tema Action/Adventure, Sci-fi, Fantasy/supernatural, Eco-warfare, Tragedy, dan tentunya Romance. Tokoh Levi Ackerman dan Eren Jaeger ditampilkan sebagai fokus utama di sini.

Judul Grϋn sendiri diambil dari bahasa Jerman yang berarti “hijau”, mengingat serial AoT memang sering menggunakan bahasa Jerman dalam penamaan tokoh, istilah, juga lagu openingnya.

Cerita dimulai pada tahun 3345, dimana Survey Corps memiliki peran dan fungsi yang berbeda dari zaman perang titan dahulu. Dipimpin komandan Erwin Smith, pasukan itu menjalankan misi ke sebuah hutan raksasa yang langka, dan ajaib. Para anggota pasukan perlahan menemukan banyak keanehan di dalam hutan itu, begitu pun Kapten Levi dan Mayor Hanji.



Tapi Kapten Levi lah yang lebih dulu menemukan puncak keanehan itu. Dia bertemu dengan seorang remaja jejadian yang sudah sangat terikat dengan hutan magis itu. Dialah sang penjaga hutan, Eren Jaeger.

Di satu sisi, kemunculan Eren bisa membantu misi Survey Corps. Tapi di sisi lain, dia punya masalah yang berkaitan dengan masa lampau.

Yup, kira-kira begitulah permulaan yang bisa saya sampaikan.

Satu hal yang paling membekas di hati saya dari buku ini adalah deskripsi, baik deskripsi karakter, tempat, maupun suasana. Saya bisa merasakan rindang dan sejuknya pepohonan di dalam hutan lebat, lengkap dengan bunyi-bunyian alam dan cahaya matahari yang menembus hutan sedikit demi sedikit. Atau, bagaimana riuhnya suasana hutan setelah terjadi ledakan besar. Bahkan, saya bisa meresapi wangi tubuh Eren, yang konon, tidak wajar.
Gerak-gerik tiap karakternya pun sangat rinci, misalnya ayunan tubuh Levi saat terluka parah pasca pembantaian. Bisa dipastikan tidak ada gerakan tubuh yang terabaikan di  setiap adegan. Penggambaran momen tertentu diatur dalam setting tempat dan waktu yang tepat, seperti pemaparan seragam perang Levi saat hendak diadakan apel di dalam hutan (ini lebih pas dibandingkan bila dipaparkan di awal cerita).
Selain gerakan, deskripsi karakternya juga membuat pembaca merasakan betul sifat kemanusiaan tiap tokohnya. Levi sang  perwira perkasa, Eren si bocah polos yang berapi-api dengan bentuk wajahnya yang khas, semuanya terasa jelas. Gaya penulisan Aratte yang cenderung mirip novel terjemahan, yang (seharusnya) kaku, justru mampu membius pembacanya jauh ke dalam dunia cerita, Terutama pada endingnya yang... *nahan air mata.

Itu karena pemilihan diksi yang tidak banyak bermajas, tapi diatur dengan cerdas sehingga tetap mengena. Walaupun istilah-istilah ilmiah yang cukup rumit tersebar di sana-sini, membuat pembaca yang jarang membaca buku pengetahuan harus berpikir dulu. Contohnya, kedua sepupu saya.
Pola plotnya sederhana ; pertemuan, lalu perpisahan. Namun setiap detail alurnya yang lebih kompleks ditata dengan begitu rapi. Inilah yang membuat keseluruhan kisah ini tidak terasa monoton, dan saya lebih merasa seperti menonton film daripada membaca fiksi. :D
Kemudian tentang karakterisasi. Nah, soal meneliti tokoh-tokoh dalam cerita, khususnya AoT, nampaknya Aratte adalah ahlinya. Selama berkecimpung di fandom AoT, Aratte sangat jeli memperhatikan siapa itu Levi, siapa itu Eren Jaeger, siapa Hanji Zoe, dan yang lainnya.  Tak heran bila karakter AoT dalam fan-fiksi ini tidak jauh berbeda dari serial aslinya yang digarap oleh Hajime Isayama. Pastinya dengan, sekali lagi, deskripsi yang memadai. Mulai dari cara berjalan Hanji, cara bicara Levi, kasih sayang Levi yang “tersembunyi”, sampai kerut wajah Eren saat emosinya membara.


Rasa romansa dalam light novel ini tidak serta-merta fluffy dan cheesy seperti novel cinta remaja pada umumnya. Jadi tidak ada deskripsi yang berkesan lovey-dovey (kecuali di *ehem* adegan intim yang jadi pemanis cerita pada sedikit sesi). Romantika di sini terasa sederhana, namun “magical”, sesuai temanya, dan tetap meresap di hati.
Lalu kembali pada karakternya. Levi bukan tipe pria romantis berjurus jutaan kata gombal, namun perhatiannya lebih nyata dalam wujud tindakan, ditambah cara bicaranya yang lugas dan meyakinkan. Eren, dalam keadaan rapuh, begitu mengagumi Levi sebagai pelindungnya. Dia ingin tetap bersama Levi, atau setidaknya mengenang Levi, meski sulit. Momen-momen kebersamaan, serta paduan karakter itulah, yang membuat chemistry mereka lebih kuat.
Uniknya lagi, di halaman pengantar, Aratte menghimbau pembaca untuk mendengarkan beberapa lagu yang mampu mengantar fantasi pembaca lebih dalam pada cerita ini. Sebagai orang yang sama-sama terinspirasi oleh musik dalam berkarya, tentu saya makin excited. :D
Ada hal lain yang menurut saya spesial dari light novel ini. Ilustrasi karya Aphin yang menghiasi membuat buku ini terlihat segar. Terutama pada cover, kita disuguhi warna hijau gelap ala hutan belantara, dan warna biru cerah yang terpantul indah. Ilustrasi pada isi buku pun disusun simpel namun tetap menarik. Hanya saja Eren terlihat lebih manis, dan wajah Levi tampak lebih lonjong, bentuk wajahnya yang tegas baru nampak saat digambar dari samping.
Sayangnya ada sesuatu yang membuat saya kurang nyaman mengikuti cerita ini, yaitu deskripsi penuh pada adegan-adegan peperangan. Saya sulit mencerna gerakan pasukan dan arah-arah serangan di sini, hingga saya jadi  sering melewati bagian itu. Entahlah, mungkin imajinasi saya saja yang cetek.
Overall, jarang sekali saya menemukan fan-fiksi yang berkualitas tinggi. Jadi, khususnya untuk para penggemar AoT, fans pairing Levi x Eren, dan penikmat fan-fiksi, I’ll say that Grϋn light novel is ... (AMAZEPIC)
INFO : Karena ini fan-fiksi, buku ini dicetak secara independen dan tidak dijual bebas. Jadi bagi yang berminat beli, silahkan hubungi penulisnya, Aratte (www.facebook.com/ra.aratte).
Sekian dulu review dari saya. Mohon maaf bila ada kekurangan, karena saya sendiri sudah lama tidak meresensi buku lagi.
Terima kasih sudah membaca. :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar