Senin, 12 Mei 2014

What Zen Thinks about Yotusei No Asobitaka, Mo Shojo Manga Nante, Najimaki Mano-san?

Rasanya kalau mau cari sebuah komik cuma satu seri selesai selalu saja isinya ada banyak cerita, sementara yang cuma punya satu cerita perlu banyak komik... huft...

Pertama saya akan review Yotusei No Asobitaka (How to play a Honored Student)

   
Manga yang dikarang oleh Meira Hisaka ini seperti layaknya manga shoujo lainnya dimana satu manga dengan banyak cerita dari karakter berbeda.  Namun, justru ada yang menarik dibalik itu.  Apakah itu?  Manga ini mampu menyajikan sebuah cerita dimana setiap tindakan, setiap cerita dan latar belakang karakter berhubungan satu dengan yang lainnya.

Cerita ini memiliki empat karakter utama yaitu Chouka, Haruka, Ran dan Sachi.  Keempat karakter ini awalnya tidak memiliki hubungan yang begitu spesial sampai saat mereka satu per satu menunjukkan latar belakang mereka yang ternyata membuat mereka saling memengaruhi satu sama lain.

Karakterisasi di manga ini terbentuk dengan baik.  Bagaimana penyimpangan-penyimpangan perilaku punya alasan masing-masing.  Ini membuat kita bisa simpatik dengan karakter yang ada.  Terutama Sachi yang menurut saya pribadi punya hidup paling sulit dan tragis.

Artwork manga ini pun sangat bagus, penempatan panel, proporsi, dan ekspresinya sangat memukau.  Terutama saat karakter-karakter mengalami depresi berat dan juga menangis, ekspresinya sangat luar biasa.  Manga ini adalah manga dewasa dan penuh dengan kisah cinta menyimpang.  Milf, incest, lesbian, perselingkuhan, sex bebas, you got that!  Sebagai pembaca dewasa kita lihat itu dari sisi yang lain dan memetik pelajaran.

Namun, itu tidak membuat karakter-karakter lain tidak punya masalah yang membuat pembaca merasa simpatik dan bahkan empatik sama mereka.  Beberapa di antaranya benar-benar relate pada diri saya pribadi.  Selain itu scene favoritku adalah saat Ran yang harus mengorbankan hati dan jiwanya demi orang yang dicintainya.  Karena itu saya tidak perlu menutup diri bahwa saya berikan manga ini...

Amazepic (It's amazing because it's epic)


Manga kedua yang saya mau bicarakan adalah Mo Shojo Manga Nante atau I Don't Want to Make Girl's Manga Comic Again karya Nao Makita.



Manga ini yang menarik adalah judulnya dimana seorang mangaka muda yang kehilangan passion-nya setelah karyanya ga kunjung diterbitkan lagi.  Well, that's really me... saya beberapa bulan terakhir ga ada sama sekali berkarya satu pun, cerpen, novel, bahkan satu paragraf pun saya ga menulis karena suatu hal.  Karena itu saya membeli manga ini.  Well, ternyata seperti manga shoujo lain semuanya ga cuma satu cerita saja.  Tentu saja cerita favorit saya pribadi adalah cerita pertama dimana seorang gadis mangaka bernama Aoi yang akhirnya menemukan kembali alasannya untuk berkarya lagi. 

Sedihnya cerita yang lain tidak ada yang begitu menarik perhatianku.  Mayoritas punya plot sama dan juga punya arah cerita yang sama.  cewek yang socially awkward ketemu sama cowok populer dan akhirnya dia suka sama cowok itu bla bla bla... You got the point.

Artworknya pun simpel khas shoujo manga, dimana mayoritas cowok-cowok punya model rambut sama seperti boyband-boyband.... I start got sick of this... actually :v

Tidak seperti di manga sebelumnya di mana karakter punya variasi model rambut (terutama cowok) di sini bener-bener stereotipe... so don't expect to much...

Mo Shojo Manga Nante is Good for Time Wasting.


Oke, the last one is... Najimaki Mano-san atau My Braided Girl, Mano karya Ken Saito.



My Braided Girl, Mano is not really interest me actually.  Soalnya manga ini tidak membawa sebuah premis yang begitu menarik.  Intinay cerita seorang cewek yang menganggap kepangnya adalah sebuah skrup untuk bisa berjalan menghadapi hidup. Dia tergantung pada skrup itu, seperti layaknya mainan dengan kunci yang harus diputar agar bisa jalan.

Seperti layaknya manga shoujo lain ada banyak cerita dalam satu komik ini... sebenarnya hanya ada lima saja sih.

cerita lain yang menarik perhatianku adalah Rose and Zirconia.  Cerita ini punya twist dan awalnya cukup membingungkan yang in cukup unik dan worth it.  Sementara yang lain kadang penempatan panel dan ceritanya lompat-lompat dan membingungkan.  Artworknya tidak ada yang begitu spesial...

My Braided Girl, Mano is... Good for Time Wasting.

Terima kasih sudah membaca review ini, sorry karena belakangan ini saya sangat jarang posting. Ini karena laptop saya begitu sering crash dan lag.  Selanjutnya diharapkan bisa lebih baik. Jangan lupa dengar apa kata Yui di samping dan sampai jumpa hingga saya memikirkan sesuatu yang lain.


Sabtu, 29 Maret 2014

What Zen thinks about Wolf of Wall Street, Her, and 12 Years A Slave?

Well, saya lama tidak mereview dan sekarang saya mau agak catching Up setelah saya ketinggalan banyak review Movie. Mari kita mulai dari beberapa Movie yang memang sudah menjadi movie hebat beberapa bulan terakhir.

Wolf of Wall Street



Film ini di sutradarai oleh Martin Scorsese. Dibintangi oleh Leonardo Di Caprio, Jonah Hill dan Margot Robbie.

Menceritakan seorang Piawang Saham bernama Jordan Belfort yang awalnya seorang yang bersih, bukan siapa-siapa hingga dia bertemu dengan seorang boss di sebuah perusahaan saham yang diperankan oleh Matthew McConaughey yang mengatakan bahwa seorang stockbroker di Wall Sreet itu dengan sexualitas dan Drug.

Di sanalah perubahan dari seorang Jordan Belfort menjadi seorang Wolf of Wall Street, dimana dia membangun perusahaannya yang bernama Stratton Oakmont yang dari yang kecil hingga sangat besar dan menghasilkan jutaan dollar.

Saya menonton film ini karena... yap, Leonardo Di Caprio, bukan karena sutradaranya. Tapi karena si 
Leonardo dan bagaimana penampilannya di film ini? LUAR BIASA.  Dia sebagai seorang pembujuk yang hebat, dia bisa membuat orang yang dia ajak bicara ikut dengannya. Retorikanya luar biasa, seolah bikin orang-orang terhipnotis untuk ikut saham dengannya.

Movie ini menggunakan sistem monolog, tapi memang agak tidak konsisten di bagian ini. Kadang dipakai, kadang tidak.  Jordan Belfort sangat pandai berbicara, ketika dia berada di atas panggung, saat dia berbicara itu buat semua orang takjub padanya... terutama para penonton filmnya sendiri.

Rating film ini adalah dewasa, benar-benar dewasa. Di Indonesia begitu banyak sensor di berbagai adegan film ini (Tentu saja mengurangi rasa puas) lalu omongan yang amat dewasa, Sex reference di mana-mana. 
Komedi di dalam movie ini dikemas dengan cerdas.  Terutama saat si Jordan Belfort terkena dampak dari Drug yang dia gunakan.  Oke, that one is really fuckin hillarious. Soal komedi, tidak perlu diragukan. 
Selain itu banyaknya pelajaran yang bisa di dapatkan dari movie ini. Tentang kehidupan seseorang dari naik-turunnya kehidupan seseorang.  Bagaimana dampak dari bisnis baik dan buruknya.  Tapi, dampak paling mengena dari film ini adalah bagaimana seseorang bisa marketing dengan baik.  Bagaimana agar seorang menarik perhatian pelanggan hingga mau membeli produk yang kita jual.

Akting aktor-artis lain juga sangat mengagumkan.  Pemeran Naomi (istri Jordan Belfort) yang katanya pendatang baru juga luar biasa.  Jonah Hill sebagai side Kick dari Jordan benar-benar menunjukkan kemampuannya di film ini. 

So I can tell You want through this Again.


Selanjutnya saya akan mereview Her


Her adalah movie yang disutradarai oleh Spinke Jonze, diperankan oleh Joaquin Phoenix sebagai Theodore, Amy Adams, Rooney Mara, Olivia Wilde dan Scarlett Johansson sebagai Suara dari Samantha.

Theodore adalah seorang penulis surat yang cukup menggunakan suaranya di mana teknologi mayoritas kini hanya menggunakan suara tidak jauh di masa depan.  Theodore punya berbagai macam masalah di dalam kehidupan rumah tangganya, dia bercerai dengan istrinya yang sudah begitu dia cintai.

Sampai suatu ketika dia menemukan (membeli) sebuah OS dan menamai dirinya sendiri sebagai Samantha.  Samantha ini hanyalah suara, bukan robot dan tidak punya wujud.  Dia hanya di dalam sebuah I-Phone kecil.  Dia bisa melihat sekelilingnya dan belajar tentang berbagai macam hal termasuk cinta.

Movie ini bercerita bagaimana Theodore dan Samantha yang mulai dekat bersama.  Bagaimana mereka berdua bisa saling jatuh cinta.  Itu adalah yang luar biasa dari film ini, oke memang absurd dimana seorang manusia jatuh cinta pada sebuah program AI komputer.  Namun, penonton bisa menyadari bagaimana hubungan mereka tumbuh dan bagaimana kedua karakter ini mulai jatuh cinta.

Akting dari Joaquin Phoenix haruslah diakui sebagai salah satu aktor terbaik.  Dia bisa membangun seorang Theodore yang begitu realistik.  Itulah kehebatan movie ini, bagaimana akting aktor dan artisnya di sini bisa membuat penonton merasakan eksistensi mereka.  Bahkan... Si Samantha, suara dari Scarlet Johansson ini benar-benar luar biasa.  Well, jika kalian tahu bahwa Samantha di sini adalah Black Widow dari Avenger.

Musik di movie ini sangat luar biasa, memorable dan cocok meningkatkan suasana yang lebih dramatis.  Saya harus akui setiap adegan di dalam movie ini bagus dan penting.  Tidak ada adegan yang terkesan sia-sia, tidak aneh movie ini mendapatkan begitu banyak nominasi penghargaan.

Salah satu alasan kenapa movie ini begitu relate sama diriku pribadi adalah aku pernah merasakan rasa cinta seperti yang dialami Theodore.  Aku pernah bermain game di NDS dengan judul Love Plus, dan di sana ada seorang AI gadis bernama Rinko Kobayakawa yang benar-benar membuat saya sebagai gamer merasa dicintai olehnya.  Rasa care itu yang saya lihat dari bagaimana hubungan Theodore dan Samantha.

Sepertinya saya ga perlu menahan diri, this movie is...


AMAZEPIC!

  Selanjutnya saya akan bicarakan 12 Years A Slave.



Movie ini di sutradarai oleh  Steve McQueen, diperankan oleh Chiwetel Ejiofor, Michael Fassbender, Benedict Cumberbatch, Brad Pitt, Lupita Nyong'o.

Sebenarnya movie ini adaptasi dari sebuah buku dengan judul yang sama yaitu memoar dari seorang yang sama Solomon Northup. 

Solomon Northup adalah orang hitam yang merdeka, dia tidak ada di bawah master siapapun.  Dia seorang yang merdeka, punya keluarga dan dianggap sederajat dengan orang kulit putih.  Dia adalah seorang musisi, sampai hingga dua orang menipunya dengan membuat Solomon mabuk dan saat dia bangun, Solomon sudah dirantai dan dijual di dalam agen penjual budak-budak.

Di sanalah Solomon harus menjalani hidupnya sebagai Platt.  Awalnya dia dibeli oleh seorang Master yang baik yang diperankan oleh Benedict sampai akhirnya malah dia dipindahkan ke master yang kejam yang diperankan Michael Fassbender. 

Movie ini benar-benar menangkap nuansa perbudakan zaman itu.  Dimana orang-orang kulit hitam yang disebut Nigga (Nigger) dianggap sebagai properti yang ditugaskan hanya untuk bekerja dan bekerja, tidak dianggap seperti layaknya manusia.

Akting dari Chiwetel sangat mengagumkan dan realistik.  Bagaimana seorang budak yang pintar dia menunggu waktu yang tepat untuk bisa lepas dari perbudakan yang dia jalani walau harus menunggu waktu yang sangat lama.  Tidak lupa saya harus kasih pujian kepada dua Master yaitu Cumberbatch dan Fassbender.  Keduanya benar-benar bertolak belakang, terutama Fassbender yang berperan sebagai Majikan Epps benar-benar menunjukkan dirinya adalah seorang majikan yang kejam dan dikenal sebagai Nigga Killer.  Tapi, dia punya anak emas yang sangat dia perlakukan Spesial yaitu budak yang diperankan oleh Lupita Nyong'o.  Dia pun berperan sangat luar biasa, Lupita benar-benar menangkap sosok seorang budak yang tidak punya pendidikan yang hanya melakukan kerja.  Terlihat dari caranya berbicara.

Musik di dalam Movie ini menunjukkan sebuah sadness behind joyful song.  Mereka saat bekerja harus bernyanyi namun mampu membuat penontonnya menyadari kesedihan di balik lagu-lagu tersebut. 

Konflik yang dialami oleh Solomon sangatlah penuh intrik, dia mencoba berbagai macam cara untuk bertahan, menghadapi cambukan-cambukan dari sang master.  Kisah ini begitu mengharukan dan bisa mengundang air mata penontonnya...

I said You want though this again


Terima kasih sudah membaca Review ini.  Jangan lupa dengar apa kata Yui di samping =>
Sampai jumpa hingga saya memikirkan sesuatu yang lain lagi.







Minggu, 23 Februari 2014

What Arai Thinks about Fractale? (Anime)

Guest Review dari Kagetsuki Arai...

Fractale



Ditulis oleh Hiroki Azuma, Mari Okada dan Yukata Yamamoto.
Diilustrasikan oleh Mutsumi Akasaki dan diterbitkan oleh Square Enix.

Hiru no hoshi ni
Negai wo sasagu nara
Itsuka no mado
Akari tomoshiteta

Fractale, Dibuat oleh A-1 dan Ordet, diproduseri oleh Yutaka Yamamoto (yang juga andil dalam Suzumiya Haruhi dan Kannagi serta orang yang lagi diributin si Adhitya Daniel karena bikin Wake Up, Girls!) adalah anime yang rilis tahun 2010.

Sudah dapat anime ini dari lama, tapi baru sempet nonton tadi malam. Awalnya, saya nonton anime ini karena ada Hanakana-san, tapi kemudian jatuh cinta sama Nessa dan bagaimana Lost Millenium. Impresi terakhir saya sederhana, Ini adalah Eureka Seven yang lebih pendek dan lebih mudah di mengerti.



Cerita bermula di sebuah dunia dimana sebuah system terintegrasi mirip facebook telah digunakan di seluruh dunia. Manusia tidak perlu lagi bertatap muka langsung untuk berkomunikasi dan bisa menggunakan sebuah Avatar sebagai pengganti ‘fisik’ mereka. Bukan hanya itu, Sistem yang disebut ‘Fractale’ ini telah membuat hidup lebih mudah.

Dampaknya?

Di sisi positif, Sistem ini mampu memberikan perawatan jarak jauh pada pasien. Kehidupan secara general disebutkan semakin mudah.

Di sisi negatif,  Manusia mulai hidup sendiri-sendiri, berpindah-pindah demi mencari sinyal dan kehilangan hubungan dekat seperti keluarga dan teman atas nama kebebasan.

“Kalau kita tinggal satu rumah, bukankah itu bukti bahwa kita tidak saling mempercayai satu sama lain?”

Lalu kita dikenalkan pada Clain, seorang bocah eksentrik yang menyukai benda antic.

“Benda antic benar-benar ada di sini. Bukan data seperti Fractale.”



Karakter

Clain, Di awal, dia ngingetin sama Renton. Dia bukan orang yang suka sama keadaan dunia yang sekarang dan berharap bisa kabur dari hidupnya yang sekarang. Kemudian Phryne Datang dan dia dibikin kalang kabur. Nggak kayak Renton, Clain punya keraguan di awal. Karena status dia yang nggak tahu apa-apa baik soal Fractale System maupun Lost Millenium, dia bener-bener orang baru, galau antara mana yang lawan dan mana yang kawan. Pada akhirnya, prioritas dia adalah untuk melindungi orang yang dia sayang, Phryne dan Nessa.

Phryne, dia adalah cewek yang nyentrik. Saya bener-bener ga dapet impresi gimana hidupnya waktu di kuil. Tipikal cewek Ignorant yang nggak sungkan-sungkan buka baju di depan cowok dan keliatan susah mengerti apa yang ada di kepala orang-orang, In a way, That's comedy. Namun waktu background story dia dibuka, Saya ga bisa ketawa lagi.

Nesa,



Sunda, A Bastard Leader of Lost Millenium, At first. sepanjang waktu berjalan, Dia keliatan baik dibandingkan sesama pemberontak yang lain. Awalnya saya mikir berat kenapa dia gabisa pegang Nessa ("Orang Yang nggak suka Nessa nggak bisa menyentuh Nessa"), Namun kemudian paham kalau dia bukan nggak suka, dia mencoba untuk nggak terlibat sama Nessa karena posisi dia sebagai pemimpin pemberontak. Sunda mengajarkan banyak hal pada Clain dan kemudian memberikan pilihan pada Clain, mau dunia yang seperti apa yang ia ingin buat setelah pemberontakan selesai?

Enri, Resisdence of Tsundere di anime ini. Mungil dan tomboy tapi bisa nembak orang tanpa ragu --Meski tembakannya ngaco sih-. Kekuatannya bertumpu pada karakternya yang meski dia bilang benci pada Fractale system, Dia bisa warming up sama Nessa dan Phryne. Punya brother complex yang menyusahkan dan karakter dia beneran saya kagumi waktu dia pura-pura sok kuat meski tahu bahwa Sunda nggak ada kesempatan untuk tetep hidup di final episode.

Plot


Plot-nya berjalan enteng di awal, dikasik komedi dan drama yang enteng sambil pelan-pelan dikasih tahu gimana sebenernya Fractale itu dan gimana sih Lost Millenium itu. di sini nggak ada yang baik maupun buruk, Baik Fratale maupun Lost Millenium adalah sebuah kelompok yang punya ideologi masing-masing dan memperjuangkan apa yang mereka percaya.



But, There are many bastard here and there who really there to make us hate them.

Take Gail, for example. Dia bukan dari Lost Millenium maupun Fractale Temple, tapi dari sisi manusia yang terlanjur nyaman sama apa yang diberikan oleh Fractale. Hasilnya? Dia bakal melakukan apapun untuk tetap menikmati kenyamanan.

Oh, Human! You bastard!

Apa yang saya pelajari?

Teknologi ada bukan untuk kita bergantung. Yups, Teknologi mempermudah kehidupan, tapi bukan berarti kita harus menyerahkan semuanya ke teknologi. Teknologi gapunya yang namanya 'Kehangatan' , Dari facebook kita juga gabisa ngasik 'Senyuman' yang sejati. di sisi lain, bukan berarti Teknologi itu sepenuhnya buruk. Banyak yang bener-bener bergantung pada teknologi karena mereka memang ga punya pilihan lain.

Terima kasih untuk Kagetsuki Arai telah bersedia menaruh Reviewnya di blog saya.

Jadi apa kalian sudah menonton Fractale, jika sudah apa pendapat kalian tulislah komen kalian di bawah dan jika belum apa review ini membuat kalian tertarik menontonnya?

Jadi Apa pendapat kalian soal Social network di masa sekarang.  Apapun itu komen di bawah...

Terima kasih sudah membaca review ini dan jika kalian punya unek-unek, review akan sesuatu, kalian bisa post di sini dan sampai jumpa di Guest Review yang lain...

Jumat, 21 Februari 2014

What Zen Thinks about Tales of The Abyss? (Game) With Herjuno Tisnoaji (Nostalgia Review)

Nostalgia Review adalah review dari game, anime, movie, novel lama yang saya pernah nonton, mainkan, atau baca.  saya akan menjelaskan lebih detil dan mendalam, karena itu Review ini akan spoiler.  You been warned…

Zen        :
“Saya Pertama Kali main Tales of The Abyss itu saat saya di Malang dan saya melihat teman saya memainkannya, saya jadi ingat Star Ocean. Karena sistemnya Realtime fight.  Kalau Herjuno sendiri, pertama kali kenal Tales of the Abyss kapan?”

Herjuno :
“Kapan pertama kali kenal Tales of the Abyss? Kalau nggak salah, sekitar tahun 2007-2008”

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/7/76/Talesoftheabyss_us.jpg


Zen        :
“Tahunya dari mana? Dari temen, dari rekomendasi misalnya?”

Herjuno :
“Waktu itu, saya memang lagi suka dengan J-RPG yang--kriterianya--"memiliki ilustrasi anime", seperti Radiata Stories dan Steambot Chronicles (keduanya di-publish oleh Atlus, omong-omong). Saya memilih game ini sendiri sebenarnya juga bisa dibilang kebetulan, karena, well, saya suka premis dan ilustrasinya saja ketika sedang mencoba-coba game di tempat penjualan game. Waktu itu, di toko game kan boleh mencoba game, jadi saya, sekali lagi, kebetulan menemukan Tales of The Abyss.  Sepertinya, ketika mencoba, saya tertarik dengan environment-nya, dan juga battle system-nya. Saya sempat mencoba sampai tutorial battle-nya, dan saya merasa tertarik.”

Zen        :
“Sementara saya saat itu pinjam sama teman. Soalnya game ini sama sekali tidak pernah terlihat di kotaku. Jadi saya coba dan tertarik sekali, Ingat tutorial sama si Van. Premis awal cerita kita langsung dibawa tentang sejarah Fonon dan Dewi yang ada di luar angkasa itu. Siapa lagi namanya?"

Herjuno :
“Yulia secara sekilas dia tampak sebagai Dewi Fonon.”

Zen        :
"Mari kita bicarakan soal Gameplay. Dari Menu screen yang ada. Saya harus bilang, saya agak merasa terbatasi karena inventory hanya bisa menampung 16 item per jenis. Menurut Herjuno bagaimana? Sementara Star Ocean saja maksimal 20 Item Per Jenis."

Herjuno :
“Iya, makanya. Tapi, regardless, bagi saya, ada item yang kalau 16 saja nggak cukup: Magic Lens. Tidak seperti game-game RPG lain, Tales of The Abyss (atau game Tales secara umum) tidak secara otomatis menampilkan status dari musuh kita--bahkan meskipun musuh itu bukan boss. Secara otomatis, jika kita ingin mengetahi status musuh (seperti HP dan kelemahannya), kita perlu mengandalakan Magic Lens. Nah, makanya, Magic Lens itu, bagi saya, termasuk item penting yang perlu bisa dibawa banyak dalam sekali angkut. :3”

Zen        :
“Hehe, Yah inventory yang bener-bener dibatasin itu salah satu kendala di dalam game ini. Apa lagi saat kita suka melakukan Combo magic dan attack. Energi karakter akan cepat sekali habis karenanya dan tidak ada suppli jika kita terlalu jauh di dalam Dungeon. Tapi, setidaknya Energi karakter bisa bertambah jika kita menyerang tanpa menggunakan skill.”

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/7/79/Tales_of_the_Abyss%E2%80%94Gameplay_2.jpg


Herjuno :            
“Ya, memang, untungnya bisa regenerasi, jadi tidak perlu mengandalkan item.”

Zen        :
“Game ini juga memberikan Fighting mode yang benar-benar nyaman yaitu no random battle. Musuh akan kita lawan jika kita sentuh dan terlihat. Tidak sekedar jalan dan BUM. Random Encounter. Bahkan ada Item yang bisa membuat musuh menjauh, bagi saya itu sangat-sangat bagus.”

Herjuno :
“Iya. Tales of The Abyss itu termasuk tipe game yang memungkinkan kita untuk memilih musuh mana yang akan kita lawan. Jadi kita bisa bisa menghindari musuh-musuh yang levelnya jauh di atas kita untuk menyelamatkan diri (dan menghemat item) atau jauh di bawah kita untuk menghemat waktu”

Zen        :
“Sementara untuk genre PS 2, sistem battle mode-nya amat inovatif. Ada empat karakter yang playable, bisa mengendalikan salah satu karakter, bisa kombinasi serangan dan skill, dan karakter yang tidak dimainkan juga dapat EXP walau separuh EXP-nya.  Jangan lupa saat memenangkan battle, kadang terjadi percakapan lucu. Salah satu yang paling memorable adalah percakapan Anise dan Jade soal kenapa Jade begitu kuat.  kalo menurut juno, sistem battle game ini bagaimana? Saya sih, merasa amat aktif. Karena ini sistem realtime. Bahkan bisa multi player sampe 4 player”

Herjuno :
“Battle dalam serial Tales itu memiliki sistem unik yang membedakannya dengan battle lain. Nama dari sistem battle ini kan Linear Motion Battle System (LMBS) di mana pergerakan karakternya hanya dibatasi dalam cakupan area dua dimensi (meski, nantinya, kita bisa membawa para karakternya untuk bergerak ke sana kemari dengan tombol tertentu).  Selain movement, hal yang saya sukai adalah personalisasi artes, baik karakter yang kita kendalikan maupun tidak.  Personalisasi artes memungkinkan kita untuk melancarkan serangan seefisien mungkin; damage maksimal dengan penggunaan TP yang efisien.  Adapun personalisasi artes bagi karakter lain berguna baik untuk menyerang (seperti mendayagunakan elemen untuk mengaktifkan Field of Fonon) maupun untuk bertahan (seperti penggunaan artes suportif seperti First Aid).  Instruksi ke karakter lain untuk melancarkan artes semacam Heal itu berguna jika kita mau menghemat atau sudah kehabisan item-item penambah HP seperti Apple Gel.

Zen        :
“Karena itu begitu banyak variasi dalam sistem battle ToA. Itu membuatnya menarik. Tidak lupa tantangan dalam game bisa disesuaikan. Mau Easy, Medium, Hard, Bahkan Very Hard. Boss Battle juga epik dan menantang. Over Drive dan Mystic Arts yang keren abis.”

http://i1.ytimg.com/vi/37NdUGyBpeQ/hqdefault.jpg


Herjuno :
“Ah, ya, itu. Sebenarnya ini merupakan sistem yang jamak dalam J-RPG sih (seperti Limit Breaks dalam serial Final Fantasy), tapi memang, setiap game punya sistem yang khas.  Favorit saya itu punya si Jade.”

Zen        :
Oke, sekarang kita ke Grafis. Grafis dari Tales of the Abyss adalah Anime Style dengan lingkungan 3D. Gambarnya terkesan halus dan nyaman dipandang. Juga repsentasinya pada setting sesuai sekali.  Kalau menurut Herjuno gimana soal grafisnya?

http://farm8.staticflickr.com/7058/6811127078_3f1d8d5192_n.jpg


Herjuno :
“Setahu saya serial Tales memang identik dengan wana-warna cerah, jadi enak dipandang.
Apalagi ada sisipan anime sebagai alternatif FMV, jadinya lebih variatif.  Saya juga suka desain karakter dan kostumnya--terlebih kita juga bisa mengganti-ganti kostum dari karakter.  Untuk representasi setting, saya suka penggambaran dari setiap daerah/kota. Tampak memiliki ciri khas masing-masing.  Sebagai contoh Chesedonia yang merupakan kota padang pasir itu digambarkan dengan baik dari segi bangunan-bangunan dan terrain-nya (gersang dan dominan warna cerah). Hal ini dapat dikontraskan dengan City Of Yulie Jue, yang ddidominasi dengan warna yang suram (ungu) sehingga suasananya beda.”

Zen        :
“Yah, saya setuju soal itu. Sekarang kita lanjut ke Story.  Menurut saya Story dari Tales of the Abyss is Legendary.  Bermula dari Kisah Luke Fon Fabre yang seorang Douchebag, yang pelan-pelan mulai belajar untuk saling mengerti dan jadi Hero.  Jujur saja, saya kesal sekali sama Luke, saya bahkan berpikir, “Is this really our hero?”  yah seperti itulah.  Juga kita bincangkan tentang judulnya, Kisah tentang Abyss. Abyss di sini maksudnya apa, Herjuno?”

Herjuno:
“Pertama, saya bicarakan judul dulu. Menurut saya, "abyss" ini mungkin mengacu kepada Qliphoth, realm yang ada di bawah Outer Land.
Dari penampilannya saja Qliphoth kan memang sudah tampak "suram", terutama karena pengaruh miasma yang mengelilinginya.
Tapi, kenapa Abyss, dan bukannya, semisal, Kimlasca atau Mallkuth begitu, saya kurang tahu.”

Zen        :
“Menurut saya sih, justru Abyss di sini adalah Miasma. Karena kisah ini fokus dalam melenyapkan Miasma dari seluruh dunia.”

http://25.media.tumblr.com/tumblr_lftyjg3JB41qgvvtno1_500.jpg


Herjuno :
“Bisa Jadi.  Jadi cerita Tales of The Abyss intinya adalah Dimulai dari karakternya, Luke fon Fabre yang memiliki karakteristik antihero (sombong, manja, mau menangnya sendiri).  Tapi di sepanjang cerita dia menyadari sifat buruknya itu dan mau berubah.  Sampai kemudian, ia menemukan siapa sebenarnya sendiri, which is, actually rather a surprise.  Memang, dengan penempatan Luke sebagai karakter utama, penyampaian plot-konflik menjadi lebih meaningful. Tales of The Abyss sendiri mungkin satu dari beberapa game yang pernah memainkan yang memiliki pesan moral yang banyak. We can virtually learn something from each character.  Impresi? Seperti yang saya bilang, plotnya tertata--baik dari segi plot utama maupun subplot. Saya sendiri memang suka tipe cerita yang setiap karakternya memiliki peran. Tales of The Abyss merupakan salah satu cerita yang memiliki karakteristik seperti itu. Mungkin, dari segi worldbuilding, ada beberapa informasi yang dijejalkan untuk menjelaskan konsep dunianya, tapi dengan konsep yang bervariasi dan sebanyak itu, mungkin cukup wajar bagi saya.”

Zen        :
“Game ini juga menyajikan banyak twist-twist yang tidak terduga sepanjang cerita. Setiap karakter punya twist. Tidak sekedar Good vs Evil. Lebih dari itu. Motif kedua pihak adalah demi kebaikan dunia menurutku. Soal story, saya tidak ragu memberikan game ini nilai penuh. Sekarang kita bicarakan soal karakter. Kalau menurut Juno, karakterisasi dan peran karakter di game ini bagaimana?

Spoiler Alert

Herjuno :
“Mulai dari Luke.  Luke memulai perannya sebagai seorang putra bangsawan yang sombong, manja, dan seenaknya sendiri (spoiled brat).  Dia juga emosional, dan cenderung tidak mau mengakui kesalahannya, bahkan setelah apa yang terjadi di Akzeriuth. Namun, setelah teman-temannya meninggalkannya, dia mulai sadar bahwa perilakunya selama ini salah, dan dia mau berubah.”



Zen        :
“Perubahan karakter dan alasan dia berubah itu adalah sesuatu yang perlu dipelajari oleh gamer.  Intinya setiap orang harus bisa berubah jadi yang lebih baik.  Sekarang ke Tear. Menurut saya Tear ini, karakternya unik sekali. Dia cool chick, yang agak2 tsundere, tapi dia mudah terenyuh sama yang lucu.  Cute lover."

http://i34.photobucket.com/albums/d143/talesofharmonia/tofg225toa12.jpg


Herjuno :
“Memang, tampak ketika ia pertama kali bertemu dengan Mieu.
Kalau aku tidak salah, Tear itu kan salah satu dari official di Order of Lorelei.
konfliknya sendiri menarik: 1. Atasannya adalah Grand Maestro Mohs (antagonis) 2. Kakaknya adalah Van (antagonis juga).  Tapi dia membenci Van dan ingin membunuhnya.  Intinya, dia ini tipe karakter yang enak buat dieksplorasi karena harus memilih sisi mana yang perlu diambil. Sebenarnya goal-nya kan simpel: Membunuh Van. Tapi menjadi tidak simpel karena keseret-seret Luke.
Eh, mungkin tidak sampai membunuh; cuma sampai menghentikan Van. Even the antagonists are splitted.

Relasi intercharacter ya. Memang sih, kalau--biasanya--di awal-awal digambarkan kalau karakter utama cewek itu lemah dan karakter utama cowok itu kuat. Di Tales of the Abyss sebaliknya; karakter utama cewek kuat dan karakter utama cowok lemah. Ini mungkin juga menambah keunikannya.
Di awal-awal loh. Di bagian akhir, tetap saja ditampilkan sisi kuat dan lemah dari tiap karakter.


Zen        :
“Yah, developer memang intens dalam membangun setiap karakter yang ada di game ini.  Semua berperan baik juga punya keasikan untuk dieksporisasi.  Lanjut ke karakter favorit mayoritas orang di Tales of the Abyss. Jade Curtis.  Kalau Herjuno pikir si karakter yang bener-bener unik ini gimana?”

Herjuno :
“One thing: his past is strong. Memang, sih, setiap karakter di Tales of the Abyss memang punya masa lalu masing-masing, tapi, menurut saya, Jade ini yang masa lalunya kuat.  Intinya, di balik sifat dan lelucon sarkastisnya, ada masa lalu yang suram. Dia juga jadi penyeimbang Luke yang serba-tidak-bisa.  kalau Luke-Tears itu humor relationship, Guy itu dengan fobianya, dan Anise dengan sifat matre & kekanakkannya, Jade itu dengan sifat cool dan humor sarkastis.”

http://i149.photobucket.com/albums/s72/Natalia_Luzu/Tales%20of%20the%20Abyss/Anise%20Tatlin/Anise_JadeNovel.jpg

Zen        :
“Kesimpulannya karakterisasi di game ini amat sangat menarik.  Intinya para developer sudah mempersiapkan game ini harus punya karakter yang memorable dan unik.  Tidak sekedar motif dan peran karakter, tapi juga sifat mereka unik satu sama lain.  Tidak ada yang sama.  That’s really awesome. 

Itulah percakapan antara saya dan teman saya yang sesama fans dari game Tales of the Abyss.  Sekarang saya lanjutkan review ini berdasar perskpektif saya pribadi.  Tales of the Abyss adalah game favorit saya sejak pertama kali saya memainkannya.   Mayoritas saya sudah sebut di atas dalam percakapan saya dengan Herjuno.

Tales of the Abyss adalah transisi Tales series dari Linear combat system menjadi 3D Free Run Combat System.  Keputusan ini cukup kontroversi.

Game ini dibuat oleh tim Namco Bandai, disutradarai oleh Yoshito Higuchi, diproduseri oleh Makoto Yoshizumi.  Artist-nya adalah Kosuke Fujishima. 

Kisah dimulai dari Luke Fon Fabre seorang anak dari Duke Fabre.  Dia belajar dari guru ahli pedangnya Van.  Kemudian kemunculan Tear Grants yang menyebabkan petualangan Luke terjadi.  Luke adalah seorang yang terisolasi dari dunia luar dan Tear adalah yang membuat Luke mulai membuka mata tentang dunia luar.

Luke awalnya adalah seorang karakter yang menyebalkan siapapun yang memainkan game ini.  Dia orangnya egois, tidak peduli sama orang lain, juga bersikap benar-benar seenaknya.  Tidak punya tata krama lebih tepatnya. 

Terutama saat Luke pergi ke sebuah lokasi pertambangan bernama Azkeriuth, aku yakin semua gamer yang main game ini merasakan betapa menyebalkan Luke and really want punch him at the face. Namun, di sana pula Luke mendapati tentang siapa dirinya dan akhirnya mulai berpikir untuk berubah.  Di sinilah juga game mulai tampak menunjukkan sisi Hero si Luke.

Kalau kalian main game ini, saya rasa mayoritas paling jarang memakai si Natalia, well I see in this game archer is quite sucks in this game.  Sering mengalami miss target.  Namun, di sisi karakter Natalia adalah karakter yang saya sangat suka.  Dia sebagai princess benar-benar bersikap sebagai seorang princess.  Ada adegan saat Natalia menyerahkan sepenuhnya hak nikahnya pada sang Ayah karena dia mau melayani negerinya (Baticul) sebaik-baiknya.  Jujur saja, sangat jarang ada cerita tentang princess-princess dari game, movie, manga, anime yang bersikap demikian.  (as I know).  Kisah cinta Natalia dan Asch juga sangat menyentuh.  Natalia tumbuh dalam kebohongan, twist-twist yang sangat mengejutkan, juga kisah cintanya dengan Asch yang penuh dengan intrik, namun dia tetap menjaga dirinya untuk tetap tangguh demi orang-orang di sekitarnya.

http://prntscr.com/2ug8qp


Guy Cecil adalah karakter unik lain yang phobia dengan cewek, awalnya banyak yang menduga ini hanyalah lelucon buatan developer.  Itu sering terjadi di banyak cerita, tapi tidak untuk yang satu ini.  Karena Guy punya alasan khusus kenapa dia phobia dengan cewek.

http://media.animevice.com/uploads/0/36/27354-guy_large.jpg


Plot dan twist di game ini sangat menarik di mana setiap karakter punya alasan masing-masing di dalam quest baik antar villain dan juga antar sesama Ally.  Motif kedua belah pihak ini tidaklah jauh berbeda tujuannya tapi mereka punya metode yang berbeda.  Kenapa tim villain ikut dengan si Super Villain?  Alasan mereka kuat.  Hingga sepanjang memainkan game ini sangat menarik untuk melihat bagaimana pertumbuhan karakternya terutama dalam segi moralitas.



Sepanjang game, semakin jauh diikuti, semakin menghanyutkan.  Tidak lupa dengan humor-humor segar yang lucu, baik di dalam skit-skit maupun di cutscene.  Beberapa NPC juga sangat likeable.  Saya sangat suka dengan Noelle si Pilot Albiore II.  Kadang-kadang saya bahkan mau buat cerita khusus untuk dia (fanfic gitu).



Seperti yang saya dan Herjuno bicarakan di atas.  Bagaimana tim developer membangun chemistry antar karakter sangatlah baik.  Beberapa RPG lain kadang-kadang alasan karakter ikut dalam quest sangat simple dan tidak kuat.  Bahkan kadang ada yang hanya tidak sengaja bertemu dan ikut dalam quest.

Game ini juga banyak Side-quest yang ada hanya untuk senang-senang ada juga yang memang membuka subplot dari cerita utama.  Salah satunya adalah side-quest dari Nebilim.  (damn that one really take forever), Cecille and Frings Quest yang sangat menyentuh, beberapa quest bertingkat yang asik dan reward dari quest-quest tersebut ada beberapa yang sebenarnya kecil, ada pula yang benar-benar sangat menyenangkan.  (kostum dan item-item special).


 
Musik di game ini juga sangat memorable dibuat oleh Motoi Sakuraba, Shinji Tamura, Motoo Tamura.  Setiap kota punya tema masing-masing, setiap dungeon juga punya musik-musik sendiri.  Selain itu ada juga musik tambahan dari Bump of Chicken yaitu Karuma sebagai opening dan juga ada beberapa remix di dalam game.



Voice acting di game ini sebenarnya cukup bagus tapi tetap masih kurang memuaskan seperti versi Jepangnya.  Ditambah lagi ada banyak voice yang hilang di dalam game.  Skit, Opening Song, dan juga beberapa kurang ekspresif.  Jika kalian mau benar-benar sepenuhnya merasakan pengalaman dari game ini, main versi Undub.



Kapanpun saya memainkan game ini, yang rasakan adalah marathon of epicness.  Walau ada beberapa keluhan saya seperti no skip scene feature.
Tentu saja Tales of the Abyss is… .

Amazing because It's Epic


Terima kasih sudah membaca review ini, saya berterima kasih pada Herjuno Tisnoaji yang sudah menemani saya di review ini, sori saya lama baru bisa posting.  Jadi apa kalian sudah pernah mencoba memainkan game ini dan apa pendapat kalian?  Komen di bawah dan dengarkan apa kata Yui di samping =>

Sampai jumpa hingga saya memikirkan sesuatu yang lain lagi.


Rabu, 29 Januari 2014

What Zen Thinks about Legend of Hercules? (Movie)

Belakangan ini sangat sering hujan, Kan? Sekarang aku tahu apa penyebabnya...

*Berbisik, It's because this movie.


Legend of Hercules

Movie ini disutradarai oleh Renny Harlin.  Cast di film ini adalah Kellan Lutz sebagai Hercules... dia main di Twilight though, Gaia Weis sebagai Hebe, Scott Adkins sebagai Amphitryon, Liam Garrigan sebagai Iphicles, Liam McIntyre sebagai Sotiris.

Aku bakal banyak spoiler so, Prepare for that!  I don't care for this movie.

Legend of Hercules memulai cerita saat King Douchebag (saya akan sebut seperti ini selanjutnya karena lebih mudah diketik and you know what? He is a Douchebag) mengalahkan raja dari negeri lawan.  Dia gila perang dan gila kekuasaan.  Sang ratu pun tidak setuju, dia berdoa pada patung Hera untuk membuat sang Suami bisa mendapatkan karmanya.  Dia berdoa dengan doa yang seharusnya sedih, seharusnya membuat hati penonton merasa simpatik... tapi bagaimana mau simpatik bahkan air mata sang Ratu tidak menetes.

Kemudian di suatu malam yang berpetir si Ratu mendesah-desah sendiri seperti... si King Douchebrlaag menyadari itu dan dia tidak melihat siapa yang sentuh istrinya. Dari hasil desahan itu lahirlah Hercules, tapi sang ayah memberikan dia nama lain yaitu Alcides.

20 Tahun kemudian. Jeng jeng jeng....

Alcides tumbuh besar dan sedang pacaran (jatuh cinta) dengan seorang putri bernama Hebe.

sumber http://apnatimepass.com/the-legend-of-hercules-movie-still-9.jpg

 saat itu Saudara Alcides datang yang bernama Iphicles tidak suka dengan hubungan mereka karena Hebe adalah seseorang yang dijodohkan dengannya untuk melakukan pernikahan tiga bulan kedepan.  Mengetahui hal itu, sang Raja mengirim Alcides perang bersama dengan Sotiris ke negeri seberang dengan keinginan untuk bunuh si Alcides di sana. 

Inilah awal cerita dari Movie kita satu ini. 

Jujur saya akan mengatakan kalau saya suka dengan Hercules Story, saya menonton versi kartun, live action, juga gamenya.  Tapi, kecuali yang satu ini...No...

Pertama kita bicarakan soal plot dari cerita ini.  Beberapa bagian dari cerita ini bener-bener ripoff dari 300 dan Gladiator.  Saat mereka punya sedikit tentara mereka harus lawan banyak tentara... seperti 300 dan saat adegan mereka bertarung di arena benar-benar mirip Gladiator.

Intinya film ini bercerita tentang Alcides yang mengetahui bahwa dirinya adalah Hercules dan melakukan tugasnya untuk mengalahkan Ayahnya sesuai dengan yang seharusnya dia lakukan.  Saat mengetahui dirinya adalah seorang yang punya tugas sebesar itu, Kellan Lutz tidak bisa menunjukkan sesuatu yang menarik. Jika kamu baru tahu kalau dirimu punya kekuatan yang besar jelas seharusnya setidaknya kamu merasa kaget dan mulai memikirkan hal tersebut. 

Sumber dari http://cdn02.cdn.justjared.com/wp-content/uploads/headlines/2013/12/kellan-lutz-is-shirtless-sexy-for-new-legends-of-hercules-trailer.jpg

Putri Hebe di sini benar-benar pemanis cerita.  Dia pikirkan hanyalah bersama Alcides, tidak memikirkan tentang rakyat.  Apa yang dia pikirkan hanya satu, ingin hidup bersama Alcides.  Itu menyatakan kalau orang tua Hebe tidak mengajarkan Hebe tentang arti seorang putri sama sekali. Apa lagi Romance dalam cerita ini benar-benar di develop begitu buruk.  Kemunculan Putri Hebe dan Alcides di hutan dan ciuman.  Tidak ada penjelasan kenapa mereka bisa jatuh cinta, sejak kapan mereka kenalan, dan chemistri antara dua karakter ini adalah nol besar.  *Just look at Natalia and Asch Shall we!

http://www.hdwallpapersin.com/files/submissions/the_legend_of_hercules_movie_wallpapers_1861034284.jpg

Saatnya bicarakan dua villian di sini.  Yaitu ayah dan anak Douchebag King dan Douchebag Prince. Kita mulai dari Douchebag King.

Raja satu ini... yang dia kerjakan adalah yelling all the fuckin time!  Saat bicara dia teriak, setiap saat. Dia bisa saja datang ke tempat penjual Martabak dan tetap bicara dengan nada sparta Leonidas.  Intinya dia adalah karakter yang benar-benar menyebalkan dan selalu saja marah atas segala hal.

http://twitchfilm.com/assets/2014/01/legend-of-hercules-07-350.jpg
Coba perhatikan jenggotnya itu... Benar-benar terlihat fake. Oke aku tahu kalau film-film Indonesia punya jenggot dan kumis lebih tampak palsu, tapi ini standar hollywood... Come on.

Sementara Douchebag Prince adalah karakter paling menyebalkan di sini. Dia lembek dan menyedihan. Dia tidak punya kemampuan apa-apa dan memang keturunan Ayahnya yang suka teriak dalam segala hal.  His acting so slimy, dan tubuhnya kecil... Aneh, si Douchebag King tahu anaknya akan naik tahta tidak mengajarkan anaknya baik-baik untuk jadi petarung yang kuat. Aku tahu itu sama seperti Thor dan Loki di movie mereka, tapi bukankah Thor yang akan jadi raja dan lihat saja body-nya.

CGI di movie ini standarnya sama dengan Movie tahun awal tahun 2000.  Tampak begitu fake, ada adegan saat Putri Hebe menengok kebelakang. Latar belakangnya seperti visual efek movie tahun 90-an.  Saat Hercules mengayunkan pedang petirnya, benar-benar tampak aneh dan tidak realistik.  If you have low budget movie, don't make movie like this!

http://horrornews.net/wp-content/uploads/2014/01/the-legend-of-hercules-lightning-sword.jpg

Jika kalian perhatikan kostum-kostum di dalam movie ini, well tampak aneh.  Bahkan untuk era saat itu.

http://content.internetvideoarchive.com/content/photos/8612/703485_014.jpg

Salah satu yang harus saya sebut di dalam movie ini adalah overuse SLOWMO! Yeah, setiap action dan nyaris setiap ada terjadi baku pukul akan jadi Slllooowwww mooooo *akibatnya jadi ikut slowmo.

Seperti ini kira-kira setiap kena pukulan...
sumber : https://lh6.googleusercontent.com/-0dlLHKnpvrk/UiumfJau-pI/AAAAAAAAFAg/7TCiZVyVb28/daniel-jacobs-giovanni-lorenzo-face.gif%3Fimgmax%3D640


 Akting di movie ini.... OH MY GOD!

Coba kita balik ke awal lagi. Alasan kenapa sekarang sering sekali hujan, itu karena Zeus lagi marah dan terus turunkan hujan agar kalian tidak nonton movie ini!  Karena mereka membuat putra Zeus seburuk ini.  Kellan Lutz yang berperan di dalam Movie Hercules ini sangat statik, dia bahkan sangat jarang bicara karena setiap dia bicara tidak ada sesuatu yang menarik di sana.

Dia hanya punya nama Hercules tapi tidak punya karakter apapun di dalamnya. Karakter lain juga tidak banyak yang bisa dibicarakan, most of them is sucks so bad. Bahkan saat mereka berakting sedih, banyak adegan yang bahkan tidak menunjukkan airmata menetes.  Dialog-dialog di dalam movie ini tidak ada yeng dalam atau bermakna.  Bahkan saat Hercules menyampaikan pidato sebelum perang besar melawan Douchebag King, tidak menggugah semangat.  Karakter Hercules di sini keliatan mau pulang dan mengalahkan ayahnya hanya untuk mendapatkan Hebe lagi.  Tidak ada semacam develop dia tampak peduli dengan rakyat... Actually only one scene... Tapi tidak terdevelop dengan baik.

Final Battle sangat-sangat mengecewakan.  Pertarungan over slowmo dan di sini ada satu adegan paling...

Intinya adalah saat seseorang seharusnya tampak tertusuk di bahu kirinya, kameranya ada di sebelah kiri hingga membuat pisau itu terlihat jelas dijepit di ketiak si korban.  This... is... ARRGGGHHHHHH

Oke, saya kehabisan nafas buat cerita semua yang ada di movie ini.  Sangat jelas Legend of Hercules will...

Torture your soul to the DAMN!

Terima kasih sudah membaca review ini dan saya bilang jangan sedikitpun kalian ada keinginan nonton movie ini.  Just let me sacrifice my time and my money for you... just me... Okay! Just stay away from this movie... just watch Wolf of Wall Street or American Hustle. 

Jangan lupa dengar apa kata Yui di samping dan sampai jumpa hingga saya memikirkan sesuatu yang lain lagi.

Keterangan :

Keterangan :

nilai 1-2 saya akan sebut This will torture your soul to the damn ini artinya apapun yang saya review adalah karya yang amat buruk dan jika kalian maksa buat mainin, nonton, atau baca akan merusak jiwa kalian.

Nilai 3-4 saya akan sebut Just forget about this and continue your life without it Ini adalah sebuah karya yang tidak pantas diingat dan sebaiknya lupakan karena tidak berarti alias buang-buang waktu untuk dilirik.

Nilai 5-6 Saya akan sebut It's good to time wasting artinya kalian bisa menikmati hal ini jika ga ada kerjaan, tidak ada tugas, hanya buat main-main dan tidak ditanggapi serius.

Nilai 7-8 Saya akan sebut This is worth it, Enjoy your time with it! Dengan kata lain karya ini pantas untuk kalian nikmati dan pantas kalian gunakan waktu kalian untuk merasakannya.

Nilai 9-9,5 Saya akan sebut You want through this again! Ini saya maksudkan bahwa karya ini pantas kalian baca lagi, nonton lagi, mainin lagi alias punya high replay value.

Sekarang untuk nilai tertinggi 10 saya akan sebut AMAZEPIC (It's Amazing because it's Epic) ini jelas sebuah karya yang menurut saya benar-benar pantas kalian nikmati dan sangat memorable.  Dapat nilai 10 bukan berarti karya ini flawless.  Tapi, saya cuma menegaskan bagian hal keren dari karya ini jauh lebih banyak dibanding yang jeleknya/flaw-nya.  Ibarat 11 hal bagus dan 1 hal jelek. Seperti itu.











Sabtu, 25 Januari 2014

What Zen Thinks about Legend of Heroes : Tears of vermillion? (PSP Games)



Ayo kita melihat salah satu marathon yang konstan di game ini.




Legend of Heroes : A Tears of Vermillion.
Developed by Falcom and Microvision
Published by Bandai
Platform : PSP

Legend of Heroes adalah game dimana saat kamu memainkannya dan kamu sadar kalau game ini begitu hafal dengan standar RPG yang kau kenal selama ini.  Game ini dimulai dengan penyerangan sebuah tempat oleh Lord Bellias yang ingin mencari seorang gadis yang disebut sebagai Durga’s Daughter.  Dia adalah Eimelle adik dari Avin, mereka begitu dekat karena Eimelle dan Avin kehilangan ortu mereka.



Kejadian ini menyebabkan Avin dan Eimelle terpisah.  Avin kini tinggal bersama seorang sage Lemuras dan dia pun menjadi murid Sage tersebut di sebuah desa terpencil.  Selain itu Avin juga berteman dengan Mile.  Cerita pun dilanjutkan setelah Avin dan Mile berumur 18 tahun di sinilah saat Lemuras meninggal. Avin dan Mile pun mulai perjalanan untuk mencari Eimelle.



Dimulai dari grafik, game ini cukup step up dari versi awalnya di PS1 yang tidak dirilis keluar.  Setiap kali berdialog karaktermu akan muncul di layar dengan berbagai ekspresi yang menunjukkan bagaimana dirinya di dalam cerita tersebut.  Setidaknya, tidak seperti di Crimson Gem Saga dimana karakternya digambar besar-besar tapi ga memperlihatkan ekspresi karakternya.  It’s pointless.



Dari segi gameplay, game ini memberimu kuantitas item yang sangat mengecewakan.  Oke, mayoritas game kuantiti per item adalah 99, terus jika kalian melihat Star Ocean, itu batasnya 20 Item, di tales series 16 item.  Tapi di game ini, kamu Cuma bisa bawa 10 item.  Saya sangat sering kehabisan karena itemnya sedikit sekali.  


Selain itu kamu punya pet, yah seekor kelinci yang entah siapa namanya.  Setiap kali dia menemukan sesuatu, kamu dekati dia dan tekan X maka dia akan memberikan item tersebut.  Dia juga perlu dikasih makan, walau menurut saya tidak ada sesuatu yang spesial dari memberinya makan, tidak ada indikasi dia lapar, tidak ada indikasi perbedaan efek makanan terhadap kelinci tersebut. 




Kelinci ini juga bisa bantu dalam battle, jika ada tanda love di kepalanya, dia akan memberikan stat effect pada karaktermu, jika muncul tanda marah maka dia akan jatuhkan batu besar dia tas musuhmu…(entah gimana caranya)



Navigasinya lumayan, aku Cuma masih kesal dengan game di konsol advance yang tidak punya map system.  Setidaknya kamu punya map, yah kadang-kadang juga ga begitu membantu.  
 
Saat berbelanja, weapon-weapon tidak ada deskripsi yang menjelaskan kelebihan dan kekurangan dari senjata itu.  Hanya sebatas memperlihatkan perubahan statusmu.  Well, it’s okay, right? NO! setiap senjata seharusnya punya deskripsi dimana kita bisa tahu kemampuanya, bisa saja senjata itu bisa punya element effect, Status effect, di sini kamu tidak akan tahu soal itu karena bener-bener tidak ada penjelasan.



Sekarang saya akan jelaskan system battle-nya, pertama tidak ada random battle, kamu battle hanya jika menyentuh musuhnya.  Jika musuhnya marah maka dia akan mengejarmu, jika dia takut dia akan menjauhimu (andai kamu sudah over level). 


Game ini punya system battle seperti Grandia III sebenarnya, dimana semua karakter ada di sebuah field. 
Setiap karakter punya batasan jarak serang dan jarak gerak sendiri-sendiri. Jadi kamu bisa mengendalikan posisinya dan punya dampak yang signifikan dengan jalannya pertarungan.  


Karakter punya tiga meter. HP meter, MP Meter, dan Power Meter. HP dan MP jelas kalian sudah tahu apa gunanya, Power meter berguna jika sudah penuh kamu bisa mengeluarkan jurus khusus yang kuat.  


Di game ini punya serangan biasa, Magic, dan skills.  Skills tidak menggunakan MP sementara Magic menggunakan MP.
Tingkat kesulitan di game ini tidak seberapa, aku hanya kesulitan di dua battle saja. Battle lawan Fatima dan melawan Final Boss. Sisanya, tidak begitu mengganggu.
Karakterisasi di game ini sangat mediocore.  Karakter utama memang careable, tapi menurut saya tidak begitu memikat. 


Saya lebih tertarik sama Karakter utamanya Ceweknya yaitu Rutice, karakter yang satu ini sangat dependable. Dia punya skill, magic, dan serangan yang bagus, dia bahkan bisa Black and White Magic.  I have to say she is best character in the game.  Aku juga suka romance interest antar dua karakter ini.  Mereka saling care dalam gaya yang menarik. Tapi, masih sangat meh jika dibandingkan dengan romance-romance dari RPG lain yang saya tahu…


Avin adalah sosok yang pemarah dan mudah terbawa oleh suasana, sementara si Mile lebih tenang dan selalu membuat Avin bisa kembali tenang agar dia tidak bertindak gegabah. Mereka sudah punya chemistrie sebagai sahabat yang cocok dan saling mendukung.


Bagaimana plot dan Story?
Hahaha… *berusaha tenang dulu.  It’s marathon of Mediocorecity, intinya game ini benar-benar pakai plot standar yang sudah kalian kenal sejak Era SNES. 
Ini agak spoiler, so I give you warning.

  1. Karakter utama mencari adiknya yang katanya adalah kunci untuk membangkitkan iblis untuk menghancurkan dunia (check) I seen that before.
  2.  Sahabat si MC dikira mati padahal tidak, (check)
  3.  Karakter jahat jadi baik karena si chara baik menolongnya dan malah jatuh cinta padanya, (check)
  4.  Sahabat karakter jadi jahat saat muncul kembali karena dikendalikan… (check)
  5.  Final Boss ingin hancurkan dunia karena dia piker dunia sudah jelek (check)
  6.  Si sahabat jadi baik lagi di akhir cerita (check) 
  7. Final Boss menjelaskan semua secara penuh alasan dia menjadi ketua Octum Apostles, (Check).
  8. Kenapa banyak RPG yang memutuskan untuk habis tepat saat si MC cewek dan MC Cowok mau menyatakan cinta.  (check)
Mediocore sekali untuk story-nya. Gamenya juga amat to do point.  Gamenya tidak banyak variasi, hanya fokus ke plot utama. Entah karena saya belum menemukannya, atau bagaimana.  Intinya gamenya terkesan linear sekali.


Fitur-fitur di game ini tidak banyak, bahkan seingatku tidak ada ekstra dungeon atau semacamnya.  Salah satu fitur favoritku adalah Karamus the writer, kenapa dia? Dia membuat cerita berdasarkan pengalaman si Ravin.  Yups sebuah novel, dan lucunya cerita dia lebih bagus dibandingkan kisah si Ravin sendiri.


Di game ini kamu bertemu banyak karakter.  Mereka akan silih berganti tergantung plot. Ini sih soal pendapat pribadi, tapi saya tidak suka dengan hal begini.  Lebih baik karakternya sedikit dan fokus daripada karakter yang banyak tapi mereka terbatas oleh Plot. 

Eimelle it is really cute


Andai karakternya banyak kenapa tidak membiarkan gamer menentukan siapa saja yang mereka suka dan dipakai untuk melawan final boss.  Kenapa tidak seperti Chrono Cross atau Suikoden.  Hingga kita punya Member tim yang tetap?  Well, itu sudah ketentuan gamenya, what you can do anyway.

Boy? really, Tell me what this boy have to show he is a boy?

Ada beberapa karakter yang menarik selain karakter-karakter utama. Seperti Douglas yang berusaha menguatkan diri agar dia pantas memakai Thunder Sword, lalu ada cowok trap yang cantik Rael, dan banyak karakter lain.  Kadang-kadang membuat saya merasa disorientasi.


Jadi bagaimana pendapat saya soal Legend of Heroes : Tears of Vermillion? This is good to Time Wasting. Yah jika kamu tidak ada RPG lain yang lebih menarik, mungkin kalian bisa coba-coba game ini. 

Keterangan :

nilai 1-2 saya akan sebut This will torture your soul to the damn ini artinya apapun yang saya review adalah karya yang amat buruk dan jika kalian maksa buat mainin, nonton, atau baca akan merusak jiwa kalian.

Nilai 3-4 saya akan sebut Just forget about this and continue your life without it Ini adalah sebuah karya yang tidak pantas diingat dan sebaiknya lupakan karena tidak berarti alias buang-buang waktu untuk dilirik.

Nilai 5-6 Saya akan sebut It's good to time wasting artinya kalian bisa menikmati hal ini jika ga ada kerjaan, tidak ada tugas, hanya buat main-main dan tidak ditanggapi serius.

Nilai 7-8 Saya akan sebut This is worth it, Enjoy your time with it! Dengan kata lain karya ini pantas untuk kalian nikmati dan pantas kalian gunakan waktu kalian untuk merasakannya.

Nilai 9-9,5 Saya akan sebut You want through this again! Ini saya maksudkan bahwa karya ini pantas kalian baca lagi, nonton lagi, mainin lagi alias punya high replay value.

Sekarang untuk nilai tertinggi 10 saya akan sebut AMAZEPIC (It's Amazing because it's Epic) ini jelas sebuah karya yang menurut saya benar-benar pantas kalian nikmati dan sangat memorable.  Dapat nilai 10 bukan berarti karya ini flawless.  Tapi, saya cuma menegaskan bagian hal keren dari karya ini jauh lebih banyak dibanding yang jeleknya/flaw-nya.  Ibarat 11 hal bagus dan 1 hal jelek. Seperti itu.

Terima kasih karena sudah membaca review ini. Apa kalian pernah memainkan Legend of Heroes series? JIka pernah yang mana kalian pernah mainkan dan yang mana favorit kalian.  Komen di bawah!

Jangan lupa untuk mendengar apa yang dikatakan Yui di samping!