Minggu, 14 September 2014

Bullshit Time : Reviewing Stuff

Mengingat saya suka sekali mereview sesuatu, tidak cuma novel, game, manga, movies... saya juga mereview Youtuber.  Dan ada niat juga mereview banyak hal lain kalau mood mendukung.

So, sekarang saya mau keluarkan semua uneg-uneg tentang pandangan saya pribadi tentang reviewing stuff.



Mari saya ceritakan dulu tentang kenapa saya mulai review.  Itu sebenarnya dikarenakan saya menemukan channel Chris Stuckmann di Youtube dan review dia tentang one the most disaster movie "Last Air Bender".  Di situ saya merasakan sebuah pikiran, bagaimana Chris mereview movie tersebut dari segi seorang fanboy dari M. Night Shyamalan.

Chris punya respect pada M. Night tapi dia dikhianati atas apa yang dilakukan M. Night pada film tersebut. We know that movie is awful. Kalian bisa nonton review itu di sini. 

Setelah itu saya mulai menikmati satu per satu reviewnya.  Chris sangat jarang menggunakan kata swearing di dalam reviewnya.  Dia berusaha sopan, walau seburuk apapun film tersebut.  Namun, ada saat-saat dia kehilangan kendali dan akhirnya keluarkan semuanya.  Dia juga orang yang menyebabkan blog ini saya buat. 

Saat melihat Chris seperti itu, rasanya saya pun tertarik untuk membuat video review. Saya mulai itu dengan mengupload-nya di Youtube, review saya seperti Kastil Fantasi, Dua Sisi Susi, dan lain-lainnya saya review. Namun, setelah saya perhatikan, saya tidak cocok di sana dan akhirnya saya memilih untuk membuat blog.  Blog ini penuh kenangan by the way.


Kemudian saya mengenal Angry Joe.  Dia mereview dengan cara yang berbeda, seperti namanya, dia review dengan gaya marah baik itu bagus atau jelek dia bicara dengan suara nyaring.  Tapi untuk game jelek, dia benar-benar marah btw.  Review dia detil dan juga disertai footage-footage mendukung.  Kemudian teman saya Fachrul menyarankan untuk menonton AVGN.  Di sinilah efek untuk review game saya mulai naik.  Sampai akhirnya saya mulai review game pertama saya, Metroid : Zero Mission.

AVGN dan Nostalgia Critic bisa membuat sebuah hal buruk menjadi lucu adalah sesuatu yang amat saya berusaha lakukan untuk review-review saya, namun masih belum benar-benar berhasil.  Kemudian setelah Chris meluncurkan sesi Hilliraoucity Review... saya semakin tertarik untuk mencoba.

Mereview adalah sesuatu hal yang memang sudah saya suka sejak lama, karena saya suka memberi penilaian yang dalam tentang sesuatu hal. Sekarang saya berusaha posting review seminggu sekali di Blog ini.

Pikiran saya untuk mereview sesuatu sebenarnya dimulai dengan sebelum mereview hal tersebut, Entah itu movie, anime, manga, game. Berusaha untuk terbuka secara pikiran dulu, jika kita mereview yang saya sebut sebelumnya berusahalah pasang ekspektasi di titik nol, kalau bisa. Dimana kita tidak terlalu overestimate atau underestimate.  Jika sudah menutup hati untuk suka, sebagus apapun itu, maka akan tampak buruk dipikiran kita karena itu sudah mindset kita sendiri.

Jika saya menonton movie, Pertama saya enjoy hal tersebut dulu, (berusaha untuk enjoy) dan jika saya menemukan hal-hal buruk, saya keep in mind, tapi berusaha singkirkan itu demi menikmati film... kecuali filmnya sudah terlalu buruk, maka mau tidak mau saya akhirnya menertawainya.  



Setiap baca review saya sendiri. Kadang saya menemukan hal-hal yang sebenarnya salah di mata saya.  Sebab, setelah saya pikir-pikir sebaiknya jika mereview sesuatu usahakan menunjukkan yang baik-baik dulu lalu memberikan kritik yang konstruktif atau membangun. 

Pandangan saya terhadap review adalah bisa membuat yang membaca/menonton review buatan kita tahu tentang apa yang kita review secara jelas dan bisa diterima secara logis dan terstuktur (Tanpa Masif).  Jika kalian menonton review dari GR Arkada, dia mereview anime secara runtut, dari Story, Karakter, Musik, lalu verdict bisa jadi pedoman jika kalian tertarik mereview sesuatu.

Review tidaklah harus panjang dan sangat detil, bisa juga singkat dan padat.  Di sinilah kita masukkan Style dalam review kita.  Apa mau review kita serius, jenaka, detil, itu terserah Kita.  Namun, saya justru berusaha untuk memasang ini lebih dulu di review yang akan saya buat.  Karena inilah yang jadi bagian paling membedakan kita dengan reviewer-reviewer lain.


Menentukan sikap yang kita pasang sebagai seorang reviewer adalah yang membuat kita spesial.  Apa mau slenge'an macam si Jeremy Jahns, atau mau keras dan juga melucu macam Angry Joe. Apa full rage seperti Nostalgia Critic dan AVGN, atau terstruktur seperti GR Arkada, mau seperti Chris Stuckmann yang lugas dan juga sederhana itu terserah kita.  Menentukan sikap seperti itu bisa membuat kita berganti sudut pandang, sebagai penikmat atau sebagai seorang reviewer.

Mengetahui subjektivitas pada review apapun yang kita lakukan haruslah sadar satu hal, Kalau setiap orang punya selera yang berbeda-beda dan kita sebaiknya mengeskplor apa yang sebenarnya jadi target dari apapun yang kita review.  Saat kita menonton Twilight dan membencinya karena berbagai macam alasan, tapi banyak orang yang menyukai dan kita harus menghargai hal tersebut. Mengarahkan sebuah karya ke audiens/penikmat yang pas adalah yang saya rasa menjadi tugas seorang reviewer. Kecuali jika sebuah karya tersebut memang saya anggap tidak pantas dinikmati oleh siapapun kecuali untuk di tertawakan. (Lirik Legend of the Hercules)

Segitu saja rant saya tentang reviewing Stuff.

That was mouthful...


Sampai jumpa di Bullshit time selanjutnya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar