Kamis, 17 Oktober 2013

What Ivon Thinks about OFF? (RPG Maker Game)

Kali ini saya mendapat review dari Ivon yang mereview salah satu game yang underrated, OFF.  Karena underated jelas movie ini tidak begitu banyak yang tahu, saya bahkan pribadi mengatakan kalau saya tidak pernah mendengar Game ini sebelumnya.

Karena itu mari kita mulai Review OFF.

OFF adalah game indie freeware bergenre surreal horror/tragedy, yang dikembangkan oleh Mortis Ghost dan timnya, "Unproductive Fun Time", yang berasal dari Prancis, menggunakan engine RPGmaker 2003.


Dan ini adalah salah satu game terbaik yang pernah saya mainkan.


Di game ini kita mengambil peran sebagai pengendali karakter bernama "The Batter", sesosok lelaki misterius yang memakai seragam olahraga kasti dan (coba tebak) bersenjatakan tongkal pemukul kasti. Di awal game kita diberitahu bahwa Batter memiliki sebuah misi penting, dan sebaiknya kita memastikan misi itu terlaksana.

Di dunia pertama (Zone 0-"Zone Zero"), kita akan bertemu sesosok kucing misterius bernama The Judge. Judge akan berperan sebagai mentor kita, dengan mengajarkan tutorial dasar game ini, mulai dari battle sampai puzzle.


Battle:



Sistem pertempuran di game ini persis sama dengan RPG-RPG kebanyakan, namun terutama mengingatkan saya pada Final Fantasy. Anda lihat bar kosong di bawah CP, sebelah kiri kotak komando? Saya akan menamakannya sesuai istilah Final Fantasy, yaitu ATB-- Attack Time Battle. Kotak kosong itu akan terisi perlahan-lahan seiring waktu berlalu, dan ketika penuh, kita akan diperbolehkan memilih salah satu komando dari daftar yang ada:

Attack = regular attack, menyerang musuh secara fisik
Competence = special attack, menyerang musuh menggunakan ilmu spesial
Objects = items, menggunakan barang yang terdapat di inventory
Row = change battle position, bisa berpindah ke depan (serangan lebih kuat, tapi menerima damage lebih besar) atau ke belakang, dengan efek sebaliknya
Flee = run away from battle, hanya dapat dilakukan oleh Batter-- walau dalam sebagian besar pertempuran, opsi ini ditiadakan

Mengenai musuh (enemy), variasi musuh yang tersedia di game ini cukup banyak, dan kita akan menyebut mereka dengan istilah "spectre". Dalam satu dungeon, biasanya ada tiga jenis spectre yang berbeda-beda. Para spectre yang harus Batter hadapi pun berbeda-beda tergantung zona yang ia datangi. Dan desain mereka semua unik-unik-- bisa terkesan asal jadi atau sengaja di-deformed agar membuat pemainnya merasa tidak tenang dan berpikir "Makhluk apa ini sebenarnya?".


Setelah tutorial pertempuran selesai, Judge akan membawa kita ke ruangan selanjutnya. Yakni ruangan puzzle.

Puzzle:

Mengenai puzzle, saya yakin beberapa di antara kalian cukup membenci fitur ini. Sementara beberapa lainnya tidak mempermasalahkannya. Saya sendiri, termasuk yang menyukainya.

Puzzle game ini tidak terlalu sulit. Nyaris semua puzzle "hanya" mewajibkan kita untuk menekan blok-blok yang ada secara berurutan, sesuai dengan petunjuk yang ada. Nah, petunjuk-petunjuk inilah, yang menurut saya, dikemas dengan cara yang lumayan kreatif. Saya akan memberi contoh untuk puzzle berikut ini (silahkan lewati paragraf berikutnya kalau anda ingin memecahkannya sendiri):


Di dinding terdapat enam digit angka. Dan di bawahnya terdapat delapan buah balok. Apa yang direpresentasikan balok-balok itu? Kita coba menekan balok paling kanan atas ... tidak terjadi apa-apa. Lalu kita coba menekan balok kiri atas, dan, voila! Balok itu bereaksi! Mungkin ... coba kali ini kita menekan balok kedua dari kiri atas ... dan ah, bereaksi juga! Di sinilah kita tersadar, bahwa ternyata balok-balok tersebut merepresentasikan urutan nomor dari satu sampai delapan, dari kiri ke kanan.

Dan berbagai variasi puzzle inilah yang akan kita hadapi di sepanjang sisa game ini. Tentunya, dengan berbagai variasi pencarian petunjuknya.



Setelah kita menyelesaikan beberapa puzzle pertama, kita akan menemukan sebuah balok merah di lantai dasar. Judge berkata bahwa balok tersebut adalah alat transportasi praktis untuk masuk ke Ketiadaan, “Nothingness”. Tempat itu berperan sebagai World Map (Peta Dunia) untuk game RPG pada umumnya. Judge tidak akan mengikuti kita sebagai party member (saya yakin tadinya anda ada berpikir begitu), tetapi ia mengucapkan semoga sukses untuk misi kita, dan berkata kita akan bertemu dengannya kembali dalam waktu dekat.

Dan tinggallah kita sendiri bersama Batter, tidak ada tujuan lain selain meneruskan misi suci misterius yang ia emban di tangannya.

Graphic:

Saya sempat melihat-lihat beberapa forum game di luar negeri sebelum menulis review ini. Dan saya sempat membaca beberapa komentar forum yang menarik perhatian saya.



Bisa kita lihat di sana, ada beberapa orang dengan username yang berbeda-beda, memprotes dengan keras (bahkan kasar) tentang penanganan grafik game ini. Dan apabila anda ke sana, anda akan melihat seorang user yang mengajak mereka bicara, menanyakan hal apa yang membuat mereka begitu “ogah” pada game ini. Oknum yang bersangkutan pun menjawabnya dalam bahasa Prancis. Untunglah user tersebut cukup berkepala dingin untuk memberi pencerahan mengenai user-user tersebut:


Saya mendapat kesimpulan bahwa: para troll pun ternyata ada di negara maju seperti Prancis, dan bahwa argumen mereka, yang walau pun beralasan, lebih didasarkan pada keinginan untuk menghina daripada benar-benar mendiskusikan kekurangan game tersebut.

Maka saya berhenti menganggap mereka serius, dan mengambil kesimpulan lain: bahwa bila anda melewatkan game ini hanya karena grafiknya yang tidak secanggih Mass Effect, Fallout, dan Skyrim, maka satu kata yang saya berikan untuk anda adalah: terserah.

Tapi ketahuilah anda melakukan kesalahan besar.

Karena saya setelah mencoba dan mengalaminya sendiri, saya menjadi tahu, bahwa grafik di game ini memiliki kesinambungan kerja yang sangat sempurna dengan musiknya.

Musik (disusun oleh Alias Conrad Coldwood):


Bagi anda yang kadang mengikuti LP saya di facebook, pasti telah beberapa kali melihat saya memuji-muji BGM (Background Music) dan SFX (Sound Effect) game ini. Musik merupakan separuh penopang tiang utama game ini. Anda bisa saja mengetahui seluruh seluk beluk plot cerita game ini, tetapi anda tidak akan benar-benar "mengerti" tentang game ini tanpa memainkannya secara langsung.

Dan saya tidak bercanda.

Semenjak Silent Hill, baru kali ini dampak efek suara dan musik sebuah game dapat membuat nyali saya kiat menciut ketika melewati lingkungan kota maupun dungeon game ini. Padahal ini game RPG, dan hampir semua musuhnya cenderung mudah untuk dikalahkan.

Game ini memberikan BGM yang berbeda-beda untuk semua kota dan dungeon-nya. Begitu pula dalam pertempuran. Battle music dengan boss memiliki kesan "grand", sementara random battle memiliki musik yang catchy. Namun tidak lantas mentang-mentang random battle, kita disuguhi battle music itu dari awal sampai akhir game (saya melihat anda, penyusun battle musik Persona 4). Misalnya, di zona terakhir, musik yang catchy itu meninggalkan kita. Gantinya kita disuguhi musik yang muram dan bernuansa gelap dan sedih. Apabila kita masuk ke zona yang "mati", battle music yang kita dapatkan akan berkesinambungan dengan musik zona tersebut. (Yang, sebenarnya, tidak bisa disebut musik, karena “BGM” di sepanjang zona mati itu adalah suara-suara bisikan dan desisan "sssshhh", yang akan terus berulang-ulang di headphone anda sampai keluar dari zona tersebut).

(Saya lupa bilang kalau kita bisa mengendarai pedalo di game ini. Lebih mengasyikkan daripada yang anda duga)

Dan berbicara soal headphone, saya menyarankan (apabila anda ingin memainkannya, yang, yakinlah, adalah keputusan yang tepat) agar anda memainkan game ini menggunakan alat tersebut. Namun anda khawatir akan kena serangan jantung oleh sebab jump scare atau semacamnya? Jangan khawatir, karena game ini tidak mengandalkan kengeriannya dengan jump scare, melainkan dengan atmosfir, ketidak-pastian, dan kisah yang akan menghantui anda sampai berhari-hari lamanya.

Sebagaimana seharusnya sebuah game surreal horror yang bagus dikemas dengan sempurna.

Analisa pribadi:

Hampir di sepanjang game, saya selalu merasa was-was. Takut. Bagaimana bila saya melakukan kesalahan dan membuat karakter saya mati? Bagaimana bila musuh yang saya kalahkan tadi ternyata tidak perlu dibunuh? Bagaimana bila gara-gara saya melakukan itu saya malah mendapat bad ending? Ada apa di puncak tangga yang saya naiki ini? Kenada ada leleran cerah mirip darah di dinding itu? Makhluk apa yang menunggu saya di sana?

Di sinilah OFF dengan sangat sukses berhasil memberikan seorang penikmat RPG seperti saya kepastian untuk tidak mematikan konsol maupun komputer sebelum mencapai akhir cerita, yaitu dengan cara menahan kepastian jawabannya.

Dan baru memberikan hak untuk menutup layar game ini setelah kita menemani karakter kita mencapai akhir ceritanya.


Karena itu saya sebut game ini AMAZEPIC! Jika kalian pecinta RPG, terutama RPG Horor yang lebih klasik dengan menggunakan sistem battle turnbase just don't miss this one!  You not gonna regret it.

Sekian review dari Ivon. Jangan lupa untuk mendengar apa yang dikatakan Yui di samping => 

Terima kasih sudah mampir dan jika kalian ada review untuk game, novel, manga dan lain-lain yang sejenis bisa dipost di blog saya.  Sampai jumpa di guest review selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar