Rabu, 08 Oktober 2014

What Zen Thinks about Ultraman Nexus? (TV Series)

Apa yang kalian ingat jika saya tanya tentang Ultraman? Raksasa yang melawan monster di tengah kota,  kotanya hancur dalam waktu sekejab langsung bagus di episode selanjunya, yang jadi Ultraman biasanya adalah petugas keamanan yang melawan monster dan juga tentu saja Karakter utamanya yang mengalahkan monster saat lampu di dadanya kedap-kedip dengan jurus seperti ini?


Are tired with that same thing over and over?

Let's talk about Ultraman Nexus...

Ultraman Nexus adalah Ultraman yang diproduksi oleh Tsuburaya Production.  Disutradarai oleh Kazuki Konaka, Miki Nemoto dan tiga sutradara lain. Studio yang memegang seri ini adalah Dentsu.  Setelah melihat bahwa Ultraman Cosmos ternyata tidak terlalu sukses.  Tsuburaya mengambil keputusan membuat Ultraman yang lebih serius yang bisa dinikmati remaja ke atas.

Tidak banyak orang Indonesia yang mengetahui tentang Ultraman Nexus dan saya merasa beruntung dapat menontonnya di TV.  Biasanya kalian menonton Ultraman di mana? Indosiar? RCTI? Nexus tayang di SCTV.  Biasanya kalian menontonnya hari Minggu atau setidaknya Sabtu? Tapi, Nexus tayang Senin sampai Jumat jam... 5 WITA. Yes... No Joke.

So apa yang spesial dari Ultraman satu ini. Lets see...

Ultraman Nexus bercerita tentang Komon Kazuki yang mengalami kegagalan atas misi penyelamatan yang dia kerjakan.  Namun, itu justru membawanya untuk direkrut oleh sebuah organisasi misterius bernama TLT (Terrestrial Liberation Trust) yang ternyata menyimpan rahasia besar tentang bahwa dunia telah diserang oleh Monster yang bernama Space Beast.  

Saat menuju ke markasnya Komon tiba-tiba diserang oleh Space Beast tersebut.

Tentacle Attack!
Saat adegan ini saya sudah berpikir.  Ayolah ini saat terbaik dimana Komon mendapat kekuatan Ultramannya. Tiba-tiba saja...


Wait wait wait... jika itu Komon... jadi siapa yang jadi Ultraman?

Saat melihat ini pertama kali, saya sudah terhook oleh Ultraman Nexus. Yeap, the Main Character is not the Ultraman. Surprise surprise.  

Komon masuk ke dalam sebuah tim khusus pemberantas monster bernama Night Raider.  Mereka memiliki nama itu karena Space Beast mayoritas menyerang saat malam hari dan mereka bergerak in shadow... seperti Batman.

Biasanya di dalam serial Ultraman akan memberikan penonton satu episode satu monster yang dikalahkan oleh Ultraman dan membuat pasukan pemberantas monster terkesan Useless without their Ultraman.  Namun, Nexus tidak demikian, kadang satu monster dikalahkan dalam beberapa episode. Nexus tidaklah episodik, tapi linear dan urut. Setiap episode diakhiri dengan cliffhanger hingga penonton wajib menonton episode selanjutnya, ketinggalan satu episode akan membuat penonton ketinggalan banyak hal dalam story proggres.



Plot dari Nexus lebih kompleks, dark, dan dalam.  Terutama dalam pembentukan karakter Komon, siapa si Ultraman, evil scheme dari Villain yang banyak twistnya. Ceritanya terutama untuk Arc pertama lebih ke arah karakter-karakter yang mengatasi masa lalu mereka yang kelam dan maju menghadapi masa depan.  Arc kedua walau tidak se-dark yang arc pertama, tapi tetap menarik karena mulai membuka misteri-mister yang masih tersisa.

Tentacle attack!
Karakter adalah yang menurut saya menarik di dalam serial ini.  Mari kita mulai dari Kazuki Komon, walau dia sebenarnya tipikal cowok dengan rasa adil tinggi. berusaha menyelamatkan orang-orang, naif dan juga kadang annoying, cerita berfokus bagaimana perkembangan karakternya.  Sebagai protagonis utama, dia memang karakter yang menarik untuk diikuti perkembangannya.  Karakter lain yang kuat adalah Nagi Saijyo, dia adalah yang paling stoic, paling serius dibanding Night Raider yang lain, dia bahkan menganggap Ultraman sebagai musuh di awal cerita dikarenakan masa lalunya yang kelam, dia pun mengalami perubahan karakter sepanjang cerita dimana dia mulai mendapatkan rasa percaya dan beberapa adegan emosional. Karakter lain seperti Kapten Wakura, Ishibori, dan Shiori tidak begitu dieskplor, tapi spesial untuk Shiori ada OVA khusus yang menceritakan siapa dirinya (This OVA is amazing though).

Sementara karakter yang menjadi Ultraman, Himeya Jun...

Selain Henshin Device, Ultraman juga punya Special gun
Dia adalah karakter yang misterius. Tidak banyak yang tahu tentangnya bahkan namanya saja baru ketahuan pada episode empat. Dia muncul saat monster muncul, dia menghilang setelahnya. Rasa bersalahnya di masa lalu membuat Himeya Jun terus-terusan merasa bersalah dan menganggap menjadi Ultraman adalah sebuah penebusan Dosa. Semakin banyak dia membunuh monster menyatakan semakin banyak dosanya yang dia hapus.  

Spesial Effect di dalam Ultraman Nexus tidaklah begitu bagus.  CGI-nya sangat kentara, namun kita harus approve dimana mereka memang memakai kostum dibanding terlalu bergantung pada CGI.



Gerakan pertarungan di Ultraman pun masih standar Ultraman kebanyakan, saat melakukan adegan-adegan sulit mereka pun menggunakan CGI.  Namun pada tahun 2004 rasanya ini sudah cukup decent...


Sorry I make Tentacle Joke too much.
Desain Ultraman menurut saya sudah sangat bagus. Terasa berbeda dari Ultraman-Ultraman pendahulunya. Selain itu Desain Night Raider juga lebih terkesan resmi dan tidak terlalu mencolok, tapi satu karakter yang pakaiannya benar-benar bikin saya kepikiran. Yaitu pakaian CIC!

SETRIKA BAJUMU, DUUDE! 

oke mungkin dia seperti L. Lawliet seorang prodigy yang tidak peduli penampilan, tapi bahkan L bajunya lebih rapi.  Apa bayar Laundry terlalu mahal buatmu.... 


Ehem, ehem...

Untuk menahan kepanikan dari Masyarakat tentang adanya monster. TLT berpartner dengan MP (memory Police) yang bertugas untuk menghapus ingatan saksi dengan HP bercahaya. I know... I know... Man In Black Rip off, tapi di sini ada alasan khusus kenapa mereka harus menghapus ingatan saksi. 

Musik di serial ini dibuat oleh Kenji Kawaii jika saya tidak salah juga composer untuk Fate/Stay Night menurut saya bagus, terutama Night Raider theme dimana saat mereka mendeteksi adanya bahaya.  Untuk Opening dan Ending, Eiyuu untuk opening pertama dari serial ini masih terkesan amat tokusatsu, bahkan jika kalian membaca translasinya masih terkesan Cheesy, tapi untuk ending saya suka ending kedua dan ketiga karena cocok dengan feel dari Ceritanya.

Ultraman Nexus menunjukkan lebih ke rasional.  Setiap ada penyerangan monster ada korban yang jatuh dan tidak selalu Ultraman atau pun satuan pengaman berhasil mengalahkan monster tersebut.  Tidak setiap kali lampu di dada Ultraman menyala maka monster akan dikalahkan, tidak pula sang Ultraman terbang ke Matahari setiap kali menang.

Jika dilihat dari Standar Ultraman yang saya pernah tonton.

Ultraman Nexus is... AMAZEPIC!



Tapi untuk orang yang tidak tahu tentang Ultraman, cobalah tonton Nexus karena pembawaan cerita dan juga tidak terkesan kekanakan. Bahkan ada satu adegan dimana membuat saya merinding.... yeah Ultraman Series yang bisa membuat saya merinding.

Selain itu walau tidak begitu berpengaruh, kalian mungkin coba tonton Ultraman The Next yang merupakan Prekuel dari Nexus. Karena walau hanya sedikit, tapi di Nexus diceritakan tentang Ultraman the Next.



Terima kasih sudah membaca review ini.  Saya ingin mencoba full rant Review, ini butuh waktu untuk dikerjakan... so, wait for that.

Sampai Jumpa hingga saya memikirkan sesuatu hal yang lain lagi.

1 komentar: