Rabu, 17 September 2014

What Yulian Thinks about Blue Beard (Barbe Bleu)? (Movie)

Kali ini Guest Review dibuat oleh Yulian Ekowati. Dia adalah salah satu reviewer yang sangat suka dengan movie-movie berbau sejarah, mitologi, dan juga dongeng.  Kali ini dia review sebuah dongeng terkenal Blue Beard. 

Memiliki suami/pasangan yang kaya raya dan punya segalanya pastilah impian dari kebanyakan orang. Terlebih lagi, jika ia begitu baik hati, sabar, penuh pengertian dan mau menuruti apa pun yang kita inginkan dengan sukarela meskipun ia tidak berwajah rupawan dan dianggap aneh oleh kebanyakan orang. Tapi apa jadinya jika pasangan kita menyimpan sebuah rahasia kelam yang tidak ingin diketahui oleh siapa pun, termasuk oleh kita? Akankah kita pegang teguh kepercayaannya ataukah kita langgar kepercayaannya hanya dengan alasan ‘di antara pasangan tidak boleh ada rahasia atau dusta’?

Nah tema itulah yang coba diusung oleh film Barbe Bleu alias Bluebeard buatan Perancis tahun 2009 besutan sutradara Perancis Marie-Catherine Breillat. Film bergenre fantasi ini diangkat dari dongeng seram karangan Charles Perrault yang berjudul sama. Berikut plot dan ulasannya.




Plot

Pada tahun 1950an, kakak beradik Marie-Catherine dan Anne nampak sedang bermain bersama di loteng. Untuk menggoda kakaknya yang sok dewasa dan kerap mengguruinya, Marie-Catherine membacakan dongeng anak-anak seram berjudul Bluebeard kepada kakak perempuannya. Cerita dan seting kemudian beralih ke tahun 1697, di suatu biara di daerah pegunungan. Dua kakak beradik yang juga bernama sama yaitu Marie-Catherine dan Anne, dipanggil oleh ibu kepala biara mereka yang sok relijius namun sebetulnya sangat serakah dan hanya menilai derajat seseorang dari uang dan pangkat mereka saja. Di kantor ibu kepala biara itulah, mereka diberitahu bahwa ayah mereka telah meninggal dunia karena tertabrak kereta ketika mencoba menyelamatkan nyawa seorang bocah kecil yang nyaris terlindas. Dengan kematian ayah mereka, hidup kedua gadis remaja inipun berubah, apalagi ayah mereka tak meninggalkan maskawin untuk mereka maupun warisan yang dapat membuat hidup mereka lebih baik. Karena ini pulalah, mereka diusir pulang oleh ibu kepala biara dari biara tempat mereka menuntut ilmu selama ini. Dengan marah, syok dan sedih mereka pun terpaksa pulang ke rumah.

Di tengah perjalanan, mereka melihat sebuah kastil megah di tengah hutan dengan menara-menara dan temboknya yang kokoh menjulang. Dari kusir kereta mereka, mereka mengetahui bahwa kastil itu milik Lord Bluebeard, seorang bangsawan dan juga tuan tanah terkaya di daerah itu. Meski Lord Bluebeard terkenal berwajah sangat buruk namun ia telah menikahi banyak wanita cantik di sana. Tapi anehnya, semua istri Bluebeard menghilang setelah hampir setahun lamanya menikah. Mendengar bahwa Bluebeard sangat kaya dan berkuasa, si adik Marie-Catherine berangan-angan ingin menjadi seperti Bluebeard yang kaya dan punya kuasa karena ia bosan hidup miskin dan diremehkan semua orang, dan juga karena ia dan kakaknya Anne menyadari bahwa keadilan di daerah mereka hanya berpihak pada orang kaya yang punya kuasa sedang orang miskin hanya menjadi budak mereka.

Hampir semua barang di rumah mereka telah disita untuk melunasi hutang-hutang almarhum ayah mereka, termasuk harpiscord kesayangan Anne. Karena itulah, ketika Lord Bluebeard mengadakan pesta untuk mencari jodoh, mereka dengan antusias menerima undangan tersebut apalagi dikabarkan Lord Bluebeard akan memilih calon istri baru dari antara sekian banyak gadis muda yang diundang dalam acara tersebut. Meski Bluebeard sendirilah yang mengadakan acara itu, namun ia tak suka membaur dengan tamunya dan memilih duduk menyendiri di tepian sungai di belakang kastilnya. Disinilah ia bertemu dengan Marie-Catherine dan setelah mengobrol sejenak dan merasa cocok, maka Bluebeard pun melamar Marie-Catherine untuk menjadi istrinya yang baru meski dari segi usia, mereka sangat berbeda jauh.

Pernikahan Bluebeard dan Marie-Catherine nampaknya berjalan mulus dan mereka berbahagia. Bluebeard menuruti semua keinginan istrinya dan memanjakannya, termasuk permintaannya untuk tidur terpisah sampai Marie-Catherine sudah lebih dewasa dan membebaskan istrinya untuk memilih sebuah kamar tidur yang sempit di mana ia tak akan bisa masuk karena pintunya terlalu kecil untuk tubuhnya yang gemuk dan tinggi. Bluebeard nampaknya sangat menyukai istri barunya yang dikatakannya memiliki ‘kepolosan dan kemurnian bak merpati namun dengan nyali dan harga diri bagaikan seekor elang.” Sehari-harinya, pasangan ini menikmati kebersamaan mereka dan Bluebeard bertindak lebih seperti seorang ayah dan mentor bagi istrinya yang masih sangat belia ini daripada sebagai seorang suami.

Tapi, karena urusan pekerjaan, Bluebeard harus sering meninggalkan istrinya di kastil mereka sendirian. Karena itulah, ia memberikan seluruh kunci untuk membuka semua ruangan dalam kastil tersebut, termasuk ruang harta bendanya, dan mengijinkan istrinya bersenang-senang ataupun berpesta mengundang kawan-kawannya selagi ia tidak ada agar istrinya tidak kesepian. Marie-Catherine mematuhi anjuran suaminya, tapi nampaknya ia tidak bahagia karena merindukan suaminya yang meski bermuka seram tapi ternyata sangat baik hati itu. Dan ia terlihat begitu gembira ketika suaminya kembali.

Suatu ketika, Bluebeard kembali harus pergi ke luar kota untuk urusan bisnis. Ketika hendak pergi, seperti biasa ia menitipkan kunci-kunci seluruh ruangan dalam kastil dan memberikan sebuah kunci emas kecil kepada istrinya seraya berpesan bahwa istrinya boleh kembali mengadakan pesta, bersenang-senang atau pun sekedar berkeliling kastil untuk menunjukkan isinya pada semua teman dan saudaranya. Tapi ia berpesan juga supaya istrinya jangan pernah menggunakan kunci emas kecil yang diberikannya untuk membuka ruangan bawah tanah. Apabila larangan itu dilanggar, maka ia akan menanggung akibatnya. Marie-Catherine berjanji akan mematuhinya dan berkata bahwa kali ini dia tidak akan mengadakan pesta namun hanya mengundang kakak perempuannya, Anne, saja. Namun sore harinya, rasa penasaran membuat Marie-Catherine melanggar larangan tersebut dan membuka ruangan bawah tanah yang terkunci itu dengan kunci emas yang diberikan suaminya. Dan disanalah, ia menemukan rahasia mengerikan yang selama ini disimpan rapat oleh suaminya, rahasia yang seharusnya tidak boleh ia ketahui…


Review

Film Bluebeard ini adalah film asing berbahasa non-Inggris keempat yang saya tonton setelah Fanfan La Tulipe, Sissi Trilogy, dan Ludwig. Nama-nama pemerannya sendiri maupun sutradaranya Catherine Breillat kurang dikenal luas kecuali bagi mereka penggemar film non-Hollywood/Eropa dan di kalangan murid-murid sekolah seni.

Dibandingkan dengan dongeng Perrault lainnya seperti Puss in Boots alias Kucing Bersepatu Bot, Sleeping Beauty alias Putri Tidur dan Cinderella, dongeng Bluebeard memang kurang populer sehingga tidak banyak atau jarang yang mengetahui kisahnya. Sosok Bluebeard sendiri kabarnya didasarkan pada seorang ksatria Perancis di abad ke 15, Sir Gilles de Rais. Menurut legenda, setelah ia pensiun dari dunia kemiliteran, Gilles de Rais menjadi kecanduan okultisme, terutama terhadap ritual terlarang pemanggilan setan. Dia dituduh telah melakukan ratusan tindak pembunuhan, terutama terhadap sejumlah anak yang dinyatakan menghilang. Gilles de Rais diadili dan dihukum mati dengan digantung pada 26 April 1440 di Nantes, Perancis    

Film buatan Perancis tahun 2009 yang disutradarai oleh sutradara wanita Catherine Breillat ini memang bertemakan fantasi pula karena diambil dari dongeng karangan Charles Perrault di tahun 1697 yang berjudul Barbe Bleu alias Bluebeard. Tapi jangan diharapkan film ini memakai special effect yang megah seperti film-film Hollywood berbasis dongeng lainnya seperti Red Riding HoodSnow White and the HuntsmanHansel and Gretel the Witch Hunters atau Jack the Giant Slayer dikarenakan bujet yang terbatas. Film ini naskahnya juga ditulis oleh Catherine Breillat sendiri sebab ia mengakui sudah lama memimpikan untuk bisa membuat film ini dengan gayanya sendiri karena Bluebeard adalah dongeng favoritnya sejak kanak-kanak walaupun ia juga menyadari  bahwa Bluebeard adalah sosok penjahat dan pelaku pembunuhan berantai pertama dalam sejarah.  

Tidak seperti halnya film-film Hollywood bertema serupa, Bluebeard ini lebih mengetengahkan gaya bertutur yang sederhana dan apa adanya, dan lebih mengeksplorasi sisi kelam dalam diri setiap karakter di dalamnya dan sarat juga dengan berbagai kritik sosial yang terjadi di abad pertengahan daripada sekedar menonjolkan special effect. Dalam karakternya, ambillah contoh ketiga karakter utamanya: Lord Bluebeard, Marie-Catherine dan Anne meski yang banyak disorot adalah Bluebeard dan Marie-Catherine.

Berbeda dengan dalam versi asli dongengnya maupun dalam kebanyakan film adaptasi dari dongeng ini, Bluebeard di sini tidaklah digambarkan sebagai seorang playboy ataupun seniman berbakat yang tampan. Justru sebaliknya, sang pemeran Dominique Thomas menampilkannya sebagai sesosok lelaki tua yang gemuk, tidak menarik dan terkesan sabar serta penuh kasih dan sangat baik hati sehingga, walau saya sudah pernah membaca ceritanya dan tahu bagaimana akhirnya, tetap saja saya dibuat sukar untuk percaya jika lelaki yang seperti ini adalah pembunuh maniak berbahaya sebagaimana yang ditakuti penduduk sekitar purinya. Memang ia punya suatu rahasia kelam namun sayangnya bagian ini tidak dieksplorasi lebih lanjut sehingga terkesan ada yang hilang dari plot seperti alasan Bluebeard dibalik semua rahasia kelam yang disembunyikannya itu.

Dari aktingnya, Dominique hebat dalam menghidupkan sisi lain Bluebeard sebagai tokoh yang lebih simpatik dan manusiawi, yang terpaksa melakukan suatu kejahatan karena ia tidak punya pilihan lain.

Aktris anak-anak Lola Créton sebagai Marie Catherine dapat menampilkan sosok putri yang atipikal sepeti halnya putri-putri tokoh utama dongeng lainnya. Ia bukan anak penurut, manis dan juga pasrah. Lola Créton memerankan sosok Catherine sebagai adik yang pendiam, pemberani, bahkan terlalu berani untuk anak seumurannya, tapi telihat sangat polos dan kecil dan memiliki sifat kejam yang terselubung meski mungkin sifat itu lebih karena didorong oleh keadaan mereka yang miskin mendadak akibat kematian ayah mereka. Semula Catherine adalah sosok yang simpatik. Ia diam saja menerima keadaan dan tidak mengeluh atau menyalahkan siapa pun, dan hanya sesekali marah atau berkomentar sinis. Tapi perlahan keadaan berbalik di pertengahan cerita ketika ia menikahi Bluebeard. Meski tetap terlihat simpatik, Lola perlahan mulai menampilkan sisi gelap Catherine yang ternyata lebih kejam dari suaminya dan tidak dapat menepati janjinya pada suaminya karena ia tidak bisa menahan rasa penasarannya dan merusak kepercayaan suaminya terhadapnya. Menurut saya, kekuatan akting Lola lebih terletak pada sorot matanya, cara bicaranya dan ekspresinya bukan dari bahasa tubuh.
    
Daphne Bawir memerankan si kakak Anne sebagai seorang gadis yang terlihat ambisius, selalu ingin menang dari sang adik tapi sebetulnya sangat menyayangi adiknya meski hubungan mereka kerap diwarnai pertengkaran dan juga cinta-benci. Awalnya kesan Anne di mata saya buruk, karena Daphne menampilkan Anne sebagai anak yang tidak mau mengerti keadaan keluarganya yang bangkrut dan malah menyalahkan ibunya, keadaan mereka dan juga almarhum ayahnya yang dianggapnya tidak adil karena lebih memilih menolong anak orang lain sampai mengorbankan nyawanya; tapi di pertengahan, saya mulai simpati padanya ketika dia menyatakan dia sebetulnya sangat menyayangi adiknya walau kerap bertengkar dan ia kasihan padanya karena adiknya harus menjadi kambing hitam dari semua putri kaya yang hadir di pesta Bluebeard. Dari sosok menyebalkan, Anne berubah menjadi lebih simpatik. Sayangnya karena fokus cerita lebih kepada Bluebeard dan Marie-Catherine, karakternya jadi tenggelam karena jarang disorot lagi.

Dari segi penyampaian cerita, alur berjalan agak lambat sehingga terkesan agak membosankan. Dan nampaknya ada konsep pembalikan karakter di sini terutama pada kedua kakak beradik Marie-Catherine dan Anne. Anne semula ditampilkan sebagai sosok yang tidak simpatik dan menyebalkan berubah menjadi lebih simpatik di pertengahan ketika ia harus berpisah dengan adiknya yang diboyong ke kastil Bluebeard; sedangkan Marie-Catherine yang semula lebih simpatik, perlahan mulai terlihat lebih tidak simpatik dan mulai terlihat bahwa dia tidaklah sepolos yang terlihat.

Musik latarnya juga minim dan hanya memakai satu atau dua track saja yang dianggap sesuai dengan era seting film yaitu medieval karena yang lebih ditonjolkan adalah segi visualnya walaupun jadinya agak garing dan sedikit flat menurut saya karena musik seharusnya dapat membantu membangun suasana yang mendukung dengan isi cerita.

Lalu dari segi moral, Bluebeard ini sarat dengan kritik, sindiran sarkasme, dan juga beberapa pesan moral. Contoh: dalam perjalanan pulang saat Catherine dan Anne lewat di hutan di depan istana Bluebeard. Dengan sinis, sang adik mengatakan bahwa dia ingin jadi istri orang kaya supaya bisa menghukum ibu kepala biara yang telah tega mengusir mereka pulang gara-gara mereka jatuh miskin setelah ayah mereka tiada. Dan ketika mendengar soal hilangnya istri Bluebeard yang kabarnya mati dibunuh suami mereka, Catherine berkomentar mengapa Bluebeard tidak dihukum dan betapa megah kastilnya. Dengan nada yang tak kalah sinis, sang kakak Anne menyatakan kalau hukum itu hanya berpihak pada orang kaya dan orang miskin yang menjadi korban mereka serta selalu di pihak yang kalah.

Dalam hubungan kakak beradik, Anne dan Catherine selalu saling bersaing. Anne iri pada adiknya yang bisa terlihat apa adanya dan berani sedang Catherine juga selalu iri pada kakaknya Anne yang lebih cantik darinya dan ingin menang darinya dalam segala hal sehingga mereka selalu bersaing. Tapi sesungguhnya mereka saling mengagumi satu sama lain dan sangat menikmati persaingan mereka.

Karakter Bluebeard sendiri di sini bukanlah lelaki jahat seperti dalam dongengnya. Terhadap istri barunya, ia berlaku seperti ayah dan guru daripada sebagai suami karena ia menyadari istrinya masih sangat muda. Ia juga sangat menghormati hak dan privasi istrinya yang ditunjukkannya dengan membebaskan istrinya memilih kamar yang disukainya untuk tidur terpisah darinya dan tidak memaksanya seranjang ataupun menyentuh sampai istrinya siap dan berusia lebih dewasa. Ia juga memberikan kunci semua ruangan di purinya kepadanya dan membebaskan istrinya untuk berpesta maupun menghibur diri dengan teman-teman sebayanya selama ia tidak ada di rumah karena ia tahu bahwa dirinya lelaki tua yang mungkin tidak bisa menghibur atau menyenangkan hati istrinya walau dari segi materi, ia dapat memberikan yang diinginkan Catherine. Karena itulah, ia hendak menguji istrinya, apakah istrinya juga menghormati hak dan privasinya dengan menyerahkan kunci emas kecil yang menjadi sumber rahasianya yang paling kelam. Dan ketika istrinya gagal melewati ujian itu, ia menjadi sangat sedih dan kecewa karena istrinya tidak menghormati haknya sama seperti yang ia lakukan terhadapnya…

Cacat lain dalam film ini selain minimnya soundtrack dan alurnya yang lambat, adalah keberadaan narator cerita ini, kakak beradik Catherine dan Anne, yang menurut saya agak kurang nyambung dengan isi cerita Bluebeard sendiri. Meski nama mereka sama dengan nama kakak-beradik dalam kisah tersebut tapi tidak ada irelevansi maupun korelasi antara kisah dalam dongeng itu dengan kehidupan kakak beradik ini di dunia nyata.

Akhir kata, bagi yang suka dengan drama yang diangkat berdasarkan dongeng, bernuansa kelam agak gore, dan berbau dongeng fantasi, mungkin ini bisa jadi pilihan yang cocok untuk anda. Tapi kalau inginnya yang seperti film-film Hollywood yang lebih dahsyat special effect nya daripada ceritanya, saya sarankan mending cari pilihan lain aja deh karena kalau kemungkinan tidak mengantuk, ya pasti bingung nontonnya…tapi pilihan ada di tangan anda pastinya.

Sampai jumpa di review berikutnya!     


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar